Malam itu, langit kelam menutupi kota dengan tabir hitam pekat. Udara terasa dingin, menusuk hingga ke tulang. Di tengah keheningan malam, langkah-langkah terburu-buru seorang pria menggema di sepanjang jalan setapak yang menuju ke rumah megah di ujung kota. Vincent, dengan wajah gelisah dan pikiran yang terus berputar, melangkah cepat menuju kediaman Dante. Ada banyak hal yang meresahkan pikirannya. Terutama tentang sahabatnya itu—Dante, yang sikapnya tiba-tiba berubah tanpa alasan yang jelas. “Ini tidak bisa dipercaya. Aku masih belum bisa kehilangan Dante, meskipun pria itu sangat menyebalkan,” gumam Vincent sambil meremas kerah jaketnya, seolah meredam kegelisahan yang merayapi dadanya. Setibanya di depan pintu rumah Dante, Vincent ragu sejenak. Rumah itu berdiri angkuh, seperti

