Penantian

2435 Kata

Sayup-sayup yang kudengar di sekitarku adalah keramaian. Ada seseorang yang terus memanggil namaku untuk bangun. "Dia sadar, Sus." Sekitarku samar, hal yang kurasakan pertama kali adalah rasa sakit di perut bagian bawah. Bibirku meringis menahan sakit. "Kamu kuat Sayang. Bertahan ya." Suara ini. Aku sangat mengenalnya dan hapal sekali. Ini suara suamiku. Daffin--eh, tapi tunggu. Bukankah tadi yang menolongku saat di kamar Bagas ya, kok bisa Daffin yang berada di sampingku. "Shh!!" Aku mendesis kembali. Rasa penasaranku tentang kejadian itu terkalahkan oleh sakitnya kontraksi. Bukannya aku mengharapkan Bagas yang menemaniku lahiran. Tapi aneh aja gitu. Coba kalau di posisi aku, apa yang akan kalian pikirkan? "Daf, aku bisa lahiran normal, kan?" Daffin mengangguk, tangannya mengepal t

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN