Daffin mendekatkan bibirnya ke bibirku. Hembusan napasnya semakin terasa di wajahku, dan aku hanya memejamkan mata, bersiap menerima perlakuan Daffin selanjutnya. Sebuah benda basah dan kenyal bahkan sudah menempel di bibirku. Oke fix, ciuman pertamaku diambil sama suami sendiri. Aku masih memejamkan mata, menantikan Daffin melakukan sesuatu. Seperti melumat misalnya. Tapi benda kenyal basah yang tadi menempel di bibirku bahkan sekarang malah tak terasa. “Emmhh.” ‘Lho? Daffin belum apa-apa kok udah ngedesah aja.’ Setelah sepersekian detik tidak merasakan tanda-tanda mau ciuman, aku pun membuka mata, ternyata Daffin malah memejamkan mata sambil mengerutkan alisnya. Posisi dia masih melingkupi tubuhku. “Kamu kenapa, Daf?” Aku bangkit, kemudian membaringkan tubuh Daffin di sebelahku dan

