Setengah jam berlalu mataku masih betah melek. Menoleh kearah samping malah melihat Daffin yang tidur telentang sambil memejamkan mata. Aku merubah posisiku jadi menyamping, memandang wajahnya yang dipahat begitu indah oleh Sang Pencipta. Alisnya tebal, hidungnya mancung dan bibirnya yang sedikit berwarna pink alami, kalau bulu matanya dia sih nggak lentik, tapi pas banget di padukan sama matanya. Daffin itu jarang senyum, sekalinya lihat dia senyum pasti tipis banget. Aku yakin, kalau dia sedikit boros sama senyumnya pasti keliatan makin cakep. Sayang, pelit banget dihemat juga paling ya. Aku menghembuskan napas perlahan, Daffin nggak senyum aja aku udah klepek-klepek, gimana kalau dia senyum makin lebar, makin bucin kali ya aku. Aku mengulurkan tangan, mencoba mengusap dahi dan rambut

