Sudah sepuluh menit berlalu sejak kepergian Anandita. Tapi Nalendra masih belum bisa melenyapkan bayangan perempuan itu dari kepalanya. Ia tahu ini gila. Gila karena dia ternyata bisa terpikat langsung dengan seseorang. Hal yang selama ini ia tidak pernah percaya bisa terjadi. Lebih gilanya lagi hatinya ini tidak tahu diri bisa jatuh hati pada perempuan yang hatinya sudah milik orang lain.
Sialan!
“Guys.”
Nalendra memejamkan mata sejenak. Tenang, ia harus tenang.
“Kenapa lo? Tiba-tiba muka lo serius banget.”
Nalendra menoleh ke kanan. Keningnya mengerut samar, penasaran dengan wajah Zafar yang persis seperti perkataan Nazid, serius.
“Ada hal yang selama ini gue hide dari Anandita. Dan gue tau ini b******k banget,” lirihnya pelan. Nalendra bahkan harus menajamkan telinga untuk mendengar.
“Apa?” tanya Omar yang rautnya juga ikut serius. “Lo tau, kan itu cewek baik banget ke lo. Jadi gue harap sesuatu yang lo hide dari dia bukan hal yang buruk,” sambungnya dengan suara berat. Berbeda sekali dengan dirinya yang tengil beberapa saat tadi.
Dan Nalendra, hanya diam memperhatikan.
“Udah lah. Nanti aja. Ada Nalen di sini.” Nazid menunjuk Nalendra, membuat tiga pria itu menoleh ke arahnya sesaat dan seakan baru tersadar ada orang lain di antara mereka saat ini.
“Kenapa?”
Nazid tersenyum lebar. Ia menepuk pundak Nalendra. “Lo anak baik. Ucapan si kampret ini nantinya bisa ngotorin pikiran lo,” ucapnya menunjuk Zafar dengan telunjuk. “Jadi, lupain aja. Dia emang sering ngigau kayak tadi.”
“Anjir ya lo,” maki Zafar menendang pelan kaki Nazid. Dan disambut gelak tawa darinya.
Nalendra tidak menyahut apapun lagi. Ketika topik diganti pun, ia hanya ikut berbincang tanpa semua orang tahu kalau masih tersimpan dalam otaknya dan masih bersemayam dalam hatinya akan rasa penasaran tentang hal yang disembunyikan Zafar dari Anandita.
Sebab, dalam seperkian waktu yang singkat. Nalendra yang berbaur dengan Zafar Dkk, dapat menarik kesimpulan kalau Zafar bukanlah pria sebaik yang ia bayangkan, setidaknya untuk urusan percintaan. Entah dorongan dari hati atau pikirannya yang ingin mendekati Anandita, tapi yang jelas ia menilai dari logika.
“Jadi lo ke club kemaren itu? Parah lo. Jadi, itu cewek nggak minta pertangunggjawaban?”
“Sialan! Lo nyium berapa cewek di sana?!”
“Brengs*k.”
“Bangs*t!” Ketiganya tertawa memegangi perut. Lelah karena perbincangan mereka yang mungkin kedengaran lucu.
“Len. Lo kok diem aja, sih?” Omar yang tawanya hampir reda, melihat ke arah Nalendra yang hanya ikut tersenyum. “Lo keliatan suci. Tapi nggak suci-suci amat. Ngaku, deh,” ucapnya memaksa.
Nalendra tersenyum mendengar pertanyaan Omar. Ia memang bukan sesuci yang dipikirkan orang-orang. “Bener. Gue memang nggak sesuci itu,” akunya enteng. Tiga pria itu tergelak lagi.
“Jadi, udah berapa cewek?”
“Apanya?”
“Yang lo tidurin.”
Lagi, ia tersenyum. Pertanyaan yang sudah sering masuk ke telinganya. Alasannya karena katanya ia punya wajah-wajah tipe pria br*ngsek. Benarkah? Padahal ia tidak merasa begitu.
Nalendra pun kemudian menatap muka-muka penasaran itu dengan raut misterius. “Itu rahasia,” lirihnya yang hampir membuat tiga pria di sampingnya hampir melayangkan tinju karena rasa penasaran yang tak terindahkan.
***
Pagi yang super sibuk. Nalendra dengan dua teman perempuan serta satu teman laki-lakinya mendatangi sebuah gedung dari instansi keuangan milik swasta yang cukup bergengsi di sana. Gedung yang memiliki delapan lantai dengan bentuk unik landai di bagian badan dan atap gedung itu menjadi tempat bagi mereka berempat untuk mengabdi selama sebulan penuh demi mendapatkan nilai magang.
“Kadang, gue mikir kenapa enggak di semester lima aja gue magang. Kalau udah gini, males tau nggak?” gerutu Resta, pria berkulit tanned yang sering menuai pujian sebab wajahnya yang manis.
Nalendra menoleh sekilas lalu kembali fokus ke jalanan di depannya. Ia menambah sedikit kecepatan mobil seraya berkata, “nggak ada gunanya lo sesalin yang udah lalu.”
“Gue emang males, sih kalau bicarain hal kayak gini ke lo,” sahut Resta berdecak pelan. “Tapi ngomong-ngomong. Lo harusnya magang di DPRD, kenapa tiba-tiba minta bareng kita-kita?” Resta memutar kepalanya ke kanan, penasaran jawaban dari pertanyaannya.
"Nggak papa."
"Benci banget gue sumpah."
Nalendra terkekeh. "Lo kenapa, sih? Kan udah gue jawab."
"Terserah lo aja deh, Len." Resta mendecakkan mulutnya, kesalnya sudah tidak ketulungan. "Tapi btw. Lo lagi jatuh cinta atau begimane? Tumben amat muter lagu bucin kayak gini." Mata Resta melirik head unit yang memutar lagu Zayn Malik dengan judul Let Me.
Sebelah tangan Nalendra memutar kemudi memasuki pelataran gedung United Finance, tempat mereka magang. "Kalau gue bilang iya, lo percaya?"
"What the f*uck! Pindah agama gue kalau percaya sama lo. Nggak mungkin lah." Resta menggeleng tidak percaya. "Tapi, bener kan? Lo bohong?" tanyanya pelan. Soalnya muka Nalendra sekarang tidak ada bercandanya sama sekali.
"Lo dikasih tau malah nggak percaya. Bagus lo nggak usah nanya sekalian." Nalendra memarkirkan mobil di pelataran belakang gedung, tidak di basement karena ia malas.
"Tapi, siapa? Bukannya lo sebulan lalu baru putus dari Miranda?"
"Lo tau istilah move on?"
"Secepet ini?!" Resta berseru tidak percaya. Ia lalu cepat-cepat keluar dari mobil sebelum Nalendra menguncinya dari luar. "Tapi yauda gue percaya. Terus next question, siapa ceweknya?" tanyanya sambil berusaha mensejajarkan langkah dengan Nalendra yang sudah lebih dulu jalan.
"Lo bakal tau nanti," sahut Nalendra.
Dan begitu mereka masuk dari pintu samping, mereka langsung bertemu dengan dua teman magang lainnya, Milia dan Serena. Dua perempuan yang berasal dari kelas lain, namun satu jurusan dengan Nalendra dan Resta. Jadi, mereka kenal, tapi tidak bisa dibilang dekat seperti teman karib.
"Kalian lama banget. Ini udah jam berapa? Jam masuk kantor delapan lima belas, kalian datang delapan dua puluh," protes perempuan berambut hitam lurus sebahu, Milia.
"Udah-udah. Kita langsung ke resepsionis aja." Serena menengahi. Perempuan dengan gaya cool dan rambut diikat kencang di belakang kepalanya itu menatap Resta. "Lo yang punya ordal, kan, Res? Lo yang ngomong, ya."
Resta mencebikkan bibirnya, mengangguk, dan memberi gestur 'oke' dengan jemarinya. "Ikut gue, anak buah sekalian."
Milia dan Serena saling tatap. Milia menggeleng jengah dan Serena hanya tertawa. Sementara Nalendra jalan paling belakang. Ia hanya ikut saja ketika pegawai resepsionis mengantarkan mereka ke lantai dua, menuju ruang paling ujung di sebelah kanan, menemui Pamannya Resta yang bekerja di bagian HRD.
Cukup lama sebenarnya mereka berdiri karena pamannya Resta menghubungi entah siapa saja dulu sebelum menyuruh mereka berempat naik ke lantai sepuluh, lantai teratas gedung ini.
"Kita nemuin siapa tadi kata om lo?"
"Bu Hesti. Dia direktur keuangan dan investasi di sini," jawab Resta membolak-balik lembaran kertas yang menyatakan mereka boleh magang di United Finance. Ia kemudian mendongak menatap tiga temannya. "Tapi gue nggak bisa jamin kita ada di divisi yang sama. Bisa juga kita di divisi yang sama, tapi beda sub unit," ucapnya agak khawatir, bersamaan dengan bunyi denting lift dan pintu pun terbuka perlahan.
Tepat di depan mereka, berdiri dua perempuan dengan name tag yang di kalungkan di leher. Membuat empat anak magang itu langsung bisa menyadari jika mereka sedang berpapasan dengan pegawai pertama di lantai dimana mereka akan mengabdikan diri.
"Pagi, Kak," sapa Milia dan Serena bersamaan. Mereka berdua jalan keluar lebih dulu diikuti Resta dan Nalendra di belakang. Dan pintu lift kembali menutup.
"Kalian mau magang di sini?" tanya seorang dari dua perempuan tadi. Telunjuknya terangkat mengarah pada almameter yang mereka kenakan.
"Bener, Kak."
"Oh, kalau gitu harus ketemu Ibu Hesti dulu, ya."
"Iya, Kak. Ruangannya di mana, ya?"
"Agak rumit sih kalau diarahin doang." Perempuan itu menatap temannya yang dari tadi diam di sampingnya. "Lo bisa ke bawah sendiri, Dit? Gue mau arahin adek-adek ini. Takutnya nyasar. Mana orang-orang masih dikit yang dateng, kan."
Anandita menatap Friska malas. "Bukannya lo tadi yang minta gue temenin ke bawah?" ucapnya sebal. "Tapi yauda deh. Gue yang ambil paket lo," putusnya akhirnya. Yah sebenarnya mau mendebat Friska, tapi tidak mungkin. Anandita harus jaga image di depan anak-anak magang yang pastinya akan ada di kantor mereka, setidaknya selama satu bulan.
Friska tersenyum unjuk gigi, mengucapkan terima kasih tanpa suara. Ia lalu menatap empat orang di depannya. "Oke. Ayo ikut. Biar kakak tunjukin ruangannya. Bu Hesti kayaknya juga udah dateng kok," ajak Friska semangat. Sementara Anandita yang mendengar Friska mengangungkan keseniorannya itu merasa mual seketika.
Telunjuk Anandita terangkat hendak menekan tombol lift, akan tetapi kalah cepat dengan seseorang yang sudah menekannya lebih dulu darinya.
Mengernyit, Anandita menoleh ke samping. Pelakunya Nalendra. Pria itu hanya menatap Anandita dengan senyum tipis yang lagi-lagi membuat Anandita kesal tanpa sebab.
"Kita ketemu lagi."
"Jari gue masih bisa bekerja." Telunjuk Anandita teracung. "Gue masih bisa tekan sendiri," ucapnya tak ada ramah-ramahnya sama sekali. Tepat detik itu, pintu lift terbuka. Untunglah, tampaknya lift berada di sekitaran lantai atas hingga tak butuh waktu lama pintunya terbuka.
Anandita segera masuk tanpa babibu. Juga tidak mengucapkan terima kasih, balas senyum Nalendra pun tidak. Ia lalu berdiri di belakang pintu ketika sudah menekan angka satu. Tatapannya dengan tatapan Nalendra terpaut lama. Entah kenapa Anandita tidak bisa mengalihkan pandangannya, seolah Nalendra menghisapnya masuk ke dalam maniknya yang dalam itu. Sampai pintu lift tertutup baru Anandita tersadar. Ia buru-buru menggelengkan kepalanya, memukul pipinya pelan supaya sepenuhnya sadar.
"Aish, lo gila, Dit."
***