Sakit Hati tak Berkualitas

1085 Kata
Bel istirahat telah berbunyi, tanda semua murid harus keluar dari ruang kelas. Peraturan memang tidak membolehkan murid SMAN Nusa Bangsa untuk berada di kelas. Ketika istirahat, kelas harus steril, tak boleh ada murid yang berada di dalam. Kelas hanya tempat belajar, bukan yang lainnya, begitulah aturan yang dibuat. Aisyah mengajak Adinda pergi ke masjid untuk melaksanakan Sholat Dhuha. Aisyah menyadari betul bahwa sahabatnya ini sedang kesempitan hatinya, maka dari itu ia mengajak Adinda untuk menghadap pada Allah. Karena dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenang. Sesampainya di masjid, mereka pun berwudu di tempat khusus wanita. Dari air yang mengalir dan ia usapkan pada beberapa bagian tubuhnya, Adinda merasa fresh. Ibaratkan satu ketenangan mulai merajalela di relung hatinya. Setelah itu, segera mereka masuk ke dalam masjid dan melaksanakan Sholat Dhuha. Tak lama setelah itu, datanglah Faqih seorang diri sambil melihat heran ke dalam masjid. “Loh, kok ada dua cewe? Biasanya kan Aisyah sendirian. Apa ini, yang dimaksud bolehnya berpoligami, asalkan adil?” gumam Faqih yang lantas menggelengkan kepalanya cepat-cepat. “Astagfirullahal’adzim. Gue apa-apaan sih? Aisyah udah cukup kok, buat dibersamai menuju surga.” Faqih pun segera berwudu untuk melakukan hal yang sama seperti Aisyah dan Adinda. Baru saja Faqih masuk, Aisyah dan Adinda justru telah selesai. Sholat Dhuha pagi ini adalah yang pertama bagi Adinda setelah sekian lama tak pernah melaksanakannya lagi. Selama itu pula ia merasakan kehampaan di dalam hati. Saat hati diisi oleh Rendy, justru malah membuatnya tertekan karena terus memikirkan. Adinda menghampiri Aisyah, masih dengan mukena putih yang ia kenakan. “Sakit hati, Syah,” curhatnya pada Aisyah sambil menunduk penuh penyesalan. Aisyah sedikit ragu untuk menasehati. “Euu… kamu sakit hati? Itu karena hati kamu terlalu berharap pada dia. Dia yang sebenarnya bukan siapa-siapa kamu. Dia yang sebenarnya belum halal buat kamu miliki. Karena pada hakikatnya berharap pada makhluk itu sudah pasti akan mengecewakan di akhirnya.” “Aku tau, Syah. Karena saat ini aku merasakan kekecewaan itu. Aku benci sama Rendy, tapi luka itu bener-bener berbekas di hati, Syah! Di sisi lain aku benci, di sisi lain aku masih sayang karena dia pernah ngasih cinta dan harapan.” Aisyah berfikir sejenak. “Eum. Kok aneh, sih? Kamu udah disakitin, udah dijatuhin sama dia tapi kok, masih aja cinta?” Mendengar pernyataan itu, Adinda merasa malu, terpukul dan kecewa berat karena telah memberikan seluruh harapan pada Rendy. “Aku gak tau, Syah. Sebelumnya aku gak pernah ngerasain sakit hati karena cinta. Menurut aku, lebih baik cinta itu tak pernah terbalas. Daripada terbalas namun akhirnya menyisakan luka yang akan berbekas.” “Udahlah, Din. Lupain aja yang namanya Rendy itu. Kamu udah tau kan, dia itu gimana? Kamu memang gak berhak buat mencintai dia. Dia belum halal buat kamu. Dia udah ngajak kamu sama-sama terjun ke jurang kemaksiatan. Dan sekarang, saatnya kamu bangkit dan kembalilah pada Adinda yang selalu mempertahankan prestasi karena Allah.” “Dan satu hal lagi. Prestasimu jauh lebih berharga dan harus selalu diperjuangkan. Karena ia akan membawamu kepada kesuksesan. Sedangkan cinta yang salah, hanya akan membawamu ke dalam jurang kekecewaan. Jangan korbankan waktumu untuk pacaran. Masa depanmu terlalu cerah jika harus kau pupuskan dengan berpacaran.” Saat itu juga Adinda memeluk Aisyah. Setidaknya motivasi sederhana dari Aisyah mampu mengobati sedikit luka di hatinya. Yang harus dilakukan setelah terjatuh memang bangkit. Karena berlarut di dalam kesedihan hanya akan menggelapkan masa depan cerah. Sedari tadi, Faqih memang menguping semua pembicaraan Aisyah dan Adinda di balik tirai yang memisah antara tempat sholat pria dan tempat sholat wanita. Karena tirai itu bergerak, Aisyah merasakan kejanggalan. Ia pun membuka tirai itu ke atas dan tampaklah Faqih yang tengah mengarahkan telinga ke arah mereka. Aisyah marah bukan main. Tindakan menguping pembicaraan orang adalah tidak sopan dan tidak seharusnya dilakukan. Faqih tersentak kaget saat melihat Aisyah berada tepat di hadapannya. “Kamu nguping?” Tanya Aisyah. Faqih menggelengkan kepalannya cepat. “Hah? Enggak, kok. Ini, eum,” Faqih mengusap-ngusap tirai. “Ini tirainya kotor, makannya dari tadi aku bersihin di sini. Kan, kebersihan itu sebagian dari iman.” “Banyak alesan!” “Dih, galak banget sih, Aisyah. Aku kan, gak sengaja.” “Tuh kan, bener, kamu nguping?” “E-enggak. Ini tirainya emang kotor, dan harus dibersihin. Kebersihan itu sebagaian dari iman, menikah itu termasuk menyempurnakan sebagian iman, dan kamu itu iman. Imut dan manis kalo lagi ngambek.” Faqih bangkit dari duduknya dan segera berlari menuju keluar dari masjid. “Kabuuuuuuurrrr….” *** Hampir saja Faqih menerima semburan amarah Aisyah seandainya ia tidak melarikan diri. Bukannya merasa bersalah karena telah menguping pembicaraan orang, Faqih justru malah tersenyum dan tertawa sendiri mengingat kejadian tadi di masjid. Jujur saja, wajah Aisyah ketika marah memang lucu, imut dan manis. Tak salah juga ia memanggil gadis itu iman sebagai singkatan dari imut dan manis. Selain itu Faqih juga semakin sadar, bahwa pacaran itu memang merugikan dan hanya akan mendatangkan kesakitan. Tekadnya sedari awal memang menikahi Aisyah, bukan mengajaknya pacaran. Lagipula, untuk apa pula pacaran? Sedikitpun tak ada keuntungannya. Jika dengan memiliki pacar akan menambah semangat pergi ke sekolah, maka apa masih yakin tujuan datang ke sekolah untuk belajar? Karena memiliki seseorang yang belum halal tak akan pernah menjadi sebuah kebenaran. Ia akan menjadi kesalahan terbesar sampai kapanpun. Dan ending dari itu semua sudah pasti sad. Bel masuk sudah berbunyi. Faqih segera duduk di bangkunya dan melihat Rendy masih melamun tak jelas. Apa jangan-jangan si Rendy dari tadi ngelamun? Kalo kemasukan gimana? Batin Faqih. Faqih pun menepuk keras pundak Rendy hingga Rendy benar-benar terperanjat kaget. “Astagfirullah, apaan sih, Qih? Ngagetin aja, lo!” “Widiih, sejak kapan lo beristigfar, Ren?” Rendy kembali melamun dan menatap nanar papan tulis kosong yang ada di depan kelas. Sekali lagi Faqih menepuk pundak Rendy. “Istigfar, Ren! Sadar!!!” “Diem ah, lo bukannya bantuin gue balikan sama Adinda, malahan bikin gue kesel.” “Yahh, ngambek lo gak elite, Ren! Sakit hati lo gak berkualitas tau, gak?” Ucapan Faqih kali ini membuat Rendy berpaling dari lamunannya. “Maksud lo gak berkualitas apa?” “Ya iyalah gak berkualitas! Sakit hati gara-gara diputusin cewe kan udah biasa, Ren bagi lo. Biasanya juga sejam abis putus lo langsung cari lagi cewe.” “Ini cinta yang beda, Qih! Lo gak akan ngerti karena lo emang gak pernah ngerasain suka ke cewe. Mungkin baru akhir-akhiran ini lo suka cewe.” “Alahh, tetep aja sakit hati lo gak ada gunanya!” “Maksud lo dari tadi apaan, sih, Qih?” “Sakit hati itu, kalo hati lo jauh dari Allah. Lo gak akan pernah nemuin ketenangan seandainya lo gak pernah deket sama Allah!” Rendy terpaku dan mencerna kata demi kata yang cukup masuk ke hati itu. *** TBC. Adakah yang bisa memberi jawaban. Berapa persen perbedaan cerita KAJC yang sekarang dan yang dulu? Salam, Saifa Hunafa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN