Ngeselin tapi Baik

1317 Kata
Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakaatuh. Hay Readers.... Siapa kangen cerita ini, berikan komentarnya hehe. Happy Reading... ___________________________________________________ Ya iyalah aku di depan. Nanti kan, aku imam kamu dan kamu makmumnya *** Malam ini, mungkin adalah malam yang panjang bagi Aisyah. Setiap pertemuannya dengan Faqih, selalu saja teringat. Membuatnya sulit menutup mata untuk beristirahat malam itu. Ia masih terdiam dengan sisa air matanya. Kemudian, terbayang lagi saat pertama kali melihat lelaki bernama Faqih. Mulai dari saat Faqih dihukum di lapangan basket oleh kepala sekolah, hingga membuat Aisyah terkekeh di dalam hati. Sampai setiap perkataan Faqih yang selalu saja tentang menikah, yang membuat Aisyah tak mengerti dengan maksudnya mengatakan itu. Bagi Aisyah, Faqih adalah lelaki aneh yang baru ia temui di dunia. Astagfirullahaladzim, Ya Allah, apa yang sedang aku pikirkan? Astagfirullah, astagfirullah, batin Aisyah yang tak henti beristigfar. Jantungnya berdegup kencang lagi. Semakin ia berusaha melupakan, kenapa ia justru malah semakin ingat? Ia begitu khawatir, jika apa yang ditakutkannya selama ini terjadi. Ia pernah berjanji pada dirinya agar tidak mencintai makhlukNya terlebih dulu. Namun, dengan keadaannya saat ini, bisakah ia berlari agar perasaan itu tak datang padanya? *** Pukul 01.30 Astagfirullah..., batin Aisyah lirih saat ia terbangun dari tidurnya dan lantas membaca do'a bangun tidur. Segera ia pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Aisyah melaksanakan sholat tahajud dengan khusyuk. Di dalam sujud panjangnya ia berdoa. Meminta. Dan memohon ampunan Rabbnya. Ia menangis hebat di hadapan Sang Pencipta. Mengeluarkan seluruh isi hatinya pada Allah. Sungguh ia selalu akan merindukan ini. Saat ia bisa berduaan dengan Sang Pencipnyanya. Di akhir sholatnya, ia mengangkat tangan. Meminta kebaikan pada Sang Pemberi. Ia masih menangis, melanjutkan tangisannya ketika bersujud tadi. Dia merasakan kehadiran Allah saat itu. Ia merasa Allah begitu dekat. Dia merasa... betapa besar cinta Allah bagi makhluk lemah sepertinya. Rabbi... Betapa banyak dosa-dosaku padaMu, tapi Maha Baiknya Engkau yang selalu memberi ampunan seluas-luasnya. Sungguh tak pantas bagi diri ini mengingkari segala nikmatMu Ya Rabb. Rabbi... Cinta ini masih belum seberapa dibanding cintaMu pada seluruh makhluk. Maka biarlah hati ini hanya terpaut padaMu. Wahai Sang Pemilik Hati... Aamiin. Ia membersihkan wajahnya yang basah oleh air mata. Tak lama setelah itu, terdengar suara ketukan pintu kamarnya. "Iya, masuk!" ucap Aisyah sedikit berteriak. Lalu masuklah seorang gadis yang sangat ia kenal. Tentu saja, itu kakaknya. "Kamu kenapa, Syah?" tanya Almira, kakaknya sambil duduk di sampingnya. Aisyah memeluk hangat kakaknya itu. Aisyah kembali menangis. "Kak... Aisyah takut," ucap Aisyah. Almira mengernyitkan dahinya. "Takut kenapa?" "Aisyah takut jatuh cinta." "Loh, bukannya itu wajar ya? Kamu itu udah remaja. Tak salah jika kamu mulai merasakan jatuh cinta." "Kak... tapi, aku takut cinta ku pada Allah berkurang. Aku takut, saat hari-hari yang aku jalani penuh dengan bayangan ikhwan itu. " "Cinta itu fitrah dari Allah. Apa kamu akan menolaknya? Sedangkan itu adalah kehendak Allah untukmu? Yang kamu harus lakukan adalah, mencoba menomor satukan Allah di hatimu. Cinta itu tidak salah Aisyah. Kamu hanya perlu meletakkan dengan benar Cinta itu di hatimu. Kamu harus berusaha agar hanya Allah yang ada di hatimu." Aisyah semakin terisak. Dia semakin mengeratkan pelukannya. Sebenarnya Aisyah bingung, kenapa ia tiba-tiba merasakan hal yang aneh di hatinya. Dia menolak jika itu adalah perasaan cinta, karena dia tidak ingin itu terjadi. ** Matahari mulai menampakkan sinarnya, maka hari pun akan dimulai. Cuaca hari ini begitu cerah, membuat Aisyah semangat untuk berangkat ke sekolah. "Umi, Aisyah sama kak Almira mau berangkat sekolah dulu ya. Assalamualaikum," ucap Aisyah yang lantas mencium tangan Asma, Uminya. "Waalaikumsalam. Kalian hati-hati ya nak," ucap Asma. Tidak seperti biasa memang Aisyah dan Almira berangkat bersama. Karena Almira biasanya berangkat dari rumah jam 8 pagi, sedangkan Aisyah tentu saja harus dari jam setengah enam karena jam 7 gerbang sekolah sudah ditutup oleh satpam. Almira mengendarai mobilnya dengan kecepatan standar. Sekarang, dia mengantar Aisyah ke sekolahnya. Setelah itu, dia pergi ke kampus karena ada kumpulan dari Komunitas. Setelah sampai di sekolah, Aisyah pun mencium tangan Almira dan mengucapkan salam. Aisyah segera memasuki gerbang sekolah. Dilihatnya, sekolah masih sepi. Hanya baru ada beberapa orang yang berlalu lalang di area sekolah. "Dorr!" Seseorang berhasil mengejutkan Aisyah hingga ia terperanjat. "Astagfirullahal'adziim," ucap Aisyah lirih sambil memegangi dadanya yang beruntung dalam keadaan baik-baik saja. "Hay Aisyah," sapa seseorang yang mengagetkan Aisyah. Aisyah memejamkan matanya. Bagaimana bisa masih pagi seperti ini sudah ada yang mengganggu? batin Aisyah. "Apaan sih?" Aisyah terlihat jutek dan bersikap tak peduli dengan sapaan hangat tadi. Biar bagaimanapun, Aisyah merasa kesal karena telah dikejutkan tiba-tiba. "Loh, jangan judes-judes dong, Aisyah. Jadinya kan, makin manis." Aisyah menghembuskan nafasnya kasar. "Ya Allah Faqih, kamu mau apa, sih?" "Mau jalan bareng sama kamu ke kelas," ucap seseorang yang ternyata bernama Faqih itu. "Ada syaratnya." "Wih, ada syaratnya. Apa?" "Syaratnya kamu jangan ngomong satu katapun sama aku, jangan terlalu deket sama aku dan jangan banyak tingkah!" Waduh! Faqih terlihat tengah berfikir. Cukup berat sekali syarat yang Aisyah beri, padahal tujuannya mengajak bareng karena Faqih ingin berbicara banyak hal pada Aisyah. "Silahkan, kamu jalan duluan. Aku jalan di belakang kamu." Aisyah mempersilahkan. "Ya iyalah aku di depan. Nanti kan, aku imam kamu dan kamu makmumnya," ucap Faqih yang membuat Aisyah memutar bola matanya malas. "Banyak ngomong, deh. Cepetan jalan!" "Marah nih?" Faqih belum jalan juga. "Kalo gak setuju sama syaratnya, ya udah jangan banyak minta!" Aisyah mulai galak. "Kamu ga jago banget sih marahnya? Percuma kamu marah, karena itu ga akan ngurangin cinta aku ke kamu," ucap Faqih seolah tak peduli dengan syarat yang Aisyah buat. Aisyah beristigfar dan mulai melangkahkan kakinya untuk pergi meninggalkan Faqih yang banyak bertanya. Waktunya akan habis sia-sia hanya untuk meladeni ocehan Faqih. Langkahnya seketika terhenti saat Faqih berlari dan menahan Aisyah hingga menampakan diri di depan Aisyah. "Stop! Biar aku duluan jalannya. Seorang makmum itu gak boleh mendahului imam, Aisyah." "Masukin seragam kamu! Dan pake dasi kamu! Jangan cari masalah sama peraturan!" ucap Aisyah dingin. Faqih terlihat menyengir kuda hingga menampakan sederet gigi putihnya yang terselip cabe merah di gigi atas sebelah kanannya. "Cieeee, perhatian, cieee. Calon makmum yang baik itu ya gini." Aisyah segera menginjak kaki Faqih. Biar hanya satu kali injakan, namun itu cukup membuat Faqih berteriak kesakitan. "Aawww! Aduh, sakit!" Faqih tampak memegangi kakinya yang diinjak Aisyah. Sedangkan Aisyah segera pergi meninggalkan Faqih yang masih mengaduh kesakitan. Maafin aku, Faqih. Abis, kamu nyebelin! batin Aisyah. ___________________________________________________ Aisyah menjalani kegiatan belajar dengan penuh kesungguhan. Apalagi tadi pelajaran matematika. Pelajaran kesukaannya. Namun, saat pelajaran itu terasa sulit dan membuat Aisyah bingung, terkadang ia berubah pikiran jadi tidak suka. Ah, suka tak suka, kita memang harus selalu berusaha demi memahami ilmu pengetahuan apapun. Itu prinsip Aisyah. Waktu istirahat tadi, ia tidak keluar kelas. Ia juga tidak melihat Faqih yang biasanya mondar mandir melewati kelasnya hanya untuk melambaikan tangan padanya. Tapi sekarang Faqih tidak ada. Tidak mengganggu, maksudnya. Aisyah saat itu merasa bersalah karena telah menginjak keras kaki Faqih. Lagipula, Faqih memang telah membuatnya kesal bukan main. Bel pulang sekolah pun berdering, tanda bahwa seluruh kegiatan belajar mengajar telah selesai. Lagi-lagi hujan saat pulang sekolah. Aisyah sempat mengeluh. Tapi, keluhannya itulah yang justru harus ia syukuri. Masalahnya, bagaimana cara agar ia bisa pulang? Ka Almira tentu saja pulang sore. Abinya pasti masih bekerja. Jadi? Aku harus menunggu hujan ini reda? batin Aisyah dengan wajah penuh kekhawatiran. "Kamu bareng aku aja." Tiba-tiba Faqih datang ke hadapannya dengan payung besar yang dibawanya. "Faqih? " "Yu! Pulang bareng aku," tawar Faqih. "Ga usah!" jawab Aisyah ketus. "Hey, hujan ini sangat deras. Kamu bisa nunggu lama disini." Aisyah bingung. "Gimana caranya?" "Kamu itu lucu banget sih. Nih, pake payungnya." Faqih menyodorkan payungnya pada Aisyah dan membiarkan dirinya basah oleh air hujan. Aisyah menerima payung itu dengan ragu. "Terus kamu, gimana? Ini payungnya kamu aja yang pake." Faqih tak menghiraukan perkataan Aisyah. "Ayo cepet jalan ke parkiran!" Faqih segera berlari dengan jaket yang sudah basah kuyup. Baik banget, gumam Aisyah. __________________________________________________ LANJUT ATAU ENGGAK, NIH? Jangan lupa vote dan komentarnya berpengaruh buat semangatnya author loh, hehe. Salam, Saifa Hunafa?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN