Satu

1879 Kata
Udara siang ini terasa sangat panas, membuat seorang gadis manis berkulit kusam itu mengusap peluh yang mengalir dari kening menuju rahangnya yang tirus. Gadis bernama Merlian yang biasa dipanggil Melon oleh teman-temannya itu pun menoleh ke arah pria yang usianya terpaut jauh diatasnya. Pria yang memakai topi belel sedang mengipasi wajahnya dengan kain lap yang tak kalah kumal dengan bajunya. “Bang!” tutur Merlian membuat pria yang berasal dari Medan itu menoleh. “Apa kau panggil-panggil?” sungut Ucok, dengan logat khas medannya, meski sudah sejak remaja dia berada di ibu kota ini, namun logat kental itu tak jua mau terpisah dari tutur katanya. “Bolehlah aku menggantikan pekerjaan kau hari ini!” rungut Merlian meniru logat khas Ucok, memang hampir semua kenalannya pasti ikut memakai logat Medan jika berhadapan atau berbicara dengan Ucok, entah latah atau memang mereka suka dengan logat khas itu? “Bah! Memangnya pekerjaan lama kau kenapa? Kapan kau lulus kuliah? Masa mau jadi tukang parkir?” celoteh Ucok seraya mengernyitkan kening dan ujung hidungnya yang besar itu pun ikut tertarik. “Dipecat aku Bang.” “Siapa yang berani pecat kau? Mau kuhadapi sini!” “Mana berani kau, Bang? Yang memecatku itu orang yang memberi kau hutang lima juta dan belum kau bayar sampai sekarang!” “Baba Ahong? Tak berani aku dengannya, menyerah!” ujar Ucok sambil mengangkat kedua tangannya, membuat Merlian hampir menyemburkan tawanya. Memang Ucok ini sudah terkenal sebagai penjaga parkir di minimarket yang berada di kawasan pasar ini. Dari sini lah dia mencari nafkah untuk istri yang dinikahinya sejak sepuluh tahun lalu. Penghasilannya memang tidak besar, tergantung dari orang yang berbelanja di minimarket namun cukuplah untuk sehari-hari, di luar pekerjaan dia menjadi kernet bus yang sekarang sudah jarang beroperasi. “Mana gaji untuk bayar semester akhir ini bang, kapan lulusnya aku?” Kali ini wanita manis berambut sebahu yang dikuncir itu menunduk, memperhatikan sandal jepitnya yang tak kalah miris dengan nasibnya. Merlian memang sengaja tidak bekerja di perusahaan atau minimarket sejak lulus SMA dan memilih bekerja serabutan untuk membiayai kuliahnya karena dia takut tidak bisa konsentrasi kuliah jika dia bekerja. Meskipun mungkin itu hanya alasannya saja, yang pasti dia menyadari kemampuan otaknya yang tidak berada di atas rata-rata. Dia hanya gadis biasa yang tinggal bersama tantenya sejak kecil. Ya dia terlahir dari ibu tunggal tanpa sosok ayah. Seorang ibu cantik yang harus meninggal karena tekananan psikologis setelah melahirkan. Menyusul kemudian nenek Merlian yang meninggal hingga Merlian diasuh oleh tantenya yang memperlakukannya mirip seperti tante tiri. Namun Merlian yakin adik dari ibunya itu menyayanginya. Hanya saja memang dia masih terlalu muda ketika mengurusi bayi yang masih merah itu seorang diri. Bahkan bibinya putus sekolah saat SMA untuk mengurus Merlian. Bukan tidak sayang, namun faktor ekonomi membuat bibinya tumbuh menjadi sosok yang keras. Bertambah galak saat dia memiliki Bayi, saat itu Merlian berusia lima tahun dan dengan gemas dia menggigit tangan bayi tantenya yang membuat sang bibi harus selalu menjauhkan keponakan dari anaknya, pasalnya tangan sang anak sampai membiru karena gigitan Merlian kecil yang memang terkenal sangat aktif itu. “Memangnya bagaimana ceritanya sampai kau dipecat Baba?” tanya Ucok setelah menenggak es teh manis yang dibelinya baru saja. Selama beberapa bulan belakangan memang Merlian bekerja di toko kain di pasar ini, pemiliknya keturunan Cina - Betawi sehingga dipanggil Baba Ahong. Setelah sebelumnya bekerja serabutan, sebagai apa saja, dari membantu menjaga toko, menjaga parkiran atau ikut mendorong gerobak para pedagang, rata-rata pekerjaan kasar yang dia lakukan karena terbiasa sejak kecil berada di pemukiman pasar ini. Dia juga lebih sering membantu tantenya menjaga warung kecil namun karena dia butuh biaya untuk kuliah, dia pun membutuhkan lebih banyak pekerjaan di luar, tidak apa asalkan bisa terbayar biaya semesternya. Namun kini? Dia tidak tahu lagi harus mencari uang ke mana lagi? Padahal dia juga butuh banyak uang untuk skripsi, yang syukurnya dia telah selesai KKN meski dengan gaji minimal di perusahaan kecil tak jauh dari kampusnya. “Bengong pula kau ini! Kesambet tuyul baru tahu rasa!” sungut Ucok. “Lha enak bang kesambet tuyul bisa nyolong duit!” kelakar Merlian dengan tawa lebarnya, menutupi perih di hatinya. “Bah!” “Jadi di toko itu ada kain yang harganya mahal banget, per-meter satu juta, entah benangnya terbuat dari bulu apa? Bulu ketiak kali sampai mahal gitu!” rutuk Merlian. “Bulu bawah kali sampai satu juta se-meter! Lalu?” Merlian sungguh tak kuat menahan tawa ketika dengan serius Ucok justru menanggapi perkataannya tentang perbuluan. “Ya kemarin ada yang beli lima belas meter Bang.” “Harusnya untung besar itu?” “Ish!” decak Merlian, “pasalnya aku salah dengar, kupikir harganya seratus ribu permeter, jadi lah toko rugi, mana orangnya tak balik lagi. Mati lah aku! Gajiku tak dibayarkan baba!” sungut Merlian sambil menendang kerikil kecil yang malangnya berada di ujung sandal jepitnya. “Bodoh kali kau Melon! Tentu Baba marah, berapa pula kerugian yang ditanggungnya, lagi pula mahal kali kain dari bulu ketiak itu! Mau ambil bulu ketiak aku nih! Silakan!” maki Ucok membuat Merlian tidak bisa menahan tawanya lagi. “Padahal rencana gajian mau langsung buat bayar semesteran bang, mana ada utang di rental kemarin ngeprint untuk skripsi, mati aku benar-benar mati kali ini. Dosen pembimbing sudah kirim pesan terus untuk segera mengajukan sidang, mengajukan sidang kan bayar lagi bang!” “Tante kau tak bisa bantu kah?” “Enggak bisa bang, kasian dia juga nanggung anak-anaknya. Si Om kan sudah tak bekerja, bosnya pensiun jadi enggak butuh supir lagi. Om sekarang jadi driver taksi online, itu pun hasilnya harus bagi dua dengan pemilik mobil, lagi pula tante sudah terlalu banyak direpotkan aku bang,” ucap Merlian dengan wajah sedih yang tidak dibuat-buat. “Kasian kali nasib kau Melon,” ujar Ucok bersimpati meski suaranya tetap keras menggelegar. “Kalau ada ibu, nasibku enggak kayak ini kali ya bang?” ujar Merlian getir, meski tetap menyematkan tawa di balik kata-katanya. Ucok menoleh pada Merlian yang masih tetap ceria meski matanya menyiratkan kesedihan. “Ibu kau itu cantik Melon, cantik sekali. Bahkan aku mau kalau disuruh menikahinya dulu sayang ibu kau tak mau denganku yang masih bau pesing!” “Ya, aku lihat foto ibu sangat cantik kulitnya putih bersih, rambutnya lurus hitam,” jawab Merlian. “Kau pun sebenarnya cantik Melon.” “Ya tapi semua orang bohong, sehingga aku tidak cantik,” kelakar Merlian membuat Ucok ingin mensledingnya agar otaknya lurus sedikit. “Kalau kau ada dana untuk merawat diri kau sendiri, pasti lah kau juga secantik ibu kau. Mandi yang bersih, pakai itu- apa body lotion atau apalah itu, keramas jangan tunggu rambut kutuan! Dan pakai bedak yang benar, jangan kau oles tepung beras mak Ijah di wajah kau itu!” “Abang nih! Bukan tepung beras bang, itu bedak ketiak dipakai di wajah biar wangi,” kekeh Merlian. “Macam-macam kau nih! Tuh ada mobil mewah datang, biasanya tak punya receh mereka. Tak biasanya mobil mewah ke pasar, kita keluar saat dia mau tancap gas,” ujar Ucok mengatur strategi, memang jika ada penjaga parkir, biasanya membuat pembeli urung. Karena itu biasanya Ucok duduk agak bersembunyi di sisi minimarket, dan ke luar dari persembunyian ketika kendaraan hendak pergi, persis makhluk tak kasat mata. Mobil besar nan mewah yang harganya mungkin mencapai angka Milyaran itu memang sangat kontras berada di minimarket kecil di pasar itu. Sang pengemudi dengan pakaian safari ke luar dari mobil dan bergegas masuk ke dalam minimarket, membeli beberapa barang yang sangat dibutuhkan dan keluar segera setelah membayar. Sopir itu pun masuk ke mobil dan menyalakan mesin mobil, di saat yang sama Merlian keluar dan meniup pelutinya. “TERUS! YA!” ujarnya dengan suara keras. Sopir itu membelalakkan mata dan menoleh ke belakang, “astaga ada makhluk gaib!” ujarnya seolah berbicara dengan diri sendiri. “Makhluk gaib?” tutur seorang yang berada di kursi penumpang belakang, pria berpenampilan perlente, kemeja mahal dengan dasi yang disematkan penjepit bermerk yang harganya mungkin setara dengan harga sebuah motor besar. Wajahnya bersih dan tampan dengan hidung mancung dan mata besar yang tajam, alis yang tebal namun terlihat sangat rapih. Bibirnya merah, bukti tak pernah tersentuh kapas rokok. “Iya, Pak. Itu tukang parkir seperti makhluk gaib, tidak terlihat tahu-tahu ada saja,” ujar sang sopir membuat majikannya ikut menoleh, tampak olehnya seorang gadis dengan topi lusuh yang sudah mengangkat sebelah tangannya untuk memarkirkan kendaraan mahal itu. Sebersit senyum muncul di bibir sang pria seolah ada sebuah ide masuk ke otaknya yang membuatnya seharian ini murung. Ide spektakuler yang mungkin akan menyelamatkannya. Sang sopir memundurkan mobilnya mengikuti instruksi dari gadis cempreng yang terus menyerukan kata ‘terus-terus’, itu. Saat berada di samping gadis itu, pria tampan tersebut pun menurunkan kaca mobilnya membuat sang sopir yang sudah merogoh uang lima ribuan lecek dari sakunya mengurungkan niat dan menatap bingung kepada tingkah majikannya yang tak biasa bergaul dengan orang yang berada di kalangan bawah seperti ini. “Hei!” sapa sang majikan kepada gadis itu, membuat sang sopir hampir tersedak kekagetannya sendiri. Gadis itu memajukan wajahnya dan menatap pria tampan itu dari dekat, aroma parfum tercium di hidung sang gadis membuat hidungnya bergerak-gerak. “Ada apa, Bang?” tanya gadis penjaga parkir itu. “Nama kamu siapa?” “Melon, Bang kalau mau ngobrol jangan di sini, lihat tuh motor pada klakson!” sungut Merlian sambil membungkuk pada pengendara motor yang tidak sabar karena mobil besar itu tak juga melaju. Pria tampan itu justru membuka pintu mobilnya. “Masuk, saya mau menawarkan pekerjaan” ujar pria itu. Mendengar kata pekerjaan membuat Merlian tak berpikir ulang dan ikut masuk ke mobil yang bahkan baru pertama kali disentuhnya ini. Sopir melajukan mobil itu menuju tempat yang sedikit lega sesuai instruksi Merlian yang tahu seluk beluk pasar. Setelah mendapat tempat agak kosong tepat di depan ruko yang tak berpenghuni itu. pria tersebut kembali menoleh ke gadis bernama Melon itu. “Nama aku Gustave, aku mau menawarkan pekerjaan untuk kamu jika kamu mau,” ucapnya. “Mau lah kalau enak sih, kebetulan butuh buat bayar semesteran dan skripsi!” ujar Merlian tak tahu malu. “Nama asli kamu Melon?” tanya Gustave tanpa berniat menjabat tangan Merlian yang tampak kotor itu. “Merlian. Ngomong-ngomong kerja apa?” “Pura-pura jadi pacar saya, hanya satu kali pertemuan dengan orang tua saja, setelah mereka menolak kamu tentu tugas kamu selesai.” “Berapa bayarannya? Tidak ada sentuhan fisik dan lain sebagainya ya?” “Tentu.” Meski dalam hati Gustave berkata ‘saya juga tidak sudi menyentuh kamu.’ “Saya bayar kamu sepuluh juta, mau?” tanya Gustave sambil tersenyum meyakinkan. Tanpa pikir panjang Merlian menjulurkan tangannya membuat Gustave membelalakkan mata, “deal!” ujar Merlian. Gustave terpaksa menjabat tangan Merlian satu detik dan dengan cepat melepasnya. “Kartu nama saya!” ujar Gustave ke sopirnya. Sang sopir segera mengeluarkan kartu nama dan menyerahkan ke Merlian. “Hubungi saya, dan saya akan transfer setengahnya. Silakan turun karena saya harus berangkat kerja,” ujar Gustave. Merlian tersenyum lebar dan turun dari mobil itu, berlari kencang menuju Ucok. Sementara Gustave segera menyemprot tangan dengan hand sanitizer dan menyeka dengan tissue basah lalu menyemprot lagi tangannya dengan cairan mengandung alkohol itu seolah dia telah menyentuh bakteri. Membuat sang sopir menahan senyumnya melihat tingkah sang majikan, yang kemudian dia melajukan mobil itu meninggalkan pasar. . .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN