Tiga

1145 Kata
Pikiran Merlian sangat kacau, Bibi Alda sudah melahirkan satu jam lalu namun bayi laki-lakinya rupanya mengalami kelainan di bagian organ dalam tubuhnya, dia memerlukan tindakan operasi. Dia tak mengerti bagaimana caranya Merlian mendapat uang sebesar ratusan juta rupiah. Bahkan jika rumah sang bibi dijual pun belum tentu mereka mendapat uang sebesar itu lagi pula mau tinggal di mana mereka nanti? Fahri, sang paman pun tak kalah pusing. Dia langsung pergi setelah mendengar jumlah uang yang dibutuhkan untuk menyelamatkan anaknya. Memang masih ada waktu satu sampai dua minggu untuk operasi tersebut. Fahri berjanji akan membawa uang tersebut, Merlian diminta menjaga bibinya yang masih shock mendengar kondisi sang putra. Daffa pun datang, dia hanya berdiam di luar ruangan rawat, tak mengerti apa yang harus dia lakukan saat ini? Di saat seperti itu, Merlian mendapat pesan dari Gustave yang mengatakan bahwa dia akan meminta Merlian menemui orang tuanya besok di kediamannya. Merlian hanya menjawab oke. Hingga Gustave mengirim lokasi salon yang Merlian harus kunjungi sebelum bertemu orang tuanya untuk makan malam keluarga besok. Lagi-lagi Merlian hanya menjawab oke saja. Dia masih duduk terpekur, di dalam ruangan rawat itu menatap sang bibi yang terus menangis. Merlian tak pernah menangis, mungkin tidak sejak dia beranjak remaja. Hidup di kerasnya dunia pasar membuatnya memiliki jiwa yang kuat dan tidak cengeng. “Lin,” panggil sang bibi, Merlian hanya menoleh dengan mata sayu yang persis orang mengantuk dibandingkan orang sedih. “Ya, Tan?” “Om kamu ke mana?” tanya Alda. “Om, sedang cari uang,” tutur Merlian tanpa mau membohongi tantenya lagi pula otaknya sedang buntu untuk membuat skenario kebohongan. “Kamu cari Om,” ucap Alda. “Cari Om buat apa? Buat dijadiin simpenan?” tanya Merlian membuat Alda memukul lengannya, aneh. Padahal bibinya itu terus menangis tapi tetap saja tangannya dengan enteng memukulnya. Merlian hanya mendengus. “Cari Om Fahri, bilang sama dia jangan jual rumah, nanti tidur di kolong jembatan kita! Bilang saja jika memang sudah takdirnya, mungkin memang Tuhan menginginkan bayi tante kembali,” ujar Alda membuat Merlian menyeringai. “Tante mau membunuhnya? Biar aku belikan racun tikus saja Tan, enggak perlu repot-repot dirawat sekalian!” sungut Merlian. “Kamu nih ya! Enggak bisa diajak ngomong benar,” ketus Alda. “Ya lagian tante ada-ada aja, wajar kalau Om Fahri cari uang untuk anaknya, jangan lukai perjuangan om Fahri Tan, mending sekarang Tante tidur aja deh daripada ngomong ngaco, enggak usah pikirkan biaya, lagian sih Om kenapa pakai berhenti bayar asuransi kesehatan segala sih??” “Sudahlah, lagi pula siapa yang tahu akan kejadian seperti ini, kamu pulang saja sana susun skripsi biar cepat lulus.” “Mana bisa konsentrasi Tan, biar aja di sini enak tidur ada AC-nya,” kelakar Merlian. Sementara itu Fahri menuju kantor penyedia asuransi kesehatan pemerintah, dia meminta diberi kemudahan untuk kembali mengikutinya mengingat bayinya yang mengalami kasus cukup serius. Petugas kantor asuransi itu cukup iba dengannya dan mengatakan akan mencoba membantunya, namun untuk itu Fahri harus membayar sejumlah uang untuk tunggakan selama ini. Fahri pun menelepon Merlian dan mengatakan hal yang sebenarnya, sejujurnya dia tak terlalu dekat dengan keponakan dari sang istri karena selama ini dia sibuk bekerja dan Merlian sibuk keluyuran, namun di saat seperti ini, hanya Merlian yang mungkin bisa membantunya mencari tambahan uang. Hal yang tidak diduganya Merlian segera mentransfer uang yang dibutuhkan. Merlian memaksa Alda memakan makan malamnya, dia mengatakan bahwa asuransi kesehatan akan memproses untuk tindakan operasi yang dibutuhkan namun mungkin tidak bisa cepat karena jadwal operasi pasien lain yang lebih darurat itu cukup banyak. Setidaknya Tantenya harus tenang agar tidak drop, tekanan darahnya saja sangat rendah. Merlian khawatir Tantenya kehabisan banyak darah karena stress. *** Hari ini, di siang hari Merlian sudah dijemput sopir Gustave yang belakangan diketahui bernama Jajang. Dijemput di pasar tepat di tempat mereka bertemu kemarin. Merlian hanya mengenakan celana panjang belelnya dan kaos hitam entah bergambar apa karena sudah pudar? Dia duduk di samping pengemudi karena merasa tidak enak. Topi lusuhnya diletakkan di pangkuan. Pikirannya menerawang jauh, dia harus profesional, dia telah memakai uang yang diberikan Gustave. “Sampe Lon, eh bener kan tadi teman-teman kamu teriak panggil Melon?” ujar Jajang, Merlian hanya mengangguk, memang teman-teman pengamen noraknya sangat resek, ketika dia ingin memasuki mobil mereka berteriak memanggil namanya sambil bersorak seolah Merlian menang lotere. “Iya memang Melon panggilan saya, ini di mana?” tanya Merlian memandang ke sekitarnya, bangunan gedung bertingkat yang berada di hadapannya membuatnya sedikit kebingungan, dia terlalu banyak melamun tadi. “Kata Tuan Gustave, Melon diminta perawatan sebelum ketemu Nyonya besar dan Tuan besar,” tutur Gustave. “Badannya besar?” tanya Melon, “tangannya kecil?” imbuhnya membuat Jajang memutar bola matanya malas. “Tyrex??? Bercanda mulu nih Melon, cepat masuk sana,” ujar Jajang tak bisa menahan tawanya. “Takut ah, di dalam ada Gustave kan?” tanya Merlian. “Mas, Mas Gustave, sopan dikit kek Lon, jangan malu-maluin orang miskin kayak kita,” sungut Jajang yang merasa dirinya dan Merlian satu kasta, tingkat paling bawah di piramida kekayaan. “Ish, oke deh. Mas Gustave ada di dalam? Takut ah nanti disuntik!” “Mana ada perawatan disuntik! Eh ada sih, tapi enggak di suntik kali Lon, ya sudah ayo mamang temenin sampai ketemu pegawainya, cepat turun!” ujar Jajang. Merlian tertawa penuh kemenangan, dia pun turun dari mobil itu, meninggalkan topi lusuhnya sesuai permintaan Jajang. Jajang menekan nomor lift ke lantai enam, Merlian hanya bersandar dengan kepala sengaja diantuk-antukkan ke dinding cermin itu, dia merasa sangat malas. Namun dia tahu dia telah membuat kesepakatan. Sesampai di lantai enam, Jajang mengatakan maksud dan tujuan ke tempat ini kepada resepsionis. Resepsionis cantik itu memandang Merlian dari atas sampai bawah dengan senyum lebar, dia memang telah menunggunya. “Ayo nona ikut saya,” ucap resepsinost tersebut. “Caaahhh Nona,” racau Merlian membuat Jajang bersungut, kalau Merlian adiknya pasti sudah disleding tuh, bisa-bisaya meracau di salon mewah ini. Jajang pun meninggalkan Merlian, dia harus kembali ke perusahaan Gustave untuk menjemputnya. Merlian merasa seperti memasuki dunia lain, dunia yang tak pernah dijangkaunya. Salon ini sangat mewah dan luas, beberapa karyawan salon memakai seragam yang sama dengan rambut yang ditata sama, persis seperti pramugari. Mereka tersenyum seolah menyambut merlian, terkecuali staf yang memegang pelanggan. Seorang wanita yang memakai pakaian berwarna merah menghampirinya, terlihat menonjol di saat yang lain memakai pakaian berwarna hitam. “Selamat siang nona Merlian, saya Daifa manager di salon ini, ayo kita masuk ke ruang khusus, untuk menentukan perawatan nona,” tutur Daifa, melihat wajahnya, sepertinya wanita bernama Daifa ini tak jauh berbeda usia dengan Merlian. Merlian yang biasanya ngomong sembarangan itu hanya terdiam seolah semua pemandangan ini membungkam mulutnya. Daifa membawa Merlian ke satu ruangan yang mirip seperti kamar hotel, bahkan ada bathtub di dalam ruangan itu, di sisi jendela ada ranjang yang terlihat sangat nyaman, ruangan bergaya klasik dengan beberapa lilin aromatherapy yang dinyalakan. Merlian sungguh mengagumi ruangan ini. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN