-happyreading-
Sudah berulang kali Aya menghembuskan nafas gusar, pasalnya waktu sudah menunjukkan pukul 07:30. Sedangkan mereka masih berada di pertengahan jalan, dan yang membuat Aya kesal adalah Angga yang dengan santainya membawa mobil dengan kecepatan 45km/jam.Setelah memakan waktu sekitar 10 menit, akhirnya mereka berdua sampai di sekolah. Dengan segera Aya keluar dari mobil Angga, tak lupa sebelum itu ia mengambil koper kecil di bagasi bagian belakang.
Awalnya Aya hanya berniat membawa tas ransel, namun melihat bawaannya yang lumayan banyak akhirnya gadis itu memutuskan untuk menggunakan koper kecil saja. Yang membuat bawaan Aya terlihat banyak adalah cemilan dan minuman ringan untuk ia makan di dalam tenda bersama sahabat-sahabatnya.
Angga menggelengkan kepala melihat tingkah Aya yang menurutnya terlalu berlebihan. Laki-laki itu segera membantu Aya yang kesulitan mengambil koper. Setelah membantu Aya, ia menutup bagasi dan segera menyusul Aya yang sudah berjalan lebih dulu.
Aya berjalan sambil menolehkan kepalanya kekanan dan kekiri untuk mencari keberadaan sahabat tercintanya. Seketika senyum Aya mengembang ketika ia melihat ketiga sahabatnya melambaikan tangan padanya. Gadis itu langsung berlari kecil.
Yang ia bingungkan adalah banyak cewek-cewek alay yang berteriak sambil tersenyum kearahnya. Ralat, bukan kearahnya melainkan pada Angga yang berada di sampingnya.
"Ini gue telat nggak sih?," tanya Aya sambil memandang sekitarnya yang tampak ramai karena di padati oleh murid-murid yang akan camping, serta jejeran bus di pinggir lapangan.
"Pas sih, nggak telat nggak on time juga," jawab Valerie
"Palingan bentar lagi berangkat," sahut Dilta yang hanya di angguki oleh Aya.
"Tapi tunggu!," sanggah Aca
Mereka semua menatap Aca bingung "Kenapa?," tanya Aldo mewakili mereka bertujuh.
"Kok lo berdua bisa turun bareng sih, bukannya kalian rival?," tanya Aca sambil menatap Angga dan Aya secara bergantian.
"Dih, Rival kan dia!," ujar Aya sambil menunjuk Rival yang sibuk menjahili Valerie.
"Yah b**o, maksud gue tuh m.u.s.u.h!," jawab Aca gemes pada Aya yang begonya nggak ketulungan.
"Loh, emang Bang Angga belum ngasih tau kamu Yang?," tanya Ara yang sedari tadi diam.
"Ngasih tau apa?," tanya Aca bingung.
"Kalo mereka berdua itu bakal tmppphhh," Aya membekap mulut Ara dengan kedua tangannya sehingga wajah Ara terlihat merah.
Ara memukul tangan Aya karna ia sudah kehabisan nafas, apalagi Aya membekapnya dengan sekuat tenaga membuat bibirnya terasa sakit.
"Hosh..hosh.. b**o! Kalo gue mati gimana?!," Aya hanya menyegir melihat Ara yang ngos-ngosan.
"Sorry gue gak sengaja," jawab Aya sambil menunjukan jari berbentuk huruf V.
"Jangan ngalihin deh Ya, lanjutin Ra tadi lo mau ngomong apa?," ucap Valerie yang sudah sangat penasaran dengan ucapan Ara yang terpotong.
"Oh, kalian ga tau kalo Bang Angga sama Aya bakal tu---," Ara menggeram kesal saat ucapannya terpotong.
"Temenan"."Tunangan" potong Aya dan Angga bersamaan.
Aya membulatkan matanya, ketika Angga mengucapkan kata 'Tunangan' dengan suara yang cukup besar. Hal itu membuat beberapa murid lainnya melihat ke arah mereka.
"APA?! KALIAN MAU TUNANGAN?!" teriak Dilta dan Valerie bersamaan.
"Wah parah, Pak ketu udah mau tunangan aja," ucap Aldo sambil bertepuk tangan.
"Iya, 'kan Aca ganteng jadi sedih. Kalo Pak ketu tunangan, patner homo Aca siapa dong?," tanya Aca dengan nada yang di buat sesedih mungkin bahkan terdengar menjijikan sambil mengusap ujung matanya dengan lembut.
Angga hanya bergidik melihat kelakuan temannya "Nyesel gue temenan sama lo,"
"Kok, kamu gitu sih Mas? Salah aku sama kamu apa?," tanya Aca yang pura-pura terisak sambil bergelayut manja di lengan kekar Angga.
Angga menepis kasar tangan Aca "Ra, kenapa lo mau pacaran sama spesies kayak dia?," tanya Angga pada Ara yang sedari tadi cekikikan melihat kelakuan absurd pacarnya.
"Karena cinta nggak mandang fisik, mau dia absurd kek, b**o kek, jelek kek, kalo yang namanya cinta gue bisa apa? Lagian juga ya mendingan gue punya pacar absurd tapi setia kayak dia, di banding gue harus punya pacar romantis kalo manisnya cuman di mulut doang," ujar Ara membuat Aca tersenyum.
"Lagian, punya pacar humoris itu enak, kita gabakal stress kalo lagi bareng dia, dan dia bisa menghibur kita dengan cara dia sendiri," sambung gadis itu
"Ahhh makasih Sayangkoeh, kamoeh baik deh," balas Aca alay sambil memeluk Ara.
Mereka semua tertawa melihat tingkah absurd Aca yang cukup menghibur, sampai akhirnya suara yang cukup familiar menggema di lapangan sekolah.
"Seperti yang sudah di umumkan, silahkan kalian memasuki bis sesuai dengan yang saya ucapkan," ucap Pak Ramlan selaku kepala sekolah.
"Kelas XII MIPA 1, satu bis dengan kelas X MIPA 1 di bis 1. Kelas XII MIPA 2, satu bis dengan kelas X MIPA 2 di bis 2, dan seterusnya" sambung Pak Ramlan yang membuat beberapa siswi mendesah karena berharap akan satu bis dengan Angga.
"Untuk kelas X menyesuaikan ya,"
Angga melangkahkan kakinya menuju ke bis 1. Laki-laki itu mengantri di belakang Aya yang sedang kesusahan mengangkat koper kecilnya. Lantas Ia pun langsung membantu Aya untuk mengangkat koper itu.
"Kenapa ga di taro di bagasi?," tanya Angga sambil mengangkat koper milik Aya.
Aya menyengir dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal "Lupa," jawab Aya jujur.
Angga hanya menggeleng dan langsung berjalan menuju bagasi untuk menaruh koper milik Aya.
"Bang Angga kok jadi care gini sama cewek, biasanya dia cuek. Apa dia suka sama Aya?," batin Ara bertanya pada dirinya sendiri yang heran melihat kelakuan Angga terlihat sedikit berbeda. Bukan hanya ia, melainkan Rival, Aldo, dan Aca pun merasakan hal itu.
Aya mendudukan pantatnya di kursi dekat jendela, ia pun mengeluarkan ponselnya untuk membuka i********:. Gadis itu mendongak saat merasa kursi di sampingnya sedikit bergoyang. Ia pun menolehkan kepala untuk melihat siapa yang duduk disampingnya.
"Makasih," ucap Aya sambil tersenyum tulus pada Angga, orang yang duduk di sampingnya.
"Untuk?,"
"Udah naro koper gue di bagasi," jawab Aya yang hanya diangguki oleh Angga.
Tak lama setelah itu, pintu bis sudah tertutup dan bersamaan bersama dengan itu, suara seorang guru menggema untuk mengabsen satu persatu nama yang tertera di kertas putihnya.
Setelah memastikan semua muridnya berada di bis dan tidak ada yang tertinggal, akhirnya sopir bis itu mulai menjalankan bisnya.
"Ngga, kita bakal camping di Bandung kan?," tanya Aya yang hanya di balas deheman oleh Angga.
"Dimana?," tanya Aya lagi.
"Di Puncak Bintang Mukit Moko," jawab Angga tanpa melihat ke arah Aya.
"Ohh," Aya hanya ber-Oh ria sambil melihat Angga yang sedari tadi sibuk bermain ponsel dengan ibu jari yang terus bergerak.
"Pantesan gue di kacangin, main ML ternyata. Eh, tapikan dia emang cuek!," gumam Aya yang masih di dengar oleh Angga.
Merasa bosan, akhirnya Aya memutuskan untuk memejamkan matanya seraya menyenderkan kepalanya di jendela. Sesekali ia menguap karena memang ia masih sedikit mengantuk, ia pun memilih tidur dengan tangan yang menyilang di d**a. Tak lupa sebelum itu, ia memasang earphone putih miliknya di kedua telinganya.
Aya menikmati hawa dingin AC bis serta lagu yang di dengarnya. Sesekali ia membuka matanya saat kepalanya terpeleset karna kaca jendela bis itu lumayan licin.
Angga yang melihat itu pun langsung menghentikan aktifitasnya. Laki-laki itu menarik kepala Aya untuk disandarkan ke bahunya. Ia juga melepaskan jaket yang melekat di tubuhnya untuk menutupi tubuh Aya.
Merasa ngantuk, Angga ikut meletakkan kepalanya di atas kepala Aya dan mulai memejamkan matanya. Aya dapat merasa sesuatu yang sedikit berat menindih kepalanya serta wangi maskulin yang memasuki indra penciumannya, namun rasa kantuknya semakin bertambah sehingga ia tak menghiraukan hal tersebut.