BLANC Ekstrapart

1463 Kata
Naura tidak bisa menghitung lagi, sudah berapa kali dia menghela napasnya dalam satu hari ini. Tapi yang pasti helaan itu sudah terlalu banyak hingga membuat siapa saja yang melihatnya akan tau kalau dia sedang ada beban pikiran. Apalagi dia melakukannya sambil melamun dan mencengkram erat sesuatu ditangannya. "Ada apa? Apa kamu punya masalah?" Naura tersentak kaget. Tidak menyangka kalau Ravael akan muncul dihadapannya, padahal seharusnya suaminya itu masih di rumah sakit. "Kak Ael kok udah pulang?" Naura balas bertanya. "Apakah ada yang ketinggalan?" Ravael menggeleng, dilepasnya jam tangan yang dia gunakan. "Tidak. Tidak ada yang ketinggalan." Jawab pria itu kini menanggalkan kemeja yang dia kenakan dan Naura segera mengambilnya dari tangan Ravel. "Hanya saja aku tiba-tiba tidak enak badan. Kepala aku pusing dan rasanya begitu mual." Mendengar jawaban suaminya, membuat Naura semakin mencengkram erat sesuatu yang digenggamnya tadi. Entah kenapa dia merasa kalau apa yang ditangannya ini berhubungan dengan memburuknya kondisi Ravael. Bukannya Naura mau membunyikannya atau apa, hanya saja dia tidak yakin apakah itu benar atau tidak. Selain itu dia juga kebingungan saat ini karena menurutnya sesuatu yang sedang disembunyikannya ini terlalu absurd. "Jadi, ada apa denganmu?" Ravael mengulang pertanyaannya. "Hah?" Naura terlihat kebingungan. Sepertinya dia terlalu fokus pada benda ditangannya, hingga dia tidak mendengar pertanyaan suaminya. Tidak langsung memberikan jawabannya, Ravael malah menatap Naura dengan alis  kanan yang terlihat naik sedikit. Tapi tetap saja dia mengulang pertanyaannya karena dia ingin mendapatkan jawaban dari Naura. Dan kini pertanyaan itu lebih lengkap lagi dari yang tadi. "Tadi aku melihatmu sedang melamun. Apa ada masalah yang sedang kamu pikirkan?" Gigi Naura segera menggigit bibir bagian dalamnya, dia terlalu bingung harus bagaimana menyampaikan pada Ravael apa yang jadi masalahnya saat ini. Nah, tidak hanya bingung menyampaikannya Naura juga malu karena ini bisa seperti lelucon untuk beberapa orang. "Naura?" "Eh...eoh?!?" Lagi-lagi Naura sibuk dengan pikirannya sendiri, hingga tidak sadar kalau Ravael masih menunggu jawabannya. "Mmmm...sebenarnya aku," Naura kembali terlihat ragu. "Aku hamil." Suaranya terdengar sangat kecil ketika mengucapkan kalimat terakhir ini. Jantung Naura berdetak kencang, kepalanyapun menunduk agar matanya tidak perlu bertatapan langsung dengan Ravael. Karena seperti katanya tadi, dia terlalu bingung untuk menempatkan berita ini dibagian mana. Ah, tidak...tidak... Berita ini jelas berita bahagia buatnya, tapi mungkin tidak untuk Ravael dan orang lain. Untuk kebanyakan orang, hamil di umur yang hampir menginjak 43 tahun bukanlah sesuatu yang biasa. Wajarnya diumurnya yang segini, Naura harusnya memiliki cucu bukan seorang anak. Ah, cucu ya. Dan sekarang dia baru ingat lagi soal Nathan, putranya yang sangat disayanginya itu. Putranya yang akhirnya mau memaafkannya itu setelah dia dan Ravael melakukan banyak usaha dan pendekatan. Hubungan mereka saat ini sangat baik karena akhirnya Nathan mau tinggal bersama mereka. Hingga sekarang  putranya itu belum menikah, tepatnya tidak ingin menikah karena masih mengharapkan wanita yang terlanjur sakit karenanya. Jadi untuk sekarang dia harus ikhlas tidak punya menantu dan cucu karena dia menghormati keputusan Nathan. Lagipula dia mengerti perasaan Nathan, jadi dia akan mendukung apapun mau putranya itu selama itu tidak salah. "Lalu apa yang kamu khawatirkan? Apakah ini karena umur kita yang sudah terlalu tua untuk seorang anak lagi?" Akhirnya setelah diam beberapa saat, Ravael memberikan tanggapannya. Tanggapan yang terasa ambigu buat Naura karena pria itu menyampaikannya dalam bentuk tebakan. Tebakan yang tidak meleset sama sekali karena seperti biasa, Ravael selalu bisa menebak apa yang ada dipikirannya. Sepertinya dia memang seperti buku terbuka untuk suaminya itu. Jadi tanpa menjawabpun, Naura yakin Ravael tau jawabannya apa. Tiba-tiba  saja Ravael memeluk tubuh Naura, sebelum kemudian dia membawanya untuk duduk dipinggiran ranjang mereka. "Kamu tau, aku tidak peduli dengan apa yang akan orang pikirkan dengan kondisi kita." Ucap Ravael sambil menatap mata Naura. "Yang aku khawatirkan malah kondisi kamu karena hamil diusia segini, tidak baik untukmu." Lama Naura terdiam, memikirkan apa yang baru Ravael katakan. "Aku tidak akan apa-apa. Aku akan memastikan dia selamat sampai aku melahirkan nanti." Jawab Naura pasti. Dia sudah belajar banyak hal dari kejadian lalu. Kejadian dimana dia melukai anaknya, hingga titik dimana anaknya tidak menganggapnya. Sungguh Naura  sangat menyesal akan hal itu, sesal yang tidak bisa dia tuntaskan karena salah satu anaknya telah pergi selama-lamanya. Beruntung Nathan mau memaafkan kesalahan dan kebodohannya kalau tidak, Naura yakin dia tidak akan tenang sampai dia mati nanti. Itulah kenapa dia tidak akan melakukan hal yang sama lagi pada anaknya yang lain. Naura berjanji akan memberikan apapun, termasuk nyawanya untuk semua anak-anaknya. Ravael menghela napasnya, membuat Naura kembali fokus pada suaminya itu. "Kalau kamu berpikir seperti itu, seharusnya kamu tidak perlu memikirkan pendapat orang lain karena itu akan membuat kondisimu memburuk." Kata Ravael menyampaikan pendapatnya. "Lalu bagaimana dengan kak Ael, apakah kak Ael benar-benar oke dengan ini?" Tanya Naura untuk meyakinkan dirinya kalau Ravael akan baik-baik saja dengan berita ini. Bagaimanapun image Ravael seterhormat dan sekeren itu dimata orang lain. Makanya dia tidak mau apa yang terjadi pada dirinya jadi bahan olok-olok atau bahkan cemooh untuk Ravael. "Memangnya kalau aku bilang aku tidak oke, kamu akan melakukan apa?" Wajah Naura berubah kaku, terkejut dengan pertanyaan yang tidak terduga dari Ravael. Tanpa disadarinya airmata sudah mulai berkumpul dipelupuk matanya, di tidak berpikir sebelumnya tentang ini. 'Benar, kalau Ravael tidak bisa menerima janin ini, apa yang harus dia lakukan?' Apakah dia harus membuang anaknya lagi demi Ravael? Karena jujur saja, untuk sekarang dia tidak bisa jauh atau berpisah dari suaminya itu. Setelah semua yang terjadi, dia bisa gila kalau pada akhirnya dia berpisah dengan Ravael. Tapi, tidak. Tidak. Dia tidak akan mengorbankan siapapun. Dia akan melakukan apapun agar dia bisa tetap memiliki anaknya dan suaminya. Cukup rasanya dia merasakan kehilangan, dia tidak mau lagi kalau harus merasakannya lagi. Tapi bagaimana kalau Ravael memaksa dia harus memilih? "Kalau memang kak Ravael tidak bisa menerimanya, aku bersedia untuk tidak keluar rumah lagi selamanya. Yang penting kak Ravael tidak membiarkanku melahirkannya dan merawatnya." Naura segera menggigit bibirnya setelah mengatakan itu, berharap air matanya tidak jatuh karena dia tau kalau sebentar lagi akan menangis. Suaranya saja tadi sudah mulai terdengar sengau dan bergetar. Sampai akhirnya dia merasakan Ravael mengetatkan pelukannya pada tubuhnya dan kemudian jatuh di atas ranjang. Sedangkan Ravael berada diatasnya menatapnya dengan tatapan tenang yang sampai sekarang membuat Naura bertanya-tanya, bagaimana bisa menyimpan perasaan pria itu dengan baik. Cup... Ravael lalu mengecup bibirnya. "Terima kasih tidak mengatakan akan meninggalkan aku." Katanya sambil menempelkan keningnya di kening Naura. Sedangkan matanya terpejam dengan wajah yang menunjukkan kelegaan yang amat sangat. "Kamu tau, sejak lama aku selalu bertanya-tanya apakah aku  sepenting itu dihidupmu. Setelah apa yang aku lakukan dulu padamu, aku selalu merasa kalau aku tidak akan pernah mendapat posisi penting untukmu." Naura terpaku, terkejut dengan pengakuan Ravael. Tidak pernah terpikirkan olehnya kalau seorang Ravael akan memiliki perasaan tidak percaya diri juga. Semua tingkah dan sikap suaminya itu tidak pernah menunjukkan perasaan itu ke Naura.Dia pikir Ravael sudah tau sepenting apa posisinya di hidup Naura, setelah dia memutuskan bertahan dengan pria itu. Bahu Naura merosot. Rasa tegang, takut dan khawatir yang tadi dia rasakan tadi hilang sudah entah kemana. Sekarang yang ada dihatinya ada perasaan bersalah karena bahkan sampai sekarangpun dia masih sulit mengerti Ravael. Padahal suaminya itu sudah lumayan banyak berubah sejak mereka memutuskan untuk memulai kembali. "Kak Ael selalu penting buat aku." Kata Naura sambil mengalungkan tangannya di leher Ravael. "Bahkan setelah apa yang terjadi malam itu, aku sadar kalau kak Ael-lah tempat aku bertumpu. Meski aku dengan bodohnya membiarkan kemarahan dan kecemburuan menutup mataku." Jelas Naura sambil menatap Ravael agar suaminya itu tau kalau dia bersungguh-sungguh. Ravael tersenyum tipis, senyum yang sangat cukup menurut Naura untuk membuatnya jatuh cinta lagi dan lagi. Secara perlahan mata Naura terpejam ketika secara perlahan pula wajah Ravael mendekat kewajahnya. Lalu dirasakannya bibir suaminya itu menempel dibibirnya, kemudian bergerak pelan untuk menuntun Naura keciuman yang lebih dalam lagi. "Akkkhhh..." Naura mendesah. Akal sehatnya rasanya hilang setiap kali Ravael menyentuhnya dengan intim. Apalagi ini bukan hanya sekedar ciuman lagi, tapi juga sentuhan dikulit tubuhnya yang jelas sangat peka pada ransangan. Entah kapan Ravael memasukkan tanngannya kedalam kemejanya, tapi yang pasti tangan  itu sudah berada disalah satu dari payudaranya. Ditengah-tengah cumbuan Ravael itu, Naura mencoba mengumpulkan sedikit kesadarannya. "Kakkhhh..." Sambil mendesah dia mencoba menarik perhatian Ravael. "Bukhan...kahhh... tad...i kak Ael.. bilang... kak...Ael tid...ak enak... badhan..." Naura bicara berantakan dan terputus-putus. Ravael melanjutkan cumbuannya. Walau begitu dia tetap menyempatkan diri untuk menjawab Naura dengan suara parau dan seraknya. Katanya, "Aku ini hanya karena kelelahan, atau karena dia ingin memberitahukan keberadannya padaku." Ravael mengelus lembut perut bagian bawah Naura. "Lagipula aku pikir, aku bisa kalau hanya untuk melakukan ini." Tambah Ravael sambil melanjutkan cumbuannya. Dan Naura hanya bisa pasrah dan menikmati semua sentuhan itu karena dia memang menyukainya. Sampai dia ingat sebuah masalah lagi yang perlu dia diskusikan dengan Ravael. Mata Naura langsung terbuka lebar saat itu juga, dicobanya kembali menarik perhatian sang suami. "Kak, bagaimana dengan Nathan? Bagaimana kita harus menyampaikan tentang kehamilanku ini kepadanya?" BLANC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN