BAB 12MULAI "Wanita itu lumayan cerdik juga," jawabku lantas mengajak Bilqis naik ke lantai dua, ke kamarku. Aku memperlihatkan tanah luas di pinggir kamarku pada Bilqis. "Luas sekali tanah ini. Untuk apa?" tanyanya. "Kuburan mereka." Bilqis tampak merinding. "Karena itu, kau jangan cepat-cepat khawatir. Aku telah menyiapkan rumah keabadian mereka, jadi akan kupastikan rencanaku berhasil," lanjutku. "Tapi poison itu kan—" Ucapan Bilqis terhenti saat melihat botol bening berisi setetes poison melayang di atas telapak tanganku. Dia cukup terkejut sekaligus lega. "Jadi kau belum menggunakannya? Syukurlah," ucap Bilqis. "Aku sudah menduga dari awal, bahwa Harum tidak akan mudah terpedaya. Jadi, malam tadi aku hanya membuatkannya s**u biasa tanpa mencampurkan poison ini ke dalamnya. Da

