9

1467 Kata
Karena kebahagiaan setiap orang tua itu sederhana, melihat putra putri mereka bahagia adalah sumber kebahagiaan mereka, berbahagialah maka kebahagiaan orang tuamu akan mengikuti . . . "Maaf sebelumnya Yah, memang iya Lana meminta hal itu, tapi yang Lana maksud itu Aya, bukan Reina, Lana ingin menikahi Aya bukannya Reina Yah" Semua orang terpaku ditempat mendengar penuturan Mas Lana, ini sebenernya gimana sih? Kenapa Mas Lana malah maunya nikahin gue? Trus itu Kak Reina gimana? "Izinin Lana menikahi Aya Yah, Aya bukan Reina" pinta Mas Lana sekali lagi. "Tapi itu udah gak mungkin Nak" Ayah mencoba meraih tangan Mas Lana dan melanjutkan ucapannya. "Kenapa Yah, apa susahnya menikahkan Lana dengan Aya? bukankah Aya atau Reina itu bukan masalah bagi Ayah? Iyakan Bunda?" "Itu gak mungkin karena Aya sudah menikah Lan, Aya sudah menjadi istri orang lain, milik orang lain" gue beralih natap Kak Reina yang udah siap hancur berbarengan dengan pecahnya isak tangisnya. "Kak" lirih gue memberanikan diri. "Maksud Ayah apa? Kenapa Ayah kaya gini sama Lana? Aya gak mungkin udah nikah Yah, Aya cuma boleh jadi milik Lana, Lana cintanya sama Aya, Lana maunya Aya Yah dan Aya gak boleh jadi milik orang lain" Mas Lana yang mulai hilang kendali bangkit dan beranjak mendekat ke arah gue, gue yang ngeliat tatapan Mas Lana langsung kaget dan bangkit berniat menjauh. "Maaf sebelumnya, tapi tidak baik menyentuh istri orang lain seperti ini" tiba-tiba ada tangan yang narik gue kebelakangnya dan berdiri tepat didepan Mas Lana, Pak Azzam ngapain narik tangan gue? "Gue gak punya urusan sama loe, minggir" lanjut Mas Lana meremehkan. "Ini urusan saya karena Aya istri saya sekarang, tanggung jawab saya, milik saya" ngegas banget Pak, Ya Allah kenapa semuanya harus serumit ini? Gue berkali-kali mengucapkan istighfar didalam hati, disatu sisi gue gak tega ngeliat Kak Reina yang udah tertunduk pasrah, tapi disini lain gue juga gak berani ngomong apapun dihadapan Mas Lana, ni dosen satu juga ngapain bawa-bawa kata istri? Milik? Gue bukan barang yang bisa dikasi stempel kepemilikan asal dia tahu. "Lepas" ucap gue sembari narik tangan gue dari genggaman Pak Azzam. "Lan, kamu jangan kaya gini, Aya sekarang memang milik Azzam, lepasin Aya Lan, kamu masih punya Reina, kamu gak kasian sama Reina? Kamu gak kasian sama Ayah Bunda?" Mas Juna ikut nenangin tapi gak ngaruh banyak sama Mas Lana. "Tapi Reina bukan Aya Mas, kenapa kalian semua gak ada yang mau ngerti? Apa karena Lana bukan anak kandung jadi keinginan Lana gak mau kalian turutin? Apa karena Lana bukan anak kandung kalian gak mau ngeliat Lana bahagia?" "Ayah minta maaf" "Ayah" teriakan tiba-tiba gue dan Kak Reina begitu ngeliat Ayah pingsan, kita berdua langsung bangkit mendekat ke arah Ayah dengan isak tangis yang siap pecah. Pak Azzam langsung nelfon ambulans dan ngebawa Ayah kerumah sakit, Mas Juna sama Mas Lana juga gak kalah kalang kabutnya, Bunda sama Kak Reina yang saling menyemangati, gue? Lagi-lagi semua karena gue, gue adalah penyebab keadaan jadi kacau kaya gini, sampai dirumah sakit kita semua cuma bisa duduk nunggu ayah selesai di periksa, suasana bener-bener kacau, "Dek, bawa Bunda makan dulu, Bunda belum makan apapun dari tadi" ucap Mas Juna ke Kak Reina. "Bunda gak laper Jun, Bunda mau nunggu Ayah" jawab Bunda lirih, air mata Bunda udah gak kebendung, pada akhirnya air mata bidadari di hati gue beneran jatuh, berikanlah keluarga hamba kekuatan ya Allah. "Ayah gak akan kenapa-napa Bunda, kita berdo'a yang terbaik untuk Ayah" ucap Mas Juna ngusap pipi Bunda. "Maafin Lana Bunda" Mas Lana juga ikut berlutut didepan Bunda sekarang. "Udahlah Lan, ini juga gak sepenuhnya salah kamu, kita serahkan semua sama Allah, minta yang terbaik untuk Ayah" balas Bunda mengelus kepala Mas Lana sayang, asli kasih sayang seorang Ibu gak akan pernah terbalaskan. Melihat semua keluarga gue menangis, gue hanya bisa menyandarkan tubuh gue di dinding ruang tunggu Ayah, rasanya kaki gue bahkan udah gak sanggup untuk menopang tubuh gue sendiri. "Kamu gak papa Dek? Sini duduk gantian sama Kakak" tawar Kak Reina dengan isak tangisnya, sebaik mungkin gue nahan air mata gue, Ayah selalu bilang jangan nangis disaat Ayah atau Mas Juna gak ada dan sekarang gue gak mungkin egois dengan meminta Mas Juna menjadi tempat sandaran gue disaat Bunda lebih membutuhkannya. "Gak papa Kak, Aya gak papa" balas gue gak kalah lirih karena isak tangis yang tertahan, sekilas Mas Lana juga mulai natap gue lama, sadar dengan tatapan Mas Lana, gue hanya menunduk gak mau diperhatikan lebih lama lagi. Gue mengusap kasar wajah gue sekarang, Umi, Abi dan Ara juga udah pamit pulang tadi, sedangkan Pak Azzam katanya cuma nganterin sampai depan rumah sakit, tapi sampai sekarang belum balik juga. "Insyaallah Ayah gak papa" gue berbalik dan mendapati Pak Azzam berdiri tepat dihadapan gue sekarang, gue hanya mengangguk pelan untuk ucapan Pak Azzam barusan, tapi mendengar ucapan Pak Azzam entah kenapa rasanya air mata gue makin gak tertahan, mengabaikan Pak Azzam gue menengadahkan kepala gue untuk natap langit-langit tempat gue berdiri sekarang. "Menangis kalau memang itu perlu, saya izinkan" "Ini semua karena Bapak, kalau Bapak gak ngelamar saya, semuanya gak akan kaya gini" bentak gue ke Pak Azzam, bukannya marah, Pak Azzam malah ngusap kepala gue pelan membawa tubuh gue masuk dalam pelukannya dan seketika itu pula tangis gue pecah. "Zam, bawa Ayanya makan dulu, Aya juga belum makan apapun dari tadi" suara Mas Juna yang masih bisa gue denger. "Aya gak laper Mas" jawab gue melepas pelukan Pak Azzam. "Tapi kamu juga bisa sakit Dek, jangan terus nyalahin diri kamu sendiri apalagi sampai ngelempar semua kesalahannya sama Azzam, gak baik Dek" bujuk Mas Juna. "Gak papa Mas, biar Azzam aja" sekilas Mas Lana balik natap gue sama Pak Azzam bergantian, tapi seakan sadar dengan tatapan yang dilayangkan Mas Lana, Pak Azzam hanya diam dengan tangan yang membawa tubuh gue untuk berdiri tepat dibelakangnya. Cukup lama kita semua nunggu, akhirnya dokter yang nanganin Ayah keluar, dengan sigap kami semua bangkit dan menemui dokternya. "Gimana keadaan Ayah kami dok?" tanya Mas Juna mewakili. "Alhamdulillah serangan jantungnya hanya serangan jantung ringan, jadi sekarang Pak Lukman sudah bisa dijenguk diruang rawatnya" mendengar penjelasan dokter kita semua serempak mengucapkan Alhamdulillah. "Kalau begitu saya permisi" "Terimakasih Dok" Setelahnya kita semua langsung ngejengukin Ayah, ngeliat Ayah terkulai lemah entah kenapa rasa bersalah kembali muncul dihati gue. "Lana" lirih Ayah pertama kali. "Lana disini Yah" "Maafkan Ayah Nak, ini memang kesalahan Ayah, maafkan Ayah" lanjut Ayah dengan raut wajah bersalahnya. "Gak Yah, Lana yang harus nya minta maaf, Lana yang salah, maafin Lana Yah" "Ayah tahu Ayah salah, tapi apakah boleh Ayah meminta satu hal? Menikahlah dengan Reina" gak cuma Mas Lama, kita semua juga ikutan kaget. "Kalau itu bisa ngebuat Ayah bahagia, Lana bersedia Yah, Lana akan menikahi Reina" jawab Mas Lana pelan, dan senyum Ayah mengembang. Setelah persetujuan Mas Lana, akad nikah Mas Lana dan Kak Reina dilakukan subuh buta kaya gini dan langsung dirumah sakit Ayah dirawat juga, entahlah gue harus sedih atau bahagia tapi gak ada satupun raut wajah bahagia yang terpancar dari wajah keluarga gue saat ini. Gak ada. "Azzam" panggil Ayah. "Saya Yah" Pak Azzam bangkit dari duduknya dan mendekat kesisi Ayah berbaring. "Maafkan Ayah Zam, Ayah tidak bermaksud mengecewakan Nak Azzam, ini bukan salah Aya tapi salah Ayah, maafkan Ayah Zam" "Yah, Ayah ngomong apa? Azzam gak ngerasa Ayah kecewain, semua ini udah takdir Allah Yah, kita semua gak ada yang salah jadi Ayah gak perlu minta maaf ke Azzam, Azam Putra Ayah juga sekarang" "Terimakasih Nak, Ayah titipan putri Ayah ke Nak Azzam, bimbing dan jaga Aya seperti Ayah menjaganya" "Insyaallah Yah" Dari tempat duduk gue, gue tertunduk untuk percakapan Ayah dan Pak Azzam, disaat seperti inipun Ayah masih selalu memikirkan gue, selalu. "Yaudah kita semua ganti-gantian aja jagain Ayahnya, malam ini biar Juna sendiri aja, Lan, bawa Reina sama Bunda pulang, mereka butuh istirahat" jelas Mas Juna yang diangguki Mas Lana, setelah Mas Lana, Kak Reina dan Bunda pulang, tinggallah gue, Mas Juna sama Pak Azzam. "Zam, kalian kalau mau balik hari ini juga gak papa, kasian kuliah Aya sama kamu juga punya kerjaankan? Gak papa kalian balik aja, Aya juga butuh istirahat, insyaallah Ayah gak papa" "Mas gak papa sendiri? Kita bisa pulang besok Mas" balas Pak Azzam yang ditolak Mas Juna, "Yaudah Mas, Azzam pulang sebentar tapi insyaallah lusa Azzam sama Aya pulang lagi jengukin Ayah" lanjut Pak Azzam. "Zam, sebisa mungkin kasih jarak Aya dari Lana dulu, perasaan seseorang gak akan bisa berubah secepat itu" Gue mengusap kasar wajah gue da berjalan duluan masuk ke mobil Pak Azzam, entahlah gue gak tahu harus bereaksi gimana lagi, apa ini cobaan untuk gue? Kenapa harus seberat ini? "Ay, mau saya belikan makan dulu?" tanya Pak Azzam lembut, gue bahkan gak ngerespon sama sekali dan semakin berlarut dengan pemikiran gue sendiri. "Ay, Mas_ "Saya butuh waktu Pak, tolong" gue memejamkan mata perlahan dan Pak Azzam yang mulai melajukan mobilnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN