Salsa melangkah satu langkah lebih dekat. Matanya meneliti wajah Elang dengan saksama, seolah ingin memastikan ia tidak sedang salah dengar atau berhalusinasi. Angin malam berembus pelan di balkon itu, membuat beberapa helai rambut Salsa bergerak tipis. Namun ia sama sekali tidak peduli. Seluruh perhatiannya hanya tertuju pada pria di depannya. "Sebentar..." akhirnya Salsa membuka suara. Alisnya berkerut dalam. "Maksud Bapak apa?" Elang tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri diam, menatap Salsa dengan ketenangan yang justru membuat d**a Salsa semakin tidak karuan. "Tunggu dulu," kata Salsa lagi. Napasnya terdengar sedikit tercekat. "Bapak tadi bilang… Bapak menikahi saya karena penasaran?" Ia menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi bingung. "Penasaran apakah saya bisa bahagia?"

