Flashback

1950 Kata
FLASHBACK Pria dan Wanita sedang berpelukan. Terdengar suara panggilan terakhir bagi penumpang untuk segera menaiki pesawat. “Megumi-chan. kamu sungguh harus pergi?” tanya pria itu, masih dalam pelukan. “iya, kita sudah membahas ini, dan ini sudah keputusanku. Kamu jangan membuatku lemah Jiro-kyun” “iya aku tau, hanya saja aku ragu terhadap diriku sendiri” “aku tidak bisa memaksamu untuk bisa tetap bersamaku, yang pergi hanya ragaku, tapi hatiku tetap untukmu Jiro-kyun” Dekapan mereka melemah, pelukan itu terlepas, Jiro terus memandang Megumi sampai pesawat tujuan Jerman lepas landas. Perasaan takut akan kehilangan menyelimuti benak Jiro, dalam hati dia berjanji akan menepati janjinya untuk terus menunggu kekasihnya kembali ke Indonesia lagi. Jiro melalui hari-hari dengan giat bekerja, pergi pagi pulang malam, bahkan dia mengambil jam lembur untuk tambahan tabungannya. Dia sudah berniat melamar Megumi ketika dia sudah kembali dari masa belajarnya. 1 tahun berlalu, Jiro dan Megumi tetap berkomunikasi lewat chat di HP atau media sosial. Jiro memandangi foto yang dikirim oleh Megumi. Foto kekasihnya sedang menikmati mekar bunga sakura. Dia sedang duduk di atas alas ala piknik memakai yukata berwarna pink dengan motif bunga sakura, sungguh manis sekali dipandang. Kening Jiro mengerut, dia memperbesar foto hingga pantulan cermin yang ada di gambar telihat jelas. Tampak pria yang sedang memegang kamera, sepertinya dia yang memotret Megumi. Ah, mungkin teman sekelasnya, berarti dia pergi dengan beberapa temannya, begitu pikir Jiro. Saat ini di Jepang mungkin sudah jam 9 malam, jadi dia berniat untuk menelepon kekasihnya. Tuuuut…tuuuut.tuuuuut..tuuut.tuuut.. “halo” “halo, kamu siapa?” tanya Jiro. Dari Hp nya terdengar bukan suara Megumi, melainkan suara pria. “halo kamu bisa bahasa indonesia?” “halo iya kak, aku orang Indonesia. Ini kakaknya Gumi-chan ya? Di layar yang muncul tulisan ‘My Bro’” “dimana Megumi?” “dia sedang di toilet kak” “kalian sedang ada dimana?” “oh … ini.. sedang bersantai..” Belum selesai pria itu menjawab, Jiro sudah meminta untuk panggilan video. Dan pria itu menerima permintaannya. “kalian sedang ada dimana? Coba perlihatkan sekeliling ruangan” Dia mengarahkan layar hp menyusuri ruangan, yang ternyata itu adalah ruangan karaoke. Tidak ada orang selain pria itu, berarti Megumi sedang berduaan dengannya, ada kemungkinan Megumi juga sedang mabuk, karena di meja terlihat beberapa botol alkohol. Sedangkan tidak tampak perilaku aneh dari pria itu. Ada kemungkinan pria ini tidak mabuk atau memang sudah tahan dengan kadar alkoholnya. “heeii.. sayang… kamu lagi telepon… dengan siapa? Kamu …jangan macem-macem ya. Aku bakal menghukummu kalau ..kamu selingkuh dariku” Megumi masuk sempoyongan. Panggilan berhenti. “halo!” kata Jiro. Dia menelepon kembali nomor Megumi, tapi kali ini tidak diangkat. ----------2---------- Mata Jiro membelalak, keringat dingin mengucur dari pelipis. Mimpi itu terasa nyata, kenangan pahit tentang Megumi dan dirinya kembali berenang di pikirannya. Matanya menyapu sekeliling ruangan dan ternyata dia masih berada rumah sakit, pandangannya terhenti pada sosok wanita yang sedang terlelap di sofa. Itulah Megumi, mantan kekasih Jiro. Seingatnya, Dokter mengatakan bahwa terjadi benturan di kepala Jiro yang menyebabkan trauma, memorinya akan sedikit berkurang, jadi dia butuh istirahat total untuk bisa sembuh kembali seperti semula. “alikha.. “ Jiro menangis. “maafkan aku sayang, aku nggak bisa jaga kamu dan anak kita. Aku ceroboh” Megumi terbangun karena suara tangisannya, dia memandangi Jiro dari sofa, seakan enggan membiarkan Jiro melepaskan kesedihannya. Megumi maklum karena kehilangan belahan jiwa itu sungguh menyiksa dam menyedihkan. Dia menyesal dulu pernah bermain api dengan cinta Jiro. Dia lebih memilih teman pria nya yang selalu ada disaat Megumi sedang butuh bantuan. Ya, itu memang egois, dan Megumi menyesal setelah berpisah dengan Jiro. Isak tangisan Jiro mulai melemah. Megumi bangkit dari tidur dan menghampirinya. Dia mengusap air mata dan berusaha menenangkan Jiro. “Alikha tidak akan pergi meninggalkanmu” ucap Megumi. “Alikha masih hidup?!” tanya Jiro. “apa kamu nggak ingat perkataan dokter tadi?” Jiro menggeleng. “Alikha masih koma, namun calon bayimu tidak bisa terselamatkan” lanjut Megumi. “Ya Tuhan, anakku” “kamu harus kuat, sekarang kamu harus berjuang untuk sembuh demi istrimu” “thanks. Tapi mengapa kamu ada disini? Bagaimana kamu bisa menemaniku?” cecar Jiro, di otaknya banyak sekali pertanyaan. “sabar, satu persatu tanya nya. Biarkan aku bercerita dari awal” “pada waktu itu aku memang sedang ada di rumah sakit ini untuk memeriksa keluhan sakit di perutku. Sambil menunggu giliran masuk ke ruang dokter, aku menunggu di dekat ruang IGD. Lalu datanglah ambulance, 2 mobil ambulance parkir di depan pintu masuk IGD. Karena penasaran aku mencoba mendekat, dan saat kulihat ternyata kamu dan dari mobil kedua ada istrimu yang juga diturunkan. Petugas medis langsung membawa kalian ke dalam, aku pun ikut masuk, aku mengaku kalau kamu adalah temanku. Setelah melalui beberapa proses dan aku langsung menandatangani untuk operasi, karena kalau tidak langsung operasi maka nyawa kalian mungkin tidak selamat. Pada saat itu aku tidak bisa menghubungi orangtuamu atau orangtua Alikha. Kamu keluar ruang operasi lebih dulu, sedangkan Alikha masih butuh beberapa operasi lagi karena terluka parah. Dan yaah, begitulah ceritanya hingga aku masih disini. Itupun aku harus meninggalkanmu sebentar untuk urusan ku ke dokter” “terima kasih. Maaf kalau aku bersikap buruk saat mengenali wajahmu. Aku shock banget” “it’s okay. Kebetulan aku juga sedang tidak ada urusan, jadi aku akan menemanimu sampai orangtuamu datang” “hhh..baiklah kalau begitu. Apa kamu sudah makan?” tanya Jiro. “belum sempat, aku hanya makan roti yang aku bawa dari tempat kerjaku” jawab Megumi. “belilah makan, jangan sampai kamu juga sakit karena menungguiku” “bagaimana kalau kita berdua keluar, mencari udara segar” “emang boleh?” tanya Jiro. Meskipun sebenarnya itu bukan ide yang buruk. Badan Jiro sudah capek terus berbaring di kamar rawat inap ini. “aku tanyakan dulu ya, sekalian ku pinjam kursi roda kalau boleh” Megumi bergegas keluar kamar. Dan tak lama kembali sambil mendorong kursi roda. “taraaa.. let’s go outsiide..” ajak Megumi. Meskipun masih lemas, tapi Jiro berusaha untuk bergerak, sekaligus melatih tubuhnya yang sudah lama beku dan terkukung dalam kamar ini. Dia perlahan berdiri kemudian berpindah di kursi roda, sedikit mendapat bantuan dari Megumi. Roda mulai bergerak meninggalkan ruang yang dingin dan sunyi. Hari sudah malam, suara derik roda menggema di lorong rumah sakit. Tak banyak penunggu pasien terlihat di luar kamar, mungkin mereka sudah istirahat di dalam. Megumi menyapa para perawat yang sudah mengizinkan Jiro untuk keluar kamar, lalu dia menekan tombol lift. Mereka menunggu lift turun dari lantai 7. Ting…ting…ting…pintu terbuka di lantai 4, dan Megumi mendorong kursi roda untuk memasuki lift. “aku mau melihat istriku” ujar Jiro. Tangan Megumi terdiam, dia berpindah dari angka 1 menjadi angka 2, dan dia menekan tombolnya. “apa kamu sangat mencintai Alikha?” tanya Megumi. “tentu saja” jawab Jiro singkat, cepat, dan tegas. “Alikha sangat beruntung ya” Jiro terdiam. Pintu lift terbuka, Megumi kembali mendorong Jiro menuju ruangan ICU. Setelah berbicara dengan perawat jaga, Megumi membawa Jiro memasuki ruangan. Alikha terbaring diam, alat bantu pernafasan dan beberapa alat lainnya menempel ditubuhnya. Detak jantungnya normal. Jiro menggenggam tangan Alikha. Badannya semakin kurus. Tak kuasa Jiro melihatnya. “sayang, aku datang, maaf aku telat. Apa kamu bisa mendengarku? Tak ada pergerakan, hanya suara mesin pembaca detak jantung yang terus menerus berdenting seiring dengan gambar gelombang stabil yang muncul di monitor. Jiro menahan tangisnya, tangannya menggenggam erat tangan istrinya yang putih dan halus. Rindu berat. Detik berlalu, menit berlalu, tak sadar mereka sudah lama berada di ruangan itu. Jiro tak henti-henti megelus rambut yang terselubung oleh selang, tangannya turun ke pipi, ke leher yang juga dibalut oleh penyangga leher. “permisi, sebaiknya anda kembali ke ruangan, Pak Jiro. Anda juga harus istirahat supaya lekas pulih” ucap seorang perawat yang datang sambil membawa nampan obat. “hhmm.. baik Sus. Sayang aku pergi dulu ya, kamu harus terus semangat hidup ya. Aku tunggu kamu terus” ucap Jiro di telinga istrinya. Megumi kemudian mendorong kursi roda menjauhi ruangan itu, dan mereka pun kembali ke kamar VIP Jiro. “terima kasih Gumi-chan. Sebaiknya kamu pulang dan istirahat, biar Mama Papa yang gantian jaga aku” ucap Jiro sekembalinya ke ranjang. “oohh.. aku nggak sibuk kok, aku bisa setiap hari jagain kamu” “kamu nggak kerja?” “aku kerja, ini aku bawa laptop. Selama kamu tidur aku kerja disini kok. Kasian Mama Papamu kalau harus nungguin kamu setiap hari” Jiro mengambil handphone dan melakukan video call. “halo, Nak?” “ Ma” “alhamdulillah, kamu udah siuman, kamu udah sehat? Atau masih ada yang sakit? Yang sakit sebelah mana? Besok Mama sama Papa ke rumah sakit ya!” “satu satu Ma kalau nanya hehe.. alhamdulillah Jiro masih proses penyembuhan, ya jadi masih sakit semua badannya. Tapi Alikha Ma..hiks..hiks..” “iya sayangku, kamu doa terus buat kesembuhan Alikha ya. Yang sabar, ini takdir Tuhan, kamu nggak usah menyalahkan dirimu sendiri, sudah jalan-Nya. Kamu harus percaya kalau ada rencana baik dibalik musibah ini” “I love you, Mam Paps” “I love you, my baby. Sekarang kamu istirahat aja ya. Tapi Megumi ada disitu kan?” “iya Ma” Jiro mengayunkan handphone ke arah Megumi. Dia menerimanya dan mulai mengobrol dengan Mama Jiro. Jiro mulai mengantuk, efek dari pereda nyeri mulai bekerja. Tanpa sadar dia sudah memejamkan mata dan tertidur. Mata Jiro terbuka, entah berapa lama dia tertidur. Ternyata sudah ada Mama dan Papanya di sofa sedang berbincang dengan Megumi. “Pa, Ma…” panggil Jiro. “ya, Nak” mereka berjalan mendekati Jiro. “maaf Ma, aku tidurnya lama, Mama Papa pasti bosan nunggu aku” “ya enggaklah, Mama Papa bersyukur kamu sudah siuman dari koma. Sekarang kamu tinggal penyembuhan saja. Kamu nggak boleh mikirin hal lain, fokus sama kesehatan kamu” ucap Mama sambil mengusap kepala Jiro. “ya Ma, makasih juga Pa” “yes my boy, kamu kuat kamu pasti bisa sehat lagi” seru Papa sambil memeluk Jiro dan menepuk pundaknya. Mereka terhanyut dengan obrolan santai, terlihat sesekali Jiro tersenyum mendengar cerita Megumi tentang masa lalu mereka saat sedang pacaran. Pintu ruangan diketuk, perawat jaga datang untuk memberikan obat serta suntikan rutin. Mereka bertiga kembali ngobrol di sofa. Jiro melihatnya dari ranjang. Suster mulai memasukkan carian melalui infus, tubuhnya membelakangi Mama Papa dan Megumi. Wajahnya tertutup dengan masker. “Jiro ini aku” bisik perawat itu. Jiro mengernyit. “alik..hmmmp” si perawat membekap mulut Jiro dan membuka maskernya. Memang benar itu Alikha, tapi kenapa Alikha ada disini?. “jangan bicara, dengarkan aku, mengangguklah kalau mengerti” Jiro pun mengangguk. “mereka bertiga tidak suka denganku, Mama Papa mu sudah bekerja sama dengan Megumi. Dia ingin membunuhku. Aku nggak punya banyak waktu, jadi please tolong aku.” Ucap Alikha sembari menyelesaikan suntikannya. “sudah selesai, Sus? Kok lama sekali?” tanya Mama dari tempat duduknya. Alikha kembali memakai maskernya dan menjawab. “sudah selesai Bu, saya tadi merapihkan selang infus saja” Alikha membereskan sampah medis, kemudian keluar ruangan. Sebelum itu sempat dia memberikan secarik kertas dan dikepalkan di tangan Jiro. “hei Sus, tunggu dulu” cegah Papa saat Alikha hendak membuka pintu kamar. “e..i..iya Pak, ada apa?” jawab Alikha gugup. Dia masih tidak berani menatap wajah mereka. “kapan anak saya bisa keluar rumah sakit?” “Pak Jiro masih belum sembuh total, sehingga masih perlu perawatan lagi. Biar nanti saya tanyakan ke Dokter Koko yang menangani Pak Jiro.” “oke, terima kasih ya” “iya, sama-sama”. Alikha kemudian keluar ruangan. Jiro memperhatikan Alikha hingga keluar ruangan. Mereka melanjutkan obrolan itu. Di kesempatan ini, Jiro membuka secarik kertas yang diberikan oleh istrinya. Cek emailmu. Subyek : resep tahu berontak
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN