PROLOG

638 Kata
"Miauw..." Seorang gadis berusia kira-kira dua puluh tahunan menoleh. Matanya berbinar sangat lembut. Kaki yang berbalut boot warna hitam. "Hai Rudolph, apa kau sudah makan? Kau menunggu ku, huuh..."  Sekali lagi kucing hitam legam berusia tiga tahun itu mengeluarkan suaranya. Auman yang seakan mengetahui bahwa gadis itu mengajak nya berbicara.Tangan gadis itu terulur dan meraih kucing yang dipanggil nya Rudolph itu dalam gendongannya. Lalu dengan langkah pelan gadis itu beranjak menghampiri sebuah bangku taman. Gadis itu menghempaskan b****g nya dan memangku kucing hitam itu. Tangan kirinya lalu sibuk mengubek isi tas ransel nya. Dan, sebuah tempat bekal segera terlihat. Lalu dengan wajah terlihat senang, gadis itu menyuap kan sandwich ikan nya pada kucing di atas pangkuannya. "Pergilah. Kita bertemu besok." Gadis itu mengamati kucing hitam bermata biru itu menjauh dan menghilang di balik pohon besar di sudut taman. Sesaat gadis itu termenung. Lalu tangannya menyisir rambut kecoklatan nya yang memanjang. Sejenak dia seperti meneliti ujung rambutnya. Dan dia mengendikkan bahu. Mengangkat kedua kakinya hingga menggantung di udara. Sungging senyum terlihat dari sudut bibirnya. Berulang kali dia mengayunkan kakinya. Tak menghiraukan senja yang turun perlahan membawa semburat jingga bersembunyi di balik tingginya gedung perkantoran Jefferson Corp. Gadis itu berhenti mengayun kakinya. Dia melirik jam di pergelangan tangannya. Dia lalu terlihat meniupkan udara melalui mulutnya. Gadis itu menoleh saat sebuah tawa terdengar dari sampingnya. Seketika gadis itu menjadi cemberut. Seorang pria tua duduk di sampingnya sembari meletakkan sebuah sapu dari lidi di sampingnya. "Apakah Ayahmu mengusirmu lagi, Dear...?" "Hanya karena aku membuat Miss Kim terlalu bersemangat memoles kan lipstik nya." Pria tua itu tertawa. Jelas sekali dia merasa geli. Dia memang menyaksikan tidak hanya sekali apa yang dilakukan gadis itu di kantor Ayahnya. Pria tua tahu, gadis itu tidak pernah menyukai Miss Kimberly Root, sekretaris Ayahnya yang dia pikir genit dan mencoba menggoda Ayahnya. Dan sore ini, saat dia mengunjungi Ayahnya untuk pulang bersama--seperti hari-hari lalu--, lagi-lagi sang Ayah mengusirnya keluar dari ruangan nya, karena dia membuat Miss Kim tak terkendali saat memoles kan lipstik nya menjelang pulang kantor. Miss Kim yang genit berakhir dengan lipstik yang belepotan di wajahnya tanpa tahu kenapa dia melakukan hal itu. "Mark...apa aku terlihat aneh?" Pria tua bernama Mark Spencer itu menoleh dan tersenyum. "Kau selalu cantik dengan caramu sendiri, Dear." "Aku aneh. Dandananku aneh. Aku mendengar para gadis populer membicarakan gayaku berpakaian. Mereka bilang aku penyihir." Mark, pria yang rambutnya sudah penuh dengan uban itu tertawa. "Kau memang seistimewa itu, Dear." Gadis itu mendengus, seakan kesal pada dirinya sendiri. Dia memang menyukai segala sesuatu yang berwarna hitam. Hitam seakan sudah menyatu pada dirinya. Dia selalu merasa aneh kalau dia harus memakai segala sesuatu selain warna hitam. Keluarganya menyerah. Ibunya, Betty Swan Aurora Jefferson jelas mengelus d**a. Nenek nya bahkan menjerit saat awal-awal tahun dia berpakaian hitam. Ayahnya menjadi begitu rewel dengan memberinya pilihan-pilihan warna baju ala anak muda tahun ini. Dan Ayahnya yang tampan itu akan berakhir termentahkan. Dia lalu akan bilang dia seperti sepuluh tahun lebih tua dari usia sebenarnya, hanya karena anak gadisnya menjadi begitu bandel. Dan hanya Kakeknya. Manusia paling tampan se jagad raya--menurut gadis itu--yang mengerti dirinya. Dia selalu menerima apapun pilihan gadis itu. Kakek nya itu idola baginya. Yang menerimanya apa adanya. Yang bangga padanya. Yang selalu bicara lembut padanya. Yang menggendong nya hingga hari ini saat dia ingin terlelap... "Paquita Martha Rose Jefferson--Leandro, d**a mau kita bicara." Paquita--Pita--, menoleh. Ayahnya sudah berdiri menjulang di ujung jalan setapak taman. Mereka harus pulang ke rumah. Dengan 45 menit sesi ceramah Dave Jefferson--Leandro akan mengiringi laju mobil mereka. Pita tersenyum kecut. Mark yang berdiri dan tertawa pelan.  Rudolph, kucing hitam legam bermata satu yang sebiru lautan, tengah mengintip dari balik pohon.  Senja yang tiba-tiba saja telah menjadi gelap seiring lampu taman yang Dan menyala bersamaan. Udara bertiup sedikit dingin. Sebuah pertanda bahwa peradaban manusia akan berganti sejenak, dengan mereka yang menguasai malam. Dunia yang akan bersandingan. Dengan mereka yang tak terlihat. Kecuali bagi mereka yang selalu bisa melihat. Seperti Pita dari kacamata kita... ---------------------------
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN