PART 5

1222 Kata
Pita bergerak canggung. Ibunya duduk di sofa. "Mason sangat manis." Pita tak mendongak atau menoleh pada Ibunya. Pernyataan Ibunya tak membutuhkan penyangkalan apapun. Mason memang seperti itu adanya. "Apa kau akan berkencan dengan Mason?" "Tidak." "Kenapa tidak?" "Dia memang...manis, tapi bukan berarti aku akan berkencan dengannya, Mom." Pita menatap tangan Ibunya yang tiba-tiba saja menggenggam tangannya erat. Pita menghela napas pelan. Kalau sudah seperti ini, pasti ada sesuatu yang serius tengah dipikirkan Ibunya. "Paquita. Kau tumbuh layaknya gadis lain. Tapi Mom selalu menekankan padamu satu hal. Kau ingat bukan?" Pita mengangguk. "Kau istimewa karena kau memang mendapatkannya sejak lahir. Bakat yang...dapat menyulitkanmu kalau kau tidak berhati-hati. Karenanya Mom selalu tekankan padamu agar kau selalu mengendalikan dirimu lebih lagi agar bakat itu...tidak berkembang. Demi kebaikanmu." Pita mengangguk. "Dan karena bakatmu juga, Paquita. Kau harus menemukan seseorang yang bisa mengendalikan dirimu. Mengingatkanmu kalau kau hilang arah." Pita menghela napas. Bagaimanapun juga, Ibunya benar. Selama ini bakatnya itu sedikit memberi kesulitan padanya. Apalagi dia merasa bahwa dia adalah tipikal gadis yang sedikit usil. Seringkali dia merasa keterlaluan, tapi dia tak bisa mencegahnya. "Menjadi manis saja tidak akan cukup untuk mengendalikanmu, Pita. Pria yang bersamamu haruslah yang mampu menguasaimu. Bagaimanapun, menjadi dominan di depan seorang pria bukanlah kodrat kita sebagai perempuan." Dahi Pita mengernyit dalam. Menguasainya? Seorang pria harus mampu menguasainya?Apakah kata-kata Ibunya itu tidak terlalu berlebihan? "Kau punya sesuatu dalam dirimu yang melebihi apa yang Mom punya. Dan...oh...aku tidak ingin memikirkan hal ini, tapi...bagaimana dengan anakmu kelak? Akan seperti apa mereka?" "Aku seperti...aku merasa aku ini dikutuk." "Oh...jangan pernah berpikir seperti itu." Pita menatap tampilannya. Dan seakan Ibunya mengerti apa yang dipikirkannya... "Kau bisa sedikit saja mengubah tampilanmu...kalau kau tidak keberatan." "Aku melihat Granny Steph membenahi bajuku waktu kecil. Dia terlihat sedih. Dia pasti ingin aku seceria waktu itu..." "Well...paling tidak pikirkanlah perasaan Nenekmu." "Oooh...aku juga memikirkan perasaanmu, Mom." Pita melihat Ibunya tersenyum. Pita yakin Ibunya tak percaya padanya. Dia merasa selama ini dia banyak membantah Ibunya itu. Dia tidak pernah mendebat Ibunya, tapi entah berapa kali dia mengabaikan kata-kata Ibunya. Pita mencium Ibunya lembut. "Mandilah. Mom harus ke rumah Nenek buyutmu." "Apakah Nana baik-baik saja?" "Kami akan makan siang di luar. Nenek buyutmu bilang restoran baru Bibi Elena akan dibuka hari ini." "Dan kalian tidak mengajakku?" "Untuk apa mengajak seseorang yang pikirannya tertinggal di rumah? Lebih tepatnya di rumah tetangganya sendiri?" Pita mengikuti arah tatapan Ibunya. Mason yang terlihat sibuk memakai dasi di kamarnya. Pita mengerling. Ibunya pasti tidak akan berhenti menggodanya setelah ini. Pita menatap punggung Ibunya yang berjalan masuk ke dalam rumah. Saat Pita menoleh, tatapan matanya membentur manik mata sendu milik Mason. Mason terlihat kesulitan memakai dasinya. Pita mengedikkan bahu dan Mason mengangkat tangannya pasrah. Pita berbalik mengabaikan Mason. Tanpa menoleh lagi, Pita masuk ke kamarnya dan menutup pintu rapat. "Seharusnya dia tidak menciumku sembarangan. Merusak hariku saja." Pita memukul pelan dadanya yang berdebar kencang. Dia bergegas masuk ke kamar mandi dan berdiam diri di sana. ----------------------------------- Lalu seperti senja yang menyejukkan jiwa, berpuluh senja jingga menyaksikan Pita yang gelisah karena Mason hanya menatapnya dari balkon rumahnya. Mereka tak berbicara lagi satu sama lain selama berhari-hari. Kalau boleh memilih, Pita tidak mau ciuman itu terjadi kalau hanya membuat mereka---dirinya dan Mason---menjalani hari mereka dengan canggung. Dan berpuluh kali matahari datang dan pergi menjadi saksi untuk Pita dan Mason yang pada akhirnya mulai sibuk dengan kegiatan masing-masing. Mereka sesekali hadir di balkon dalam waktu yang bersamaan. Masih tanpa bicara. Pita berpikir...apakah rasa penasaran Mason padanya semudah itu surut? Apakah Mason sudah berhenti mencari tahu bagaimana perasaannya yang sesungguhnya? Dan siang itu di kampus. Pita mengaduh dan nyaris mengumpat karena seseorang menabraknya dengan keras saat dia baru saja keluar dari perpustakaan kampus. "Kau tidak apa-apa?" "Kau pikir saja sendiri." Rasanya baru kali ini Pita merasa jengkel untuk satu hal yang sepele. Buku berserakan di lantai. Bukan hal itu sepenuhnya yang membuat Pita jengkel. Tapi tumpahan kopi pekat dari tangan seseorang yang menabraknya, jelas membuat buku dan bajunya kotor. Dan siapapun tidak akan berkata bahwa mereka baik-baik saja kalau menemukan kejadian seperti itu menimpanya. "Maaf." "Sudahlah. Bisa kau minggir?" Pita membenahi bukunya. Dan sosok yang menabraknya itu membantunya. "Sudahlah. Terimakasih." Pita mendongak dan membeku. Yang menabraknya adalah seorang pemuda dengan wajah sedikit pucat yang sangat misterius. Wajahnya sangat tampan walau terlihat aneh. Rambutnya hitam legam. Rahangnya tegas. Matanya coklat redup dinaungi alis yang melengkung sempurna. "Aku mahasiswa baru..." "Oh...baiklah. Aku permisi." Pita mengabaikan pemuda itu yang berulang kali meminta maaf padanya. Pita merasakan hawa dingin tiba-tiba menyergapnya. Perasaan itu jelas belum pernah dirasakannya sebelumnya. Pita bergerak dan menarik tangannya yang sejenak bersinggungan dengan tangan pemuda itu saat dia menerima bukunya dari tangannya. Dia merasa tidak nyaman. Sesuatu yang berbahaya seakan begitu dekat. Sedekat hidup dan kematian yang nyaris tak berbatas. "Auramu sangat hangat Nona..." "Dan kau...sudahlah." Pita berbalik dan melangkah cepat menjangkau halaman parkir perpustakaan kampus. Pita mengusap tengkuknya berulang kali. Pemuda itu jelas mengirimkan sesuatu yang membuat tengkuknya merinding tak nyaman. Pita membuka pintu mobilnya. Dia sedikit kerepotan dengan banyaknya buku yang dia bawa. Sejenak dia berdiri lalu merunduk memasukkan buku-bukunya ke dalam mobil. Lalu semua seakan terjadi begitu cepat. Teriakan orang-orang yang ada di dekat Pita membuat Pita menegakkan tubuhnya. "Kau baik-baik saja?" Pita sedikit terkejut. Apa yang dilakukan oleh pemuda yang tadi menabraknya? Dia memegang erat sebuah tas ransel yang kelihatan begitu berat. Dan belum sempat Pita bertanya, beberapa pemuda datang dengan napas terengah. "Maafkan aku. Kami bercanda dan tas Jake jatuh dari lantai 3. Apakah ada yang terluka?" Pemuda yang memegang tas berwarna hitam itu terlihat menunduk. Tangan kanannya mencengkeram erat tas yang baru saja jatuh dari lantai 3 itu, sedang tangan kirinya terkepal sempurna hingga otot-otot tangannya terlihat jelas. Sepertinya pemuda itu tengah menahan amarah. Pita merasakan sesuatu keluar dari dalam diri pemuda itu dan siap menghancurkan apapun. "Tidak ada yang terluka. Ini tasmu." Pita meraih tas dalam genggaman pemuda di sampingnya. "Maaf." Pemuda bernama Jake menerima tasnya dan meminta maaf. "It's okay." Segerombolan pemuda itu berlalu. Begitu juga dengan beberapa mahasiswa yang tadi mulai berkerumun. Pita melirik pemuda di sampingnya. "Siapapun kau...jangan menyebabkan kegaduhan di sini." "Aku hanya ingin melindungimu. Aku Aaric Bentley." Pita mengernyit. Mengapa dia merasakan nada kepemilikan yang begitu pekat akan dirinya saat pemuda bermarga Bentley itu memperkenalkan dirinya? Pita merasa ada bahaya menyergapnya pelan. Bagai kabut tipis yang samar dan nyaris tak terlihat mencoba masuk ke dalam pori tubuhnya. Pita tak mengalihkan tatapannya pada Aaric Bentley yang juga menatapnya lekat. "Seperti serigala yang menemukan mate--nya. Seperti Alpha yang menemukan Luna--nya. Sebentar lagi, dalam hitungan jam. Bulan akan bersinar penuh. Saat itulah mereka akan bersatu. Kita." Pita memundurkan tubuhnya. "Apapun itu. Jangan mengusikku." Pita masuk ke dalam mobil dan melajukannya keluar dari pelataran parkir. Dia merasakannya. Tatapan pemuda aneh itu menusuk. Pita menggeleng. Mencoba mengenyahkan apapun itu pikiran buruk yang menyergapnya. ----------------------------------- "Apakah pemuda berambut hitam itu yang mampu membuat kau merubah keputusanmu? Kau memakai warna selain hitam." Pita mendongak. Mason dengan segala pesonanya yang meruntuhkan seluruh logika Paquita, berdiri di balkon. Pita menunduk menatap dress putih berandanya. Dia memang memakai dress itu. Dress yang dihadiahkan oleh Neneknya sebulan lalu. Tapi...bukan karena... "Pemuda yang mengobrol lama denganmu tadi di kampusmu. Siapa dia?" Pita mendongak. Apa itu? Apakah nada cemburu terdengar dari suara Mason? Pita menarik kedua tangannya ke belakang tubuhnya. Tubuhnya mulai bergerak pelan ke kanan dan ke kiri. Salah satu cara dirinya menikmati rasa itu. Rasa cemburu Mason padanya. Dan Mason? Lihatlah. Pemuda itu terlihat gemas karena Pita justru mengabaikan pertanyaannya. Mason semakin terlihat gemas saat Pita justru mengulas senyum simpul di bibirnya. "Dia...pemuda itu. Yang dekat denganku sekarang..." Pita mengamati setiap perubahan raut wajah tampan Mason. Hatinya bersorak. Bahkan di kepalanya sekarang terdengar suara musik orkestra yang membahana mengalunkan melodi indah yang begitu selaras. Musik itu terdengar semakin indah saat... Mason mengangkat tangannya dan mengatakan.... "Diam di tempatmu Paquita Jefferson!" Pita menatap Mason yang berbalik dan melangkah cepat masuk ke kamarnya....  -------------------------------    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN