Aksa pulang membawa kecemasan dalam dirinya. Cemas memikirkan keadaan orang tua, Diva yang divonis penyakit serius, juga Emily yang menuntut perceraian darinya. Dia ingin sekali berlari dari masalah, atau bersembunyi dari kenyataan jika bisa. Namun, dia sadar satu masalah tidak akan selesai dengan membuat masalah baru. Kali ini, Aksa memutuskan akan menghadapinya walau risiko terpahit yang didapatnya. “Papa?” Langkah Aksa terhenti ketika melihat sepasang mata dengan kilat kemarahan terpancar jelas di hadapannya. Detak jantungnya berpacu lebih cepat, tangan sang ayah sudah terangkat tinggi ingin menyambar sasaran tepat. Aksa terpejam, dia sudah pasrah apabila mendapat tamparan keras dari Yasa lagi. Namun, setelah beberapa detik berlalu. Tidak terjadi apa-apa. Aksa memberanikan diri kem

