Aksa mulai terusik dari alam bawah sadarnya sekitar sepuluh menit kemudian. Saat pandangannya menyapu sekeliling, masih terdapat beberapa jenis bunga dalam ruangan ini. Aksa pun terbangun dan meraba pelipis serta belakang kepalanya yang terasa sakit, tapi sekarang jauh lebih baik ketimbang dia dipukuli sebelumnya. “Udah bangun? Lama banget, kirain udah mati.” Suara bocah itu kembali terdengar lagi oleh Aksa. Matanya menyipit melihat sesosok bocah lelaki yang tengah duduk di sofa sebelahnya sambil bermain game di ponselnya itu. Rambut dan warna matanya mengingatkan dia dengan Emily. “Kamu lagi. Siapa kamu, huh? Kenapa kamu bisa ada di sini?” tanya Aksa. “Loh, malah nanya lagi. Yang ada Om siapa? Dari tadi setiap ketemu bikin perkara terus. Masih bagus cuma pingsan, nanti-nanti kalau n

