Im Sorry, Daddy

1637 Kata
Aksa berjalan menuju lantai bawah rumah. Tampak di sekelilingnya masih sepi, atau memang selalu sepi lebih tepatnya. Tidak ada anak kecil berkeliaran, orang tuanya sibuk bekerja, dan Emily? Aksa melempar senyum tipis ketika pandangannya bertumpu pada seorang wanita muda yang tengah mempersiapkan makan malam. Langkah pelan Aksa hampir tidak bersuara, sampai Emily belum menyadari kehadirannya dari arah belakang. “Sst!” “Eh ... Aksa, ihhh!” Aksa merespons cepat ketika sebuah piring hampir terlepas dari pegangan Emily. Belum lagi cubitan Emily di lengannya yang harus dia tahan. “Sakit, Emily! Apa kamu mau bunuh saya, hah?” tanya Aksa ketus seraya mengusap lengannya. “Sejak kapan nyubit tangan bisa bikin mati?” Emily tidak ingin kalah. Dia mengambil kembali piring dari tangan Aksa lalu ditata di atas meja makan. Aksa mengabaikan perkataan Emily barusan dan duduk di kursi sekaligus mencuri pandang pada istrinya. Dia melakukan itu sangat hati-hati dan tidak ingin menjatuhkan harga diri di depan Emily jika ketahuan tengah melihatnya. “Udah keluar kamar, emang udah baikan?” tanya Emily. “Iyalah. Saya bukan kaum lemah, cuma sakit sedikit doang, gak bakal berpengaruh apa-apa. Beda sama kamu yang manjanya kebangetan!” jawab Aksa menekankan. Dia pun mengambil beberapa buah anggur sebagai pembuka menu makannya malam ini. Bibir Emily mengerucut, cemberut mendapat jawaban itu. “Nyesel udah nanya,” katanya kemudian seraya menyiapkan seporsi makanan untuk Aksa. “Dimakan dulu, sebelum papa pulang. Aku gak berani jamin kamu dapet makan kalau ada papa nanti.” “Emangnya papa pulang kapan?” “Tadi bilangnya udah di jalan, makanya aku cepet nyiapin makanan. Takut papa keburu dateng.” Mata Aksa membulat sempurna. “Loh, kalau gitu kenapa nggak bangunin saya dari tadi? Kamu kayaknya emang bahagia banget kalau saya kena marah papa!” kata Aksa panik. Dia segera mengambil beberapa suapan ke mulutnya begitu cepat. Aksa tidak akan lupa kalau dirinya tengah menjalani hukuman. Apa lagi sekarang kemarahan Yasa cukup serius, Aksa berusaha untuk tidak membuat masalah baru. Emily pun duduk di seberang meja, dia belum menyentuh makanan apa pun. Menunggu Aksa selesai. “Kenapa?” tanya Emily sewaktu Aksa berhenti mengunyah dan menutup mulut. “Perut saya sakit.” Aksa menekan perutnya yang terasa mual ingin muntah. Padahal, Emily sudah menyediakan bubur khusus hanya untuknya. Aksa pun menerima segelas air putih hangat dari Emily. “Seharusnya bilang dulu kalau perut kamu sakit. Aku bisa sedia obat sebelum makan tadi. Kamu tunggu dulu di sini sebentar, aku ambil obatnya di belakang.” Aksa menggelengkan kepala. “Nggak usah. Kamu lupa? Saya nggak bisa minum obat.” “Aksaaa ....” Aksa seolah mendapat tekanan kuat dari suara Emily yang pasti hendak membujuknya. “Ini obat cair, kok. Mama yang ngasih resep sebelum pulang ke Indonesia. Aku tau kamu nggak bisa minum pil,” kata Emily pelan. “Aku ambilin dulu, biar perut kamu enakan.” Aksa hanya bisa terdiam melihat Emily begitu sigap berlari kecil menuju dapur. Dia sadar, Nayla—ibunya, adalah seorang dokter. Nayla sangat tahu kebutuhannya jika keadaan ini datang. Pandangan Aksa berpindah ke arah lain ketika mendengar langkah seseorang mendekat. Tampak seorang pria bertubuh tegap dengan setelan jas masih lengkap menatap ke arah Aksa. *** “Sejak kapan kau sakit?” tanya Yasa yang duduk berseberangan dengan Aksa di ruang keluarga. Akhirnya mereka berdua bertemu kembali. Aksa pikir ayahnya akan marah besar dan mengeluarkan kata mutiara level pedasnya. Namun, kenyataannya berbanding terbalik. Sikap tenang diambil Yasa. Hanya sedikit aura dingin dirasakan Aksa, dia tahu masih terselip amarah pada raut wajah itu. “Tadi pagi,” jawab Aksa singkat. “Aksa boleh istirahat di rumah, ‘kan?” “Menurut kamu?” Aksa menunduk tidak menjawab. Yasa menghela napas berat. “Ini udah dua bulan, Sa. Apa masih belom sadar apa kesalahan yang kamu buat?” “Aksa sadar, Pa. Nggak seharusnya Aksa bawa—“ “Emily, Sa ... Emily. Papa nggak butuh alesan yang lain dari kamu. Peka sama Emily udah lebih dari cukup,” sela Yasa. “Aksa kurang peka gimana, Pa? Sewaktu Papa ngabarin Emily masuk rumah sakit, Aksa langsung dateng. Aksa juga udah ngejalanin hukuman dari Papa selama dua bulan tanpa keluhan! Ditambah nggak pernah bawa cewek masuk rumah lagi. Semuanya Aksa lakuin.” Aksa membenarkan posisi duduk, dia tegang sebenarnya. Namun, ketegangan itu masih belum cukup menutupi rasa penasarannya terhadap sikap Yasa. “Dengerin papa, Sa.” Kali ini Yasa yang menghadap ke arah Aksa. “Di dunia ini nggak ada yang keulang dua kali.” “Jadi maksud Papa sebenernya apa? Aksa udah tau itu walau nggak dijelasin.” Aksa melihat keseriusan di wajah ayahnya. Jujur, baru kali ini dia melihatnya begitu. Selama Yasa menjadi seorang ayah baginya dan Devano, Yasa selalu mengambil sikap santai tapi tetap mendidik. Tidak pernah mengekang apa pun jika itu jauh dari melanggar aturan. Sekarang, Aksa rasa ini berbeda. “Waktu kamu kecil, kamu sering ngirim pesan setiap hari. Lagi apa? Ada di mana? Kapan pulang? Papa selalu balas pesan kamu walau sesibuk apa pun,” kata Yasa. “Tapi sekarang—“ Yasa sedikit menunduk, matanya yang kemerahan menahan tangis tertutup sebelah telapak tangan. Membuat Aksa seakan didorong ke jurang tanpa dasar. Aksa ingat, dulu dia selalu menyerbu ayahnya dengan pesan beruntun di saat jam kerja. Jika Yasa terlambat membalas pesan, dia pasti marah hingga Yasa pulang ke rumah. “Papa udah nggak pernah lagi bales pesan kamu. Bukan karena papa benci ... percaya, Sa! Itu karena penglihatan papa nggak sesehat dulu. Suatu hari nanti, bisa aja papa kehilangan kemampuan mengingat, bergerak bahkan jadi beban buat kamu. Kalau saat itu tiba, harapan papa cuma pengen bisa liat anak-anak papa bahagia, rukun dan jangan saling menyakiti.” Napas Aksa terjeda, sesaat kemudian terdengar serak suara ayahnya di sana. Pikiran Aksa pun mulai melayang jauh mendengar penuturan itu. Seolah ada cubitan-cubitan kecil di hati Aksa melihat ayahnya semurung ini. Makna di balik wajah yang mulai terdapat garis keriput, Aksa sadar satu hal pasti, ayahnya semakin bertambah usia. Waktu mereka lewati dan tidak dapat terulang. Hanya menyisakan sebuah harap kecil untuk anak-anaknya kelak. Aksa berpikir, dia terlalu melukai hati ayahnya. “Kau dan Emily udah sama-sama dari kecil. Salah paham sering terjadi, bahkan gak jarang kalian berantem sampe hitungan hari. Seharusnya kalian bisa saling memahami, Sa. Jangan jadikan kemarahan kamu sebagai alesan buat nyakitin Emily, bahkan saat papa denger Emily keguguran. Papa cuma berharap kamu sadar, yang hilang di rahimnya adalah nyawa manusia. Bukan tanaman apalagi barang yang bisa dibeli.” Aksa segera beranjak dari kursi, dia bertekuk lutut di hadapan Yasa dan bisa melihat jelas wajah sendu ayahnya. Dia ingin sekali meraih punggung tangan Yasa dan meminta maaf. “Papa—“ “Kalau ada yang ngeganggu pikiran kamu, ada papa sama Kak Vano, Sa. Bukannya kita bertiga udah janji nggak bakal ada yang ditutup-tutupin? Masalah yang kalian hadapi adalah masalah papa juga. Kalaupun papa nggak bisa ngebantu apa-apa, seenggaknya papa berharap meringankan beban yang ada di pundak kamu kalau kamu mau terbuka,” sela Yasa. Aksa terdiam. “Kita ini laki-laki, Sa. Pertanggungjawaban kita buat wanita lebih tinggi. Setiap kali kamu nyakitin Emily atau wanita mana pun itu, kamu juga harus inget kalau ibumu adalah seorang wanita. Jangan biarkan penyesalan ngikutin kamu seumur hidup.” Kedua tangan Aksa mengepal di atas pahanya. Mendengar kalimat demi kalimat Yasa, dia merasa menjadi orang terbodoh. “Maaf.” Hanya itu yang mampu Aksa ucapkan dari mulutnya. Setiap baris kata yang biasa tersusun rapi untuk menyangkal, buyar seketika. Hatinya sakit, Yasa bahkan meneteskan air mata. Luka macam apa yang Aksa berikan? Sepertinya tidak akan ada jawaban. Luka fisik berbeda dari luka hati. Setiap denting jarum jam menghitung banyaknya kenangan yang mereka buat. Aksa semakin menyadari betapa kesempatan yang diberikan waktu terbuang sia-sia. “Kalau kamu udah baikan nanti. Kapan-kapan ajak papa minum teh, kita bisa bicara lagi. Apa kau mau?” Sedikit tekanan di bahu oleh ayahnya mulai menyadarkan lamunan Aksa. Seulas senyum tercetak jelas dari wajah Yasa. Aksa mengangguk. “Oke. Sekarang papa kasih izin kamu tinggal di rumah lagi. Jangan sampe kamu sakit kelamaan, kasian mama pasti kepikiran.” Aksa kembali mengangguk. Namun, mendapat senyuman Yasa membuat hatinya sedikit tenang. Permintaan maafnya diterima, walau sebenarnya masih ada yang mengganjal di benak Aksa. *** Aksa kembali ke dalam kamar selepas berbicara dengan Yasa. Langkahnya terasa berat, teringat setiap kata yang diungkapkan sang ayah barusan. “Aksa?” Emily berlari kecil menghampiri Aksa yang malah menghentikan langkah di mulut pintu. “Kamu nggak apa-apa, ‘kan? Tadi papa bicara apa sama kamu? Papa masih marah, ya?” tanya Emily bertubi-tubi. Aksa merasakan genggaman hangat di tangannya oleh Emily, nada khawatir dari bibir tipis wanita itu, juga perhatiannya membuat Aksa heran. “Emily ....” “Ya, kenapa?” “Kenapa kamu terus kaya gini ke saya? Padahal perlakuan saya udah jahat dan nyakitin kamu,” kata Aksa sekaligus bertanya. Dia heran. Kenapa sikap Emily begitu baik? Padahal selama ini, dia sering menyakiti hati wanita itu dengan perlakuan dingin, bicara kasar, bahkan terkesan tidak peduli. Namun, bukannya menjauh, Emily malah terus mendekatinya. Seolah tidak pernah terjadi sesuatu dan bersikap seperti biasa. “Karena yang lakuin itu adalah kamu. Jadi aku ngerti, kok.” Aksa mengernyit. “Hah? Maksudnya apa?” “Yaaa ... kalau itu orang lain. Aku pasti udah mati bunuh diri atau pergi. Tapi, emang kamu ada niatan mau jahatin orang, gitu?” “Emang muka saya ada tampang penjahat?” “Enggak. Makanya aku cuma nganggep sikap kamu, ya, emang karena bawaan dari lahir aja. Ngeselin.” Jawaban spontan Emily membuat Aksa tertawa kecil. Alasan terbodoh yang pernah didengarnya seumur hidup. “Aksa?” “Akhhh ... sakit! Kenapa kamu nyubit saya?” tanya Aksa bernada tinggi dan kesal. Dia kaget saat Emily mendadak mencubit lengannya. “Ternyata masih kamu. Kirain lagi kesurupan, horor banget rasanya liat kamu ketawa karena aku.” Bersambung. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN