Karena makanan pedas yang dimakannya tadi pagi, alhasil Caramel mondar mandir terus ke toilet. Sedangkan Rey hanya terlihat santai, namun dalam hatinya ia sangatlah khawatir. Terbukti dengan setiap kali Caramel berlari ke toilet, matanya lincah melihat kemana gadis itu beranjak. Matanya memang fokus ke layar laptop di depannya, namun jauh dari itu, pikirannya seperti ingin menemani Caramel menghadapi kesakitannya. Tidak luput juga, itu adalah kesalahannya dan ia cukup menyesal. Sampai pada waktu pulang pun, perut Caramel masih memberontak ingin mengeluarkan poop itu. Sampa rasanya aia tak kuat dan terlihat lemas, tiduran di sofa dengan muka pucat pasi. "Apakah masih sakit? Ke Rumah Sakit, ya?" Tanya Rey lembut dan mengusap kening Caramel yang sedikit berkeringat. Caramel terlihat sendu,

