Dista memegang perutnya yang terasa keram karena tertawa mendengar Derby berkisah cinta Mama dan Papanya. "Ampun Papa!" Dista menggelengkan kepalanya. "Sesingkat itu?" Derby mengangguk. "Trus pacarnya Mama?" "Mana aku tau nasibnya gimana." Dista masih tertawa. "Ternyata lebih sadis Papa dibanding kamu, Derby." Derby tertawa melihat Dista yang masih memegang perutnya menahan tawa. "Udah ... udah selesai ceritanya. Kok masih tertawa." "Kebayang wajah Papa, Derby. Padahal sekilas Papa itu terlihat sangar banget, tapi ternyata lucu ... pasti Mama bawaannya senyum terus setelah menikah." Derby menatap Dista dengan tatapan mautnya. "Kayak aku," desah Dista yang tiba-tiba sadar akan ucapannya. "Kamu buat aku senyum terus, Derby." Derby memandang Dista penuh cinta. *** Dista sebe

