1. Melunasi Utang

1659 Kata
Menikah dengan orang yang dicintai adalah hal terbaik yang terjadi pada Eva selama dia hidup di dunia ini. Dia menjalani kehidupan pernikahan yang bahagia tanpa cobaan yang berarti. Namun, setelah empat tahun menjalani pernikahan yang sangat bahagia, badai pun datang menerpa. Saat suaminya pergi ke Inggris untuk urusan bisnis, seorang teman menghampiri Eva dan menunjukkan sebuah tabloid yang memuat berita tentang suaminya yang menghadiri sebuah pesta dengan menggandeng wanita lain. Saat itu, tentu saja Eva berusaha mengelak. Suaminya bukanlah orang yang akan melakukan perselingkuhan. Namun, tetap saja Eva ingin membuktikan kebenaran akan gosip tentang suaminya. Apakah suaminya benar-benar selingkuh seperti yang dikabarkan oleh media? Saat lift berhenti di angka 81, Eva segera mempercepat langkah menuju kamar 8107. Dia memencet bel berulang kali agar segera dibukakan pintu. Alangkah terkejutnya Eva tatkala yang membuka pintu kamar adalah seorang wanita cantik berambut coklat gelap acak-acakan seperti selesai melakukan adegan ranjang yang panas. Tubuh jenjangnya hanya berbalut bathrobe satin merah minimalis yang sangat tak pantas untuk menemui tamu. Saat Eva menatap dengan lebih seksama, wanita itu berwajah persis dengan wanita yang diberitakan oleh media. Miranda Thomas! "Hotel berengsek! Mengapa mengirim petugas cleaning service tengah malam begini?" gerutu wanita itu sambil memandangi Eva dari ujung rambut ke ujung kaki. Eva bukanlah wanita yang buruk rupa, dia juga tidak terlampau kurus maupun terlampau gemuk. Pakaian yang dikenakan Eva pun adalah pakaian mahal bermerek. Namun, wanita bernama Miranda itu memandangnya dengan ekspresi merendahkan dan jijik seolah-olah Eva adalah seorang tunawisma yang berhari-hari tidak mandi. “Kami tidak butuh layanan malam-malam begini. Kau ini benar-benar mengganggu!” "Siapa yang datang, Sayang?" tanya suara parau lelaki yang sangat Eva kenal. Betapa terkejutnya Eva saat mendapati suaminya hanya memakai handuk kecil yang dibalut terlampau rendah di pinggang. Suatu pemandangan yang Eva kira saat ini hanya spesial untuk dirinya, tengah dipersembahkan sang suami untuk wanita lain. "Bohong! Ini bohong!" Dengan hati hancur, tubuh Eva jatuh tersungkur ke lantai, menangis dan meratapi musibah yang menimpanya. *** Seorang pria muda nan tampan dan gagah duduk menyilangkan kaki di kursi CEO yang telah dia duduki selama setahun enam bulan setelah ayahnya meninggal. Setelan hitam Armani yang dia kenakan hanya menegaskan betapa angkuh dan sombongnya pancaran mata hijau terang miliknya. Rambut cokelat terangnya yang disisir rapi, membuat senyum sinisnya tampak semakin terkesan jahat. Tak ada yang salah, karena memang itulah jati diri seorang CEO muda bernama Declan Sawyer yang dingin dan tak berperasaan. "Sampai kapan lagi kau akan meminta penundaan pelunasan utang, Markus?" tanya lelaki muda tampan itu kepada pria paruh baya yang berdiri gemetaran di depan meja kerjanya. "Yang kau bayarkan padaku belum ada sepuluh persen sejak dua tahun lalu." "Maaf, Tuan Sawyer! Beri saya kelonggaran lagi. Kebetulan, anak perempuan saya sudah lulus sekolah menengah beberapa pekan lalu. Dia berjanji akan langsung bekerja demi membantu melunasi utang." Pria paruh baya berkumis tipis yang dipanggil Markus itu tampak menggigil ketakutan saat menjawab pertanyaan Declan Sawyer, pewaris tunggal kekayaan keluarga Sawyer sekaligus atasan Markus. Markus menggaruk rambut hitamnya yang memang sudah acak-acakan sejak dia berangkat ke kantor tadi. Tangannya terasa basah oleh keringat yang membuat lepek rambut ikal nan kusut itu. Dadanya berdebar-debar berlebihan saat mengatakan hal tersebut. Takut sekali kalau-kalau atasannya itu tidak memberikan perpanjangan waktu. Namun, ternyata, Declan merespons berbeda dari perlakuannya kepada Markus sebelumnya. "Oh, benarkah kau punya anak gadis?" Mata Declan menyipit. Bagai seekor kucing mencium bau ikan, begitulah reaksi pria playboy itu saat ini. "Cantikkah dia?" tanya Declan ragu saat melihat rupa Markus yang baginya seperti preman jalanan. Mata Markus terbelalak senang. Dia sadar bahwa pria di hadapannya adalah seorang yang sangat menyukai wanita cantik. Markus menelan ludah. Apakah kali ini Declan akan meminta sesuatu yang sebenarnya memang ingin dia tawarkan sejak lama? Sudah sejak dulu Markus ingin menjadikan anak perempuannya itu sebagai tebusan utang. Namun, dia tak ingin Declan menuduhnya menjual anak sendiri sekalipun anak itu bukan anak kandungnya. Dengan gemetar, Markus berjalan mendekati meja Declan dan menunjukkan foto putrinya, Eva. Mata Declan menyipit, memandangi foto seorang gadis cantik yang masih muda belia berambut pirang panjang dengan mata biru lembutnya yang menatap percaya diri ke arah kamera. Walaupun masih remaja, tubuh gadis yang berada di foto itu terlihat matang dengan segala lekukan yang terasa pas. Atasan kaos dan celana jeans ketat yang dia kenakan hanya menambah keinginan Declan untuk melewatkan malam bersama dengan gadis itu. “Dia pasti sangat mirip dengan Ibunya, bukan?” komentar Declan saat menyadari betapa gadis itu tidak mirip sama sekali dengan Markus yang seperti ampas tofu. “Istri saya berambut merah. Anak ini lebih mirip dengan ayah kandungnya,” jawab Markus dengan jujur. Senyuman mengembang di bibirnya walaupun dia tahu bahwa pertanyaan Declan barusan berarti mengejeknya. Dia tak peduli dibilang jelek seperti katak sekalipun asalkan utangnya segera lunas. “Oh, jadi, dia bukan anak kandungmu?” Declan tersenyum simpul seraya mengangkat kedua alisnya. Ah, mana mungkin seorang ayah kandung akan tega menjual anaknya seperti yang dilakukan Markus? Seharusnya dia tahu sejak awal. Senyuman licik mengembang di bibir Declan. Dia pun melempar tatapan penuh arti kepada Markus. "Bawa dia padaku dan utangmu aku anggap lunas!" *** Dua tahun yang lalu, Markus meminjam uang kepada ayah Declan dalam jumlah besar untuk membiayai pengobatan istrinya, ibu Eva, yang sedang sakit kanker otak. Saat itu, Eva yang masih berusia enam belas tahun tentu saja tak bisa bekerja untuk membantu Markus membiayai pengobatan sang ibu. Dia hanya bisa membantu Markus mengurusi pekerjaan rumah dan sesekali menjaga ibunya di rumah sakit, bergantian dengan Markus. Ayah Declan adalah seorang yang baik hati dan dermawan. Karena kebaikan hatinya itu, Markus berani meminjam uang dalam jumlah besar darinya. Tak sekali pun ayah Declan menagih utangnya karena tahu bahwa keadaan ekonomi Markus saat itu sedang susah. Pria berhati emas itu sama sekali tak ingin membuat orang lain hidup kesulitan karena ketamakan terhadap uang yang jumlahnya tak terlalu berarti baginya. Namun, usia ayah Declan tak panjang. Enam bulan sejak Markus meminjam uang, dia meninggal. Kemudian, posisi ayah Declan sebagai pemilik sekaligus CEO Hotel Glory digantikan oleh Declan yang memiliki sifat sangat jauh berbeda dari sang ayah. Dia seorang playboy yang begitu sering berganti kekasih sesering dia berganti kaus kaki. Lebih dari itu, Declan juga sangat pelit. Walaupun hanya satu buck orang berutang padanya, dia pasti akan menagih sampai yang mendengarnya akan bosan. Tak peduli seberapa kaya pun dia, tak peduli seberapa miskin yang berutang padanya, utang tetaplah utang. Harus dibayar, tak boleh dilupakan. Hal itu juga yang dilakukan Declan kepada Markus. Dia menagih utang Markus terus menerus hingga pria miskin itu merasa sangat tertekan. Apalagi, dia tak punya uang untuk membayar lunas utangnya. Hanya ada satu celah yang ada di pikiran Markus untuk mengatasi tekanan dari seorang Declan. Dia berniat menjual anak gadis istrinya saat gadis itu sudah mencapai usia delapan belas tahun, ketika gadis itu sudah cukup matang dan paham mengapa dia terpaksa melakukannya. Eva, anak tiri Markus memang bisa dibilang cantik dan menarik. Pasti Declan akan menyukainya. Markus tahu bahwa Declan playboy yang memang sering berkencan dengan berbagai tipe wanita. Tentu Declan tak akan menolak bila Markus menawarkan Eva yang sedikit berbeda dengan teman kencan Declan yang lain selama ini. Hanya saja, Markus tahu bahwa dirinya harus tetap bermain dengan cantik. Bila niatnya menjual Eva terlalu kentara, Declan bisa-bisa langsung menolak. Karena itu, Markus tetap menjaga setiap kata yang terucap di hadapan Declan agar dia tidak terkesan seperti ayah tiri jahat yang tega menjual anak gadisnya yang masih polos. Gayung bersambut. Declan menanggapi umpan yang dilempar Markus. Dia menginginkan Eva dan bahkan setuju untuk menukarnya dengan utang. Playboy kaya itu berencana untuk mengencani Eva sampai dia bosan. Betapa malang nasib Eva. Hari yang ditunggu pun tiba. Eva baru saja lulus dari sekolah menengah. Keterbatasan ekonomi membuat Eva yang sebenarnya cukup pintar memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah. Dia merasa harus bertanggung jawab untuk membantu ayahnya melunasi utang yang dipinjam dari Tuan Sawyer. Bekerja adalah satu-satunya pilihan. Gadis yang saat ini sedang sibuk melayani pelanggàn di sebuah restoran cepat saji di salah satu sudut kota itu tampak lelah. Setelah satu jam kemudian, dia akhirnya berhenti bekerja karena gilirannya sudah selesai. "Melelahkan, ya?" tanya Annie, rekan Eva yang telah lama bekerja di tempat itu. Eva tersenyum, menggeleng. "Aku harus membantu Ayah untuk melunasi utang beliau yang sangat besar karena membiayai pengobatan Ibuku." Gadis cantik bermata biru itu menguncir kembali rambut pirangnya dengan rapi. "Apa pun akan aku lakukan demi membantunya." "Kau anak baik. Orang tuamu pasti merasa sangat beruntung memiliki anak seperti kamu." Annie memberikan pujian yang tulus untuk rekan barunya. "Seandainya bisa punya pacar yang super kaya, pasti hidup kita menyenangkan, ya? Tak perlu bekerja seperti ini setiap hari." "Ah, kau ini. Dalam hubungan percintaan, yang terpenting adalah kesetiaan. Apa kau mau mempunyai pacar kaya tapi playboy?" tanya Eva berkelakar. Namun, Annie tiba-tiba teringat sesuatu. "Aku jadi ingat gosip pewaris keluarga Sawyer yang selalu berganti pacar setiap akhir pekan." "Wow, menyedihkan sekali bila punya pacar seperti dia, 'kan?" Eva bergidik ngeri membayangkan hal itu. Dia lalu berpamitan pulang agar tak kemalaman sampai di rumah. Eva tentu tak pernah tahu bahwa rasa tanggung jawabnya untuk melunasi utang bukan ditujukan untuk bekerja di restoran cepat saji seperti yang sedang dia jalani saat ini. Dia tak pernah tahu bahwa membantu Markus melunasi utang berarti menyerahkan diri kepada Declan Sawyer dan menjadi wanita simpanannya hingga pria itu bosan. Sampai di rumah, Markus yang sudah tak sabar menunggu segera menyuruh Eva untuk mandi dan berdandan. Penampilan Eva tampak semakin cantik dan dewasa dengan gaun merah marun yang diberikan oleh Markus. "Ayah, kita akan ke mana?" tanya Eva penasaran. "Jangan banyak bertanya!" Markus dengan tegang memandang anak tirinya. Dia memegang bahu Eva dan menatap tajam ke mata biru anak tirinya yang masih polos. "Kau berjanji akan membantuku melunasi utang, bukan?" "I–iya, Ayah!" Eva pun mengangguk dengan yakin. "Bagaimanapun juga, Ayah berutang demi pengobatan Ibuku." Walaupun mencoba tegar, tetapi hati Eva merasakan ketakutan yang luar biasa. Akan ke mana ayahnya membawa dirinya pergi malam ini? Akankah dia dibawa ke suatu tempat yang dia sendiri akan menyesalinya seumur hidup? Ataukah sebaliknya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN