“Cinta kepala kamu. Besok kalau hamil duluan, jangan panggil Papa ya.” Rania hanya tertawa lalu menaiki tangga dengan langkah ringan. Begitu sampai di kamarnya, pintu ditutup rapat—dan satu detik kemudian... “YEAYYYYYYYYY!” Terjadi lagi. Ledakan histeris bahagia, loncatan kecil di atas ranjang, dan suara bantal yang dipeluk sambil berputar-putar. Rania tidak peduli dunia mendengar atau tidak. Yang penting, Prabu Astana Dewangga sudah pasti miliknya. **** Pagi yang sangat cerah untuk Rania. Setelah drama beberapa hari lalu yang penuh air mata, mimisan, dan raungan di dalam box, kini wajahnya bersinar seperti matahari pagi. Senyum tak lepas dari bibirnya sejak pagi tadi dirinya agak bertengkar dengan Prabu. Bukan bertengkar sih, tapi lebih Rania yang malas chat duluan sejak semalam ka

