Secret-10

2060 Kata
Kaleena mendadak cemberut, ketika mengetahui jika Aiden tidak membawanya pulang. Pria itu malah membawa Kaleena untuk pergi ke apartemen milik pria itu. Dan yang lebih jelas lagi, apartemen ini satu lingkup dengan apartemen milik Alden. Hanya saja beda lantai, jika milik Aiden di lantai empat puluh. Apartemen Aiden ada di lantai tiga puluh, sepuluh lantai di bawah Alden. Wanita itu tidak menunjukkan wajah bersahabatnya sama sekali. Yang ada dipikirannya saat ini adalah Maria. Wanita itu pasti akan marah-marah ketika Kaleena tidak ada. Padahal selama ini Kaleena sudah memberikan hal yang terbaik untuk Maria. Mengesampingkan egonya untuk meracuni wanita itu, dan berbuat baik. Ditambah lagi Kaleena juga sudah menuruti apa yang dikatakan oleh Maria. Sayangnya … semua yang dilakukan Kaleena tetap salah di mata Maria. Anggap saja dia itu orang jahat di rumah Jonathan. Disisi lain, Aiden yang duduk di sampingnya sambil menikmati sekotak pizza. Hanya mampu tersenyum sesekali melirik ke arah Kaleena. Wanita itu tidak menyentuh pizza-nya sepotong pun. Padahal Aiden sudah membeli banyak pizza, yang katanya wanita itu pecinta pizza. "Kenapa pizza-nya nggak di makan? Katanya pecinta pizza?" tanya Aiden enteng. Kaleena menatap tajam pria itu lalu menggeleng. Dia tidak minat makan pizza, jam ini dia makan pizza sedangkan nanti pulang dari sini. Tenaganya harus habis bertengkar dengan Maria. Jadi apa untungnya dia makan pizza? Tidak ada sama sekali. "Ai ayo pulang. Ku mohon." rengek Kaleena. "Aku agak malas pulang ke rumah. Oma pasti ngomel." jawab Aiden. "Itu … yang aku nggak suka kalau kita nggak pulang. Mending kita pulang aja deh, ayo ah." Aiden menggeleng, dia tidak akan pulang hari ini. Dan malam ini dia akan menginap di apartemen ini. Kaleena ingin sekali protes, tapi ponselnya berdering cukup laka sejak tadi. Dan Kaleena tidak ada niat untuk membuka ponselnya. Karena kesal dengan ponselnya yang terus berbunyi, Kaleena pun mengambil ponselnya dan menatap siapa yang menelponnya. Ternyata itu adalah Alden, padahal Kaleena berpikir jika itu adalah telepon rumah dari Jonathan. "Bentar angkat telepon dulu." Kaleena memilih pergi, dia pun berlari ke arah balkon apartemen ini dan menekan tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu di telinga kanannya. "Halo …" Kaleena langsung menjatuhkan ponselnya dari telinganya. Ketika mendengar omelan Alden yang sangat kencang dengan nada membentak. Ya, pria itu tiba-tiba saja mengomel ketika Kaleena tidak menerima sambungan teleponnya. Dengan terpaksa juga, Kaleena harus berbohong jika dia meninggalkan ponselnya di kamar. Sedangkan dia sedang sibuk di dapur bersama dengan yang lain. Sehingga tidak tahu jika Alden menelponnya. "Besok kalau kemanapun dibawa hapenya!! Nggak mau tau!!" kata Alden kesal. Kaleena mengangguk kecil, walaupun Alden tidak akan tahu. Pria itu memberitahu Kaleena jika dia akan pulang dalam tiga hari lagi. Tidak jadi satu minggu seperti apa yang dikatakan beberapa hari lalu. Karena pekerjaannya sudah hampir selesai. Dia memberitahu Kaleena untuk menyiapkan dirinya. Karena setelah itu Alden tidak akan membiarkan Kaleena bernafas dengan lega. Padahal Kaleena ingin sekali membantah ucapan Alden. Tapi mau bagaimana lagi, hidup dia sudah dibayar tentu saja dia tidak bisa menolak. Kaleena menutup sambungan teleponnya, ketika dia membalik badannya Kaleena malah terkejut. Melihat Aiden yang berdiri di belakangnya sambil menikmati secangkir kopi. "Aiden … sejak kapan disitu?" tanya Kaleena bingung. "Sejak kamu telepon tadi." Wanita itu langsung menunduk Aiden dengan jari telunjuknya. "Kamu nguping ya!!" "Sedikit." kekeh Aiden. "Penasaran janda kayak kamu siapa yang deketin." Ingin rasanya Kaleena berteriak, jika dia itu tidak janda. Dia masih memiliki suami yang dimana suaminya itu sedang ada di luar kota. Dan yang jelas suaminya itu adalah Alden Raphael Jonathan. Kakak dari Aiden Mikhael Jonathan!! "Terus kamu pikir tadi yang telepon aku pria?" tanya Kaleena memicing. "Yaps!!" Kaleena menggeleng dia pun membuka ponselnya dan menunjukkan pada Aiden. Jika yang menelponnya barusan adakah Tiara. Tidak ada kata lain selain Tiara. Untung saja Kaleena itu pintar, mengganti nama Alden di ponselnya dengan nama Tiara 2. Jadi siapapun itu tidak akan curiga jika yang menelponnya sebenarnya adalah Alden. Aiden sendiri hanya mengangguk percaya. Mungkin apa yang dikata Kaleena itu benar. Apalagi selama ini Aiden taunya Kaleena selalu bersama dengan Tiara. Tidak heran sih, jika Mereka terus saja berhubungan walaupun beda tempat kerja. "Ai kapan pulang? Aku ngantuk. Mau mandi juga." kata Kaleena. Aiden menatap jam tangannya dan mengangguk. "Kita pulang sekarang. Tadi mami telepon, katanya Oma udah tidur." Seketika itu juga Kaleena langsung melompat kegirangan. Setidaknya, Kaleena terhindar dari omelan Maria untuk hari ini. Sedangkan besok, masih bisa dipikirkan sambil berjalan. -Secretwife- Keesokan harinya Kaleena bangun lebih awal. Dia pun menyiapkan banyak sarapan di meja makan. Tapi ketika melihat Maria, Kaleena langsung berlari ke dapur. Pagi ini jangan Sampai hari kaleena sial karena Maria yang akan marah padanya. "Jangan sampai radio nya bunyi pagi-pagi begini. Capek dengernya." dunel Kaleena. "Radio? Mana Leen?" Kaleena terjingkat kaget menatap Putri yang baru saja masuk ke dalam dapur. Dia pun menatap wanita itu yang tengah sibuk mencari sesuatu yang disebut oleh Kaleena. Radio yang dimaksud Kalenaa adalah radio Maria, bukan radio benda mati yang bisa dibunyikan ketika mereka inginkan. Menyadari hal itu Putri pun langsung menarik telinga Kaleena dengan begitu gemas. "Sudah tau kalau Maria suka ngomel. Itu kamu kenapa masih ngeyel nggak pulang semalam." omel Putri. "Eh aku pulang kok. Kamunya aja yang nggak tau." "Ya gimana bisa tau, orang kamu pulang tengah malam begitu kok. Semua orang udah pada tidur, kakinya masuk kamar. Gila ya … mana sama den Aiden lagi." omel Putri. Kaleena tertawa kecil, jelas lah dia pulang tengah malam keadaan orang sudah terlelap. Jika dia pulang sore, atau mungkin semua orang masih berjaga. Yang ada Kaleena malah di omelin sepanjang masa sama Maria. Dan hal itu pasti membuat telinga Kaleena sakit setengah mampus. Tidak mau bergosip di pagi hari. Putri meminta Kaleena untuk kembali bekerja. Lagian pekerjaan mereka itu sangat banyak. Ditambah lagi, Kaleena juga harus mengurus perkebunan milik Maria. Jika tidak tentu saja Maria akan mengomel terus menerus. Wanita itu menurut, dia pun langsung mengerjakan apa yang seharusnya dia kerjakan. Sesekali mengambil roti untuk dia sarapan. Jangan sampai dia pingsan karena belum makan. Bersenandung ria, Kaleena memilih pergi ke taman samping rumah. Menatap banyak tanaman mati, Kaleena mengambil bunga itu dan membuangnya. "Heh … heh … itu kenapa dibuang!! Berani ya kamu!!" seru seseorang dari arah samping. Kaleena yang kaget pun langsung menoleh. Menatap Maria yang entah sejak kapan sudah ada disana. "Nyonya besar bunga ini … " "Kamu pikir bunga ini beli pakai daun apa!!! Saya menghabiskan banyak uang untuk bunga ini." sela Maria cepat. Dia pun menepis tangan Kaleena hingga membuat wanita itu terjatuh. Sebisa mungkin Kaleena menahan amarahnya yang hampir saja meledak. Hanya karena bunga mati, Kaleena sampai didorong hingga terjatuh. Wanita itu langsung bangkit dari jatuhnya dan membersihkan bajunya yang kotor. "Ingat ya!! Kamu cuma itu hanya pembantu!! Gaji kamu aja nggak cukup buat bayar bunga ini!!" seru Maria kembali sambil menunjuk Kaleena. "Tapi Nyonya bunga ini mati!! Mau ditanam sampai kiamat pun juga nggak akan bisa hidup lagi." jawab Kaleena akhirnya. Sudah cukup!! Dia sendiri juga tidak tahan jika harus berhadapan dengan Maria. Mulut wanita itu benar-benar harus di sekolahkan. "Berani kamu membantah saya!!" Maria mendekati Kaleena dan hampir menampar pipinya. Tapi dengan cepat Aiden pun langsung menahan tangan itu, dengan celengan kepala. Maria yang memang marah pun langsung menepis tangannya begitu kasar, sambil menunjuk Kaleena dengan kipas yang selalu dia bawa. "Untuk kali ini kamu selamat!! Setelah ini, jangan harap kamu bisa hidup tenang di rumah ini." katanya dan pergi begitu saja. Alis Kaleena terangkat sebelah menatap kepergian Maria dengan heran. Memangnya dia siapa, berani mengancam Kaleena. Yang ada Kaleena aja mengadu pada Alden tentang apa yang Maria lakukan selama ini. Jika wanita tua itu suka seenaknya pada Kaleena, dan juga menyakiti perasaan Kaleena dengan ucapannya. Kaleena selalu dikatakan pembantu dengan Maria. Sedangkan dirinya adalah menanti di rumah ini, jika bukan karena Tiara jangan harap Kaleena juga mau tinggal di rumah ini sebagai pembantu. "Kamu nggak papa?" tanya Aiden memastikan. Kaleena menggeleng. "Aku nggak papa. Cuma bunganya gimana? Kan udah mati, nggak mungkin hidup lagi kalau ditanam." Dalam hal seperti ini, ketika Aiden mengkhawatirkan Kaleena. Wanita itu malah lebih mengkhawatirkan bunga mati milik Maria. Padahal tanpa di kasih tahu pun, Kaleena juga tahu jika bunga mati itu harus segera dibuang. Nanti jika Aiden pulang dari kantor, jika ada toko bunga yang masih buka. Dia akan membeli banyak bunga untuk Maria. Untuk menggantikan bunga Maria yang sudah mati tak bernyawa. "Tapi uangnya. " kalau Kaleena suruh ganti tentu saja wanita itu tidak memiliki banyak uang. Kerja belum ada satu bulan saja sudah disuruh ganti bunga. Walaupun Alden memberi banyak uang, tapi kan uangnya untuk menunjang kehidupan Kaleena setelah melahirkan dan di usir dari rumah ini. "Aku yang akan bayar. Kamu nggak perlu ngeluarin uang." "Seriusan kan?" Aiden mengangguk dia seriusan, untuk apa juga dia harus berbohong. Karena sudah jam kantor, pria itu langsung segera pergi dari hadapan Kaleena. Wanita itu sendiri langsung mengambil bunga mati dan membuangnya. Peduli setan jika Maria akan terus mengomel terus menerus. Toh, bunga yang sudah mati mau di tanam seperti apapun. Yang namanya mati ya tetap saja mati. Beda cerita sama kucing, ditabrak nggak parah juga masih hidup. "Dasar wanita gila!!" dumel Kaleena kesal. -SeceetWife- Niatnya pengen tidur enak, rebahan diatas kasur sambil mainan hape. Kalau bisa sih mengirim pesan, atau menelpon Alden untuk mengobati rasa rindunya. Tapi yang ada angan-angan itu terhempas, ketika Magdalena mendatangi Kaleena dan meminta wanita itu untuk menemani Aiden ke sebuah acara bisnis. Biasanya acara ini dihadiri oleh Alden dan juga Aiden. Mereka akan datang bersamaan, tapi karena Alden tidak ada. Dan Aiden sendiri juga tidak ingin datang sendiri. Akhirnya Magdalena meminta Kaleena untuk menemani Aiden datang ke acara itu. Tidak hanya di sana Magdalena juga merias Kaleena secantik mungkin. Dress putih dengan rambut yang di sanggul. Dihias dengan pita bunga, dengan make-up natural dan juga ada beberapa helai rambut yang di mana Magdalena sengaja tidak menyanggulnya. Menambah kesan cantik di diri Kaleena. Karena wanita itu sudah lama juga tidak pernah make-up seperti ini. "Tapi Bu, saya ndak bisa pakai stiletto loh." Kata Kaleena lebih dulu. Sebelum wanita itu mengeluarkan koleksi stiletto mahalnya. "Terus kamu bisanya pakai apa?" "Gimana kalau saya pakai sepatu saja aja? Lagian bajunya juga bagus cocok kalau dipakai sepatu. Saya takut jatuh dan nggak bisa jalan kalau pakai stiletto." Magdalena tidak bisa memaksa dia pun menganggukkan kepalanya, dan meminta Kaleena untuk mengambil sepatunya. Tak lupa juga Magdalena meminta Kaleena untuk memilih satu dompet, yang menurutnya sangat cocok dengan baju yang dia kenakan. Kalau dilihat wanita itu sangat cantik dengan riasan Magdalena. Dan Magdalena juga yakin, jika anaknya Aiden akan terpesona dengan kecantikan Kaleena saat ini. "Gimana sudah siap? Aiden nunggu kamu di depan." tanya Magdalena dengan suara lembutnya. Wanita itu bahkan tidak pernah meninggikan suaranya di depan Kaleena. Kaleena sendiri sudah siap. Cuma mentalnya yang belum siap. Dia belum siap, jika dia keluar lalu Maria ada di depan ruangannya. Yang dimana wanita itu pasti langsung mencibir Kaleena yang mengenakan semua pakaian dan juga barang mahal milik Magdalena. Itu sudah terbaca sekali dengan Kaleena yang masih berdiri di balik pintu. Seolah tahu apa yang dipikirkan Kaleena, Magdalena pun meminta Kaleena untuk tenang. Maria tidak akan tahu, dan tidak akan marah-marah. Karena ini semua Magdalena yang meminta, jadi wanita tua itu tidak memiliki hak sama sekali untuk marah dengan Kaleena. Kaleena mempercayainya. Dia pun menatap pintu kamar ini penuh harap. Jika yang dia lihat nanti adalah Aiden saja jangan sampai nenek sihir berambut putih. Sayang seribu sayang, doa tinggallah doa. Bukannya bertemu dengan Aiden, Kaleena harus menahan nafasnya ketika melihat Maria yang menatapnya dengan tatapan tidak sukanya. "Magdalena … kamu minta pembantu ini pakai barang kamu. Mami yakin, sebentar lagi itu barang kamu pasti hilang semua." cibir Maria. Benar bukan. Mulut wanita itu memang minta di amputasi sekalian, agar tidak memiliki mulut bs sekalian. Agar wanita itu tidak suka berbicara seenaknya. Mentang-mentang orang kaya terus dia bisa berbuat seenaknya? Jangan harap setelah ini Kaleena akan tinggal diam dengan ucapkan wanita itu. Dan jangan salahkan Kaleena jika dia akan membalas perbuatan nenek itu, dengan cara Kaleena sendiri. -SecretWife-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN