8

1317 Kata
I miss him... ——————————— Setelah malam panas itu, kupikir Daddy telah luluh. Nyatanya.. Paginya, Daddy datang dan meminta maaf padaku dengan tatapan mata yang sendu. "Ace, maafkan Daddy" Begitu jelas sekali raut penyesalan dan rasa bersalah di wajah tampannya. Daddy berdiri di hadapanku, menggenggam tanganku sambil menunduk dalam. Seolah ia telah melakukan dosa besar yang tak termaafkan. Berulang kali kata maaf terucap dari bibir sexynya dan aku tentu saja tidak akan tega melihat wajahnya yang seperti itu. Daddy terlihat sangat frustasi, ia bahkan tak sanggup untuk sekedar menatap mataku! Daddy terus memohon padaku agar aku memaafkannya dan ia juga menjelaskan bahwa tindakannya semalam adalah salah. Lalu, apa yang harus kukatakan? Mengatakan bahwa aku memaafkannya padahal aku sendirilah yang menjebak dan mengodanya? "Mari berhenti..." "...dan melupakannya, Ace" Raut wajah dan kalimatnya terus terngiang dalam pikiranku. Tidak, Dad! Bukan penyesalanmu yang aku harapankan, tidak bisakah kau melihatku sebagai sosok yang lain! Aku menginginkanmu! Sejak pagi itu, hubungan kami seperti meregang. Rasa bersalahnya seolah membentuk tembok tinggi antara aku dan Daddy. Daddy seolah menjaga jarak denganku. Ia berangkat kerja lebih pagi dan pulang lebih larut. Tidak ada lagi morning kiss seperti yang belakangan ini sering kami lakukan di belakang Mommy. Tidak ada lagi kecupan saat berangkat sekolah, tidak ada pelukan hangat dan suara lembutnya yang menyambutku di meja makan. Bahkan Daddy selalu menolak saat aku hendak menciumnya dan menepis tanganku yang mencoba untuk menggapainya. Tidak ada lagi skinship! Aku memandangnya sedih dan penuh tanda tanya. Satu hal lagi yang membuatku tidak habis pikir yaitu Daddy juga mengabaikan kekesalanku, ia bahkan tidak mencoba membujukku seperti dulu. "Tidak bisakah mengantar Ace ke sekolah, Dad?" tanyaku penuh harap. "Tidak bisa, Ace. Daddy sibuk!" tolaknya dingin dan berlalu begitu saja menuju mobilnya yang sudah terparkir di halaman rumah. Aku mengehela nafas menatap punggungnya yang perlahan menjauh itu dengan tatapan sendu. Akhirnya aku menyerah mendekatinya. Aku sampai ingin menangis, tidak hanya menjauhiku Daddy juga mengabaikanku! Kami bahkan tidak terlihat seperti ayah dan anak, hubungan kami menjadi dingin dalam semalam! Haruskah aku menyesali malam itu? Malam yang bahkan tidak bisa kulupakan! Malam dimana ia menyalurkan sisi liarnya padaku! Tidak hanya pagi itu, di sore harinya, Daddy menjemputku pulang sekolah. Lagi-lagi perkataannya berhasil mematahkan senyum indahku. "Mommy mengatakan merindukan Daddy. Manis sekali" ucapnya dengan senyum bahagia. Daddy rela meninggalkan pekerjaannya di kantor hanya karena Mommy mengatakan merindukannya! Padahal ia selalu beralasan sibuk padaku! Aku juga mengatakan aku merindukannya tadi, lalu apakah ungkapan rinduku tidak berarti apapun? Sesak, itulah yang aku rasakan. Selanjutnya yang kulakukan hanyalah diam. Ketika Daddy mulai membahas Mommy, aku tidak merespon ucapannya dan terus membuang padanganku darinya. Hingga mobil kami sampai di pekarangan mansion, Daddy pun tidak membujukku yang sedang merajuk padanya. Aku menutup pintu mobil dengan tidak santai, masa bodoh dengan Daddy yang akan memarahiku karena bersikap tidak sopan padanya. Aku mendengarnya memanggil-manggil namaku, tapi aku sudah kepalang kesal hingga mengabaikan panggilannya dan terus berjalan masuk kedalam rumah menuju kamarku di lantai atas. Semalaman aku menangisi sikap Daddy yang berubah padaku, rasanya sesak sekali. Hingga aku tertidur karena kelelahan menangis. Beginikah rasanya putus cinta? Sakit sekali! Pantas saja Rine bisa galau sampai 2 bulan setelah putus dari pacarnya. . . Pagi harinya, pukul 07.00. Pintu kamarku di ketuk dari luar. Tapi aku benar-benar lelah dan mengantuk! Aku tidak tahu jam berapa aku tidur, yang kurasakan adalah mataku berat, bengkak, dan sembab! Pintu kamarku diketuk lagi, membuat tidurku lagi-lagi terganggu. Kenapa tidak langsung dibuka saja? Biasanya Mommy juga begitukan! Aku melangkahkan kakiku berat menuju pintu. Oh, tenyata pelakunya adalah my sexy Daddy! Tentu saja aku terkejut melihatnya dan aku juga dapat melihat keterkejutannya kala mendapati penampilanku yang berantakan. Namun raut itu hanya bertahan kurang dari 1 detik! Senyumku hendak terangkat lalu detik selanjutnya luntur kembali, "Morn--" "Mommy sudah membangunkanmu dari tadi, kenapa belum bangun? Berhenti membuat Mommymu menunggu, Ace!" potongnya. Seolah ada angin lewat di depan wajahku. Dingin, itulah yang kutanggap dari nada. Aku terpaku di tempat seperti orang bodoh! "Bersiap dan cepat turun! Mommy memasakkan makanan kesukaanmu" Daddy tersenyum singkat. Aku tahu senyum tipis yang ia sunggingkan adalah palsu. Bibir itu seolah berat untuk tertarik keatas. Biasanya tanggannya akan terulur membelai rambut panjangku, tapi sekarang... Kutatap punggung yang menjauh itu dengan tatapan sedih, tanganku menggenggam erat gagang pintu. Lagi, aku menangis lagi karena sikapnya yang dingin. Aku tidak ingin seperti ini! Ini tidak adil! Kenapa hanya aku yang tersiksa karena merindukanmu! Kenapa kau melakukan ini padaku, Dad! Aku ingin meneriakinya dan mengumpatinya dengan suara yang lantang! Mengatakan bahwa aku sangat merindukannya! . . Sesuai perkataan Daddy, Mommy memasakkan sarapan kesukaanku. Kami sarapan bersama setelah 1 minggu tidak berkumpul lengkap di meja makan seperti ini. Tidak seperti biasanya, kini aku mendadak menjadi lebih diam dan menyahut seperlunya. Setelah mendiamkan kemarahanku dan tidak membujukku seperti biasa, Daddy malah memperlihatkan kemesraannya bersama Mommy di depanku, membuat nafsu makanku hilang. Aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. "Kenapa pagi ini kau begitu cantik, sayang!" kukira Daddy mengatakan itu padaku, tapi ternyata salah! Daddy menopangkan wajahnya menatap Mommy yang sedang memakan sarapannya. "So beautiful! I can't take my eyes off you" "Jangan gombal, aku semakin tua dan jelek!" ucap Mommy ketika Daddy tidak berhenti memujinya cantik. "You're like a fine wine, better with age! Kau bertambah cantik, sayang" kata Daddy kembali menggombal, mengatakan bahwa Mommy seperti wine, yang semakin tua maka akan semakin berkualitas! Perkataan romantis itu berhasil membuat Mommy tersipu malu, "Benarkah? Tapi aku semakin gemuk" keluhnya. Daddy mendekatkan kursi makannya ke arah Mommy, menatap Mommy dengan mata hangatnya. "You look hot today!" bisik Daddy yang masih bisa kudengar. See! Daddyku itu memang pandai sekali menggombal, mulutnya begitu manis! Daddy mengecup bibir Mommy sekilas, lalu Mommy pun membalas dengan melakukan hal yang sama. Seolah Daddy memang sengaja memperlihatkan keromantisannya padaku! Bukankah aneh seorang anak cemburu melihat orangtuanya bermesraan hingga berciuman di depannya? Entah kemana hati nuraniku yang malah cemburu dengan Mommyku sendiri. Aku menyayangi Mommy, tapi keinginanku untuk mendapatkan Daddy telah membutakanku. Nasfu makanku sudah benar-benar hilang! Aku sudah tidak tahan melihat mereka yang mengumbar kemesraan seperti itu. Sampai-sampai mengabaikanku dan melupakan bahwa aku juga bagian dari mereka. "Mom, Ace sudah selesai makan. Ace ke kamar duluan" pamitku. "Buru-buru sekali, sayang" ucap Mommy. "Ace ada janji pergi bersama teman pagi ini" beritahuku lagi, yang sebenarnya hanya kebohongan! "Jangan pulang terlalu sore, sayang. Karena kita akan pergi ke pesta 7 bulanan tante Esia" peringat Mommy. Aku mengangguk, tentu saja aku tidak akan melupakan acara penting itu. "Tentu saja, Mom. Ace bahkan punya berita gembira untuknya" asiku sudah keluar! Aku melirik Daddy yang masih setia menatap Mommy. Padahal aku ingin mengatakan itu pertama kali padanya. "Mommy akan menyiapkan gaunmu" ucap Mommy. Aku menggeleng, "Tidak perlu, Mom. Ace akan memilihnya sendiri" Tema 7 bulanan tante Esia adalah party karena tanteku itu sangat menyukai party dengan dress code hitam putih. "Baiklah. Kalau begitu Daddy akan mengantarmu ke butik nanti" ucap Mommy melirik Daddy. Senyumku tersungging senang "Tentu--" "Daddy tidak bisa. Ada meeting" tolak Daddy cepat membuatku kembali terseyum masam. "Ace bisa ke butik sendiri, Mom" ucapku seolah tak masalah. "Baiklah, karena kita akan datang terpisah. Jangan terlambat, ya" peringat Mommy. Karena kesibukan mereka kami tidak bisa datang bersama-sama ke acaranya tante Esia. Aku memaklumi itu, biasanya juga begitu. "Maafkan Daddy tidak bisa mengantarmu, little princess" ucap Daddy. Setelah aku berhasil membuat spermamu terbuang di sofa, kau masih bisa memanggilku dengan sebutan little princess, Dad!? Cih, yang benar saja! Lalu Daddy beralih pada Mommy lagi, "Sayang, berikan aku sopnya lagi. Masakanmu sangat enak" ucapnya pada Mommy. Aku melangkahkah kaki menuju kamar sambil terus mengumpati Daddy dalam hati. Jika kau bisa bermesraan dengan Mommy di depanku seolah tidak pernah terjadi sesuatu pada kita. Maka, aku juga bisa melakukan hal yang sama! Aku akan mencari pria lain di luar sana! Mempertontonkan kemesraanku dengannya! Akan kutunjukkan bagaimana cara bermesraannya anak muda! Masa bodo jika kau akan marah, Dad! Fuck you, Daddy! . . TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN