"Bagaimana jika seperti yang sering Daddy dan Mommy lakukan?"
.
.
"Dad?" tegurku karena Daddy hanya diam saja. Daddy kembali menatapku, meyakinkan diri kembali.
Tanpa diduga, sebelah tangannya terangkat dan membelai singkat pipi mulusku, kemudian menarik wajahku agar lebih dekat pada wajahnya. Perlakuanya yang tiba-tiba itu kembali membuat darahku berdesir dan jantungku berdebar cepat. Aku menatapnya tanpa berkedip. Aku gugup! sangat gugup! tapi tetap berusaha bersikap biasa.
Apakah Daddy akan melakukannya?
Benarkah?
"Pejamkan matamu, Ace!" perintahnya dengan suara lembutnya diselingi senyum hangatnya. Aku tau dia ragu. Matanya itu terlihat tidak setenang biasanya, mungkin karena ia harus mencium putrinya sendiri. Dalam artian ciuman yang berbeda!
Dengan perasaan senang luar biasa aku mulai memejamkan mata, mengikuti perintahnya. Detik selanjutnya dapat kurasakan nafas hangat menerpa wajah cantikku. Merasakan itu membuatku reflek menahan nafas. Rasanya sangat-sangat mendebarkan.
Cukup lama aku memejamkan mata, namun aku tidak kunjung merasakan benda kenyal miliknya menyentuh bibirku. Nafas hangatnya itu terus menerpa wajahku, apa Daddy kembali ragu?
Kenapa hanya diam, Dad?!
Aku ingin membuka mata, berniat mengintip namun sebelum aku melakukan itu kurasakan bibirnya yang seksi menempel tepat di bibirku, pikiranku mendadak kosong, tubuhku seolah meleleh dan melebur bersama dengan dalamnya air kolam.
Akhirnya...
Aku mendapatkan bibirnya! Bibir itu lembut, kenyal, dan hangat.
Bibir yang selama ini menjadi fantasi dalam ciuman terpanasku!
Beberapa detik bibir kami hanya menempel, akupun tidak tau harus merespon bagaimana karena memang ini adalah first kissku! Kupikir hanya dengan menonton drama dan beberapa film dewasa bisa membuatku ahli dalam berciuman. Nyatanya otakku mendadak kosong, yang kami lakukan hanya mengantupkan dan menempelkan bibir.
Selanjutnya aku merasakan Daddy mulai menggerakkan bibirnya pelan dan lembut. Awalnya ciumam biasa yang halus dan sopan, namun hawa panas seolah menyelimuti kami hingga ciuman itu menjadi sedikit lebih liar dan menuntut.
Sebelah tangannya yang digunakan untuk menangkup pipiku kini menjalar pelan menuju tengkukku, menekannya hingga membuat ciuman kami semakin dalam. Lalu sebelah tangannya lagi yang menganggur menarik pinggangku agar menempel pada tubuhnya membuat tanganku reflek bertumpu di atas pundaknya dan kakiku menginjit di dasar kolam. Aku tidak bisa mengontrol debaran jantungku yang luar biasa, kakiku mendadak lemas.
Posisi kami menjadi lebih intim. Payudaraku menekan d**a telanjangnya, dibawah sana tangan Daddy mengusap-ngusap area pinggangku, menimbulkan sensasi yang..
Emmh!
Membuatku ingin merasakan yang lebih!
Kurasakan ciumannya mulai menuntut, Daddy melumat bibir atasku kemudian bibir bawahku, menghisapnya dan terus berulang seperti itu. Aku yang pemula hanya menggerakkan bibirku perlahan dan asal. Kedua tanganku sudah mengalung dilehernya. Melupakan fakta bahwa Mommy bisa saja memergoki kami.
Suara dacapan bibir kami terdengar jelas di telingaku, membuat kegiatan berenang pagi ini menjadi lebih panas. Dari ciumannya aku tau Daddy sudah benar-benar ahli!
"Dadhh.." suaraku terdengar aneh bahkan ditelingaku sendiri.
Aku cukup kaget ketika Daddy menggigit bibir bawahku sehingga reflek aku membuka sedikit mulutku. Detik selanjutnya lidahnya menelusup ke rongga mulutku.
Awalnya agak asing, namun perlahan aku menikmatinya. Lidahnya mengeksplor apapun yang bisa ia eksplor. Sedikit tidak menyangka Daddy akan melakukan itu, kupikir ia hanya akan sebatas menciumku, tapi ini...
Luar biasa rasanya! Ciumannya lebih panas dari bayanganku.
Aku ingin lagi!
Lagi!
dan Lagi!
Lidahnya membelit lidahku didalam sana, seperti mengajaknya bermain. Kemudian kembali mengecup, menghisap, dan melumat bibirku. Kepala kami bergerak ke kiri-kanan mencari posisi ternikmat, tanganku tanpa sadar meremas belakang kepalanya, menelusupkan jari-jariku di antara helaian rambut hitamnya yang pendek dan halus.
Aku begitu terbuat dengan ciumannya!
Begitupun Daddy, tangannya yang berada di pingangku perlahan naik. Baju renangku yang terbuka di bagian punggung memudahkannya untuk menyentuh kulit punggungku secara langsung. Mengelus lembut di bagian sana! tubuhku meremang.
Owhh~
Kepalaku pening karena ciuman hebat Daddy. Suara decapan dan air liur kami menjadi satu di dalam sana hingga ikut menetes dari mulut kami yang bergerumul panas.
"Emhh Daddyhh.." desahku.
Seolah tersadar, Daddy melepaskan ciumannya dan hal itu membuatku merasa kehilangan. Tangannya yang merengkuhku posesif pun kini sudah dilepaskannya. Aku membuka mata, nafas kami sama-sama tersegal, tangganku masih mengalung di lehernya, menatapnya dengan mata sayu.
Aku b*******h!
Dadaku turun naik bersamaan dengan nafas yang memburu. Aku mencoba meredam gairahku yang mudah sekali tersulut hanya karena ciumannya.
Ciuman panas itu berlangsung selama 3 menit lebih. Aku akui kami sama-sama hebat dalam menahan nafas. Tentu saja kami adalah perenang handal dan sudah terlatih dalam hal pernafasan. Daddy menatapku sambil tersenyum dan mengusap air liur di pinggiran bibirnya dan bibirku.
"Amatir" ucapnya.
Apa Daddy baru saja mengejekku?
Aku menatapnya merengut, tentu saja ini pertama kali bagiku dan aku akui ciumanku berantakan, sulit sekali mengimbangi liarnya bibir dan lidah Daddy. Tapi aku adalah anak yang cepat belajar, hanya perlu beberapa kali lagi aku yakin bisa menjadi ahli dan bisa mengimbangi bahkan lebih dari yang Daddy bayangkan.
"Itu sebabnya Daddy harus mengajari Ace lagi, Ace cepat belajar kok Dad!" balasku penuh semangat.
"Apakah ciuman hebat seperti tadi ada namanya, Dad?"
"It's called a french kiss"
Daddy tersenyum dan menurunkan tanganku yang mengalung dilehernya, kemudian mengusap suraiku seperti biasa.
Dalam hati aku merutuk kenapa Daddy bisa terlihat sesantai itu setelah mencium seorang gadis, apa karena aku adalah anaknya, sehingga ia tidak merasakan perasaan apapun?
Perlahan akan ku pastikan tatapan biasa itu akan berubah menjadi tatapan memuja! Memuja semua yang ada pada diriku, Dad! hingga kau tidak bisa menjauh dariku, bahkan kau sendiri yang akan datang padaku!
"Ace menyukai ciuman Daddy. Sangat menyenangkan dan enak!" seruku dengan wajah berbinar bahagia, seperti anak kecil yang diberi mainan baru.
Ucapanku barusan berhasil membuat Daddy tersedak ditempat, ia nampak seperti remaja yang sedang salah tingkah. Manis sekali!
"Ternyata Daddy sangat hebat! Tidak salah Ace berguru pada Daddy!" pujiku lagi dengan tampang polos.
Kulihat Daddy kembali menghela nafas berat, dari raut wajahnya sepertinya ia merasa bersalah telah menciumku, bahkan ciuman tadi sangat mendebarkan dan menyulut gairah. Apakah ia merasa berdosa? Tentu saja tidak ada orangtua yang mencium anaknya sebegitu dalamnya seperti yang ia lakukan tadi.
"Maafkan Daddy, Ace" ucapnya dengan suara rendah, Daddy menatapku dengan matanya yang menghangat. Ah, tatapan itu aku tidak suka melihatnya. Kenapa Daddy harus minta maaf dengan wajah seperti itu?
Membuatku tidak tega.
"For what, Dad?" ucapku mengernyit binggung.
"Tidak seharusnya Daddy menciummu. Sebenarnya itu perbuatan yang salah" tuturnya.
See! he's a good guy! and now he feels bad.
"Apanya yang salah, Dad? bukankah ini sama saja seperti Daddy yang mengajari Ace berenang?" tanyaku.
Dalam anggapan Daddy aku hanyalah anak kecil yang polos, ia tidak akan pernah menyadari pikiran dan segala rencana m***m yang selalu bersemayam di otakku.
"Ace"
"Itu berarti Daddy tidak akan mengajari Ace lagi?" tanyaku sendu.
Daddy diam.
"Baiklah sepertinya Ace akan mencari-"
"Ace!" potongnya cepat dengan tatapan yang kembali menukik tajam. Aku tau Daddy tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Lalu Ace harus bagaimana, Dad? Ace suka, tapi Daddy tidak mau melakukannya lagi" ucapku dengan raut wajah sedih dan kecewa.
"Jika saja Ace memiliki pa-"
"Jangan melakukan hal itu pada orang sembarangan, ingat Ace!" tekannya lagi.
Dasar posesif! itulah sebabnya tidak ada pria yang benar-benar berani mendekatiku secara serius, mereka mundur setelah bertemu Daddy.
"Kalau begitu harusnya Daddy tidak menolak, Daddy sudah berjanji diawal..." ucapku mengingatkannya kembali.
Aku menangkup sebelah tangan Daddy, menggenggamnya lembut kemudian menatapnya dengan mata indahku. Aku harus menghilangkan perasaan ragu dan bersalahnya! membuatnya yakin bahwa ini bukan kesalahan agar ke depannya kami bisa sama-sama menikmatinya.
"It's just kiss and nothing is wrong" ucapku mencoba meyakinkannya bahwa itu hanya ciuman dan tidak ada yang salah dengan itu.
Daddy menghela nafas berat, memantapkan hatinya. Ia tidak mungkin membiarkanku melakukan kiss dengan siapapun itu. Terutama banyak lelaki b******k diluar sana.
Tentu saja ia tidak ada pilihan lain, kan?
"Alright, just for Daddy's beloved daughter" putusnya, demi putri kesayangannya ini.
Mendengar itu membuatku kembali tersenyum penuh kemenangan.
"Thanks, Dad! I love you so much" ucapku kemudian memberikan sebuah kecupan tepat di bibir seksinya. Daddy nampak kaget dengan tingkahku yang menciumnya tiba-tiba. Mengabaikan kekagetannya, aku malah manampilkan senyum termanisku.
Akhirnya Daddy kembali menampilkan senyum menawannya dan mulai mengacak-ngacak puncak kepalaku.
"Daddy juga menyayangi little princess Daddy ini"
Kedepannya akan kupastikan hubungan kita akan lebih panas dan penuh gairah!
Let's see!
.
.
TBC