Hari berlalu begitu cepat, tidak terasa beberapa Minggu lagi prosesi lamaran yang sudah ditetapkan tanggalnya akan segera digelar. Semua sibuk mengurus apa saja yang harus disiapkan. Meskipun baru lamaran tetapi dua keluarga ini telah sibuk mengurus kebutuhan yang diperlukan. Mulai dari gedung, catering, busana yang akan dikenakan nanti semua harus dipersiapkan matang-matang.
Tak mau mengecewakan para undangan pak Hermawan benar-benar mempersiapkan semuanya begitu matang. Ia tidak mau dijadikan bahan omongan jika pesta lamarannya tidak sesuai dengan yang dia inginkan.
***
Suci dan Nino pergi menghirup udara malam yang segar sembari berjalan-jalan santai di setiap jalan di sudut kota Yogyakarta. Berjalan santai sambil menghirup udara malam, menikmati hidangan pinggiran kaki lima yang tiada duanya itu sudah menjadi kebiasaan sepasang kekasih ini setiap satu Minggu sekali. Hal seperti ini yang Suci sukai, tidak perlu mewah asalkan bersama Nino semua sudah terasa sempurna. Dari sifat ini lah Nino menyukai Suci. Kesederhanaan yang dimiliki Suci memunculkan kehangatan dan rasa nyaman tersendiri untuk Nino. Wajar saja dulu semasa kuliah Suci menjadi primadona di kampusnya dan Nino lah yang berhasil meraih hati sang primadona kampus tersebut.
Suci dan Nino berbincang, tertawa bersama hanya sekedar untuk melepas penat dan melepas rindu selama tidak bertemu karena kesibukan mereka masing-masing. Sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara ini sangatlah serasi membuat mata siapapun yang melihatnya menjadi iri. Hingga semua mata tertuju pada mereka berdua.
Tidak terasa karena asyik dengan hangatnya kebersamaan, jarum jam yang melingkar di pergelangan tangan sudah menunjukkan pukul 23.00. Suasana kota Malioboro yang masih ramai kunjungan membuat mereka tidak sadar kalau waktu sudah hampir larut malam. Nino mengantarkan Suci untuk pulang karena takut orang tua Suci khawatir.
Sampai di rumah Suci, Nino mengantarkan Suci hingga ke depan pintu rumahnya. Setelahnya Nino pun melajukan mobilnya untuk pulang. Di tengah perjalanan pulang ke rumahnya, tiba-tiba mobil Nino berhenti karena Nino mengeremnya mendadak. Nino merasakan rasa yang amat sakit di bagian dadanya. Sejenak, ia beristirahat untuk menghilangkan rasa nyeri yang menyerang dadanya secara tiba-tiba. Setelah dirasa sudah cukup lebih baik, Nino pun melanjutkan perjalanannya menuju ke rumahnya. Setelah sampai di rumahnya, Nino pun bergegas untuk bersih-bersih dan beristirahat.
***
Pagi pun tiba, ibu Suci yang berniat akan membangunkan anaknya tiba-tiba terkejut mendengar teriakan anaknya memanggil-manggil nama Nino. Tak tunggu waktu lama, ibu Suci pun langsung menuju kamar putrinya untuk memastikan keadaan Suci. Saat dihampiri, Suci sudah duduk dengan napas tersengal sambil menangis. Begitu ibunya datang menghampiri Suci langsung memeluk ibunya.
"Ada apa nak, kamu kenapa?" tanya ibu Suci karena khawatir akan keadaan anaknya.
"Suci bermimpi Bu. Di mimpi Suci, Nino memakai baju putih kemudian Nino pergi meninggalkan Suci. Suci sudah mencoba memanggilnya tapi Nino tidak mendengarnya. Suci takut Bu," cerita Suci yang singkat kepada ibunya tentang mimpi buruknya.
"Itu hanya mimpi sayang, mimpi itu adalah bagian dari bunga tidur. Tidak apa-apa, tidak usah terlalu kamu pikirkan ya. Sekarang lebih baik kamu ambil wudhu kemudian kita shalat subuh bersama, ayah sudah menunggu di bawah," ucap sang ibu sembari menenangkan anaknya yang masih terus saja ketakutan karena mimpi buruk yang dialaminya.
Suci mengikuti perintah sang ibu, kemudian ia bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, lalu ia menyusul ayah dan ibunya yang sudah menunggunya. Ya, keluarga ini memang rutin sekali untuk shalat berjamaah di rumah. Sesibuk apa pun, mereka pasti menyempatkan diri untuk shalat bersama.
Setelah selesai shalat tidak lupa Suci memanjatkan doa, mendoakan kedua orang tuanya dan tidak lupa berdoa agar mimpi semalam tidak menjadi kenyataan. Karena sudah bisa dipastikan bagaimana hancurnya hati Suci apabila Nino benar-benar pergi meninggalkannya.
***
Kini jarum jam dinding sudah menunjukkan pukul 06.00, Suci membantu ibunya menyiapkan sarapan, setelah dirasa sudah cukup keluarga ini pun sarapan bersama. Kebiasaan yang hampir tiap pagi dilakukan. Orang tua Suci sangat bersyukur memiliki anak semata wayang seperti Suci, anak berparas wajah cantik, berhati baik dan sangat penyayang ini merupakan anugerah dari Allah yang akan selalu mereka jaga. Suci pun begitu, sangat beruntung dilahirkan di keluarga yang benar-benar menjaga dan mengasihinya sepenuh hati.
Selesai sarapan Suci pun berpamitan untuk berangkat ke kantor karena pagi ini ia ada rapat penting dengan perusahaan baru yang akan bergabung di perusahaan ayahnya. Tidak ingin mengecewakan ayahnya, Suci berangkat lebih awal dari jam biasanya ia berangkat ke kantor.
Menggunakan mobil berwarna hitam pekat, Suci berjalan menelusuri jalanan Yogyakarta yang sudah ramai oleh kendaraan lain. Tidak biasanya wajah Suci murung. Ia masih ingat akan mimpinya semalam, ia benar-benar takut jika mimpi itu akan menjadi kenyataan.
Tak berapa lama Suci pun sampai di kantornya, ia memberikan kunci mobilnya kepada satpam untuk diparkirkan di basement kantor. Suci pun langsung menuju ruangan rapatnya dengan muka yang tidak biasanya. Orang-orang yang melihat bahkan menyapanya sangat heran akan sikap Suci pagi ini yang lain dari biasanya. Ya, Suci hanya berjalan sambil memasang muka cemas sampai-sampai setiap orang yang menyapanya tidak ia hiraukan.
Pikiran Suci kalut tapi Suci mencoba tetap tenang dan profesional dalam pekerjaannya hingga rapat selesai. Sepanjang rapat berjalan, hanya beberapa kali saja Suci memberikan senyuman, sungguh memang tidak seperti biasanya.
Dua jam berlalu, rapat pun telah usai dan hasilnya Suci berhasil meyakinkan kliennya untuk melakukan kerjasama dengan perusahaan ayahnya. Sungguh luar biasa memang, di dalam kekalutan karena mimpi buruknya Suci bisa seprofesional itu bahkan sampai bisa meyakinkan kliennya agar mau bekerjasama dengan perusahaannya.
Suci kembali ke ruang kerjanya dan duduk di kursi kebesarannya. Suci mengambil handphone dari tas mahalnya, ia mendial nomor Nino. Sekali sampai dua kali panggilan tidak ada jawaban membuat Suci nampak cemas. Tidak tunggu lama Suci bergegas ingin pergi menghampiri Nino ke kantornya. Tapi saat Suci akan membuka pintu handphonenya berbunyi dan terdapat nama Nino yang memanggilnya. Suci langsung mengangkat telepon dari Nino dan memberondong berbagai macam pertanyaan. Sungguh lucu memang tingkah Suci membuat Nino sangat gemas, mungkin jika berada di dekatnya Nino akan mencubit pipi tirus milik Suci.
Nino menjelaskan kenapa ia tidak mengangkat telepon dari Suci. Nino sedang mengadakan rapat dan Nino tidak membawa handphone karena handphonenya tertinggal di ruang kerja. Setelah kembali ke ruang kerja Nino melihat ada panggilan tidak terjawab dari Suci kemudian Nino langsung menelepon Suci. Mendengar penjelasan dari Nino, suci menjadi sedikit lebih tenang, dan agar perasaan hatinya lebih tenang lagi ia mengajak Nino untuk bertemu nanti malam membahas akan mimpinya semalam. Sungguh perasaan kalut masih menghantui pikirannya jika ia belum berbicara kepada Nino. Ia ingin memastikan jika Nino tidak akan pernah pergi meninggalkan ia apa pun alasannya.
"Aku mau nanti malam kita bertemu di cafe tempat biasa ya, tunggu aku disana," ucap Suci dengan nada biasa saja. Nino pun mengiyakan dan bertanya-tanya apa yang mau dibicarakan oleh kekasihnya karena mendengar dari nada suara Suci sepertinya yang akan dibicarakan nanti malam sangatlah penting.
Suci pun menutup teleponnya dan kembali ke meja kerjanya untuk melanjutkan pekerjaan yang belum selesai.
Bersambung…