Di ruangan ICU nampak Suci yang tengah terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit karena keadaan sebelumnya, ia cukup kritis atas insiden kecelakaan yang menimpa dirinya. Ditambah, ia baru saja menjalani sebuah operasi karena pendarahan hebat di kepalanya yang menyebabkan ia kehilangan indera penglihatan akibat kerusakan syaraf di otaknya. Semua orang yang melihat keadaan Suci dari jendela ruangan ICU cemas, mengingat sudah beberapa jam Suci tak sadarkan diri pasca operasi. Terlihat Nino yang masih setia menunggu sampai Suci terbangun.
"Nak, kita pulang dulu ya istirahat dulu, nanti pasti suster akan ngabarin kita kalo Suci sudah terbangun," ucap Dian karena tidak tega melihat anaknya.
"Enggak mah, Nino mau nungguin Suci sampai ia benar-benar sadar. Nino gak akan pernah tinggalin Suci. Lebih baik mama sama papa saja yang pulang, nanti Nino kabarin kalo Suci sudah sadar." Ucap Nino sembari menyuruh ibunya untuk pulang mengingat hari sudah sangat larut.
Hermawan dan Dian pun pamit kepada keluarga Suci untuk pulang. Setelah orang tuanya pulang, dengan langkah perlahan Nino menghampiri Suci yang masih terbaring lemah. Ia menempatkan jari-jari tangannya ke jari-jari tangan halus milik Suci. Nino menggenggam erat tangan Suci seperti yang sangat takut akan ditinggal pergi untuk selamanya.
"Sayang, kamu harus kuat ya. Sebentar lagi kan kita akan lamaran, terus gak lama kita akan menikah, itu kan impian kita dari dulu, jadi kamu harus bangun ya!" ucap Nino kepada Suci yang tertidur berharap agar Suci bisa mendengar perkataannya dan segera tersadar dari tidurnya.
Tak sengaja, setetes air jatuh dari pelupuk mata Nino. Ia menangis melihat keadaan Suci saat ini sampai-sampai ia tertidur di tepi ranjang dengan masih menggenggam erat tangan milik Suci.
***
Cahaya mentari menyambut pagi. Nino terbangun karena dikejutkan dengan suatu hal. Jari jemari tangan Suci bergerak perlahan. Nino pun terbangun, dan terus memanggil-manggil nama Suci.
"Sayang, sayang. Kamu sudah sadar?" ucap Nino yang kegirangan karena tahu kekasihnya telah siuman dari tidurnya.
Nino pun memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Suci. Dokter dan perawat pun datang untuk mengecek keadaan Suci yang sudah mulai siuman. Saat hendak diperiksa, Nino pun menunggu di depan ruang ICU agar tidak mengganggu jalan pemeriksaan dokter terhadap Suci. Setelah cukup lama memeriksa, dokter pun keluar dan memberi tahu keadaan Suci.
"Alhamdulillah, mbak Suci sudah melewati masa kritisnya, dan akan dipindahkan ke ruang perawatan," ucap dokter.
"Alhamdulillah, terimakasih dok!" ucap Nino sambil menjabat tangan sang dokter dengan penuh rasa gembira.
Dokter pun pergi meninggalkan Nino diikuti suster yang akan mempersiapkan kamar perawatan untuk Suci. Nino tidak lupa memberi kabar bahagia ini kepada orang tua Suci dan juga orang tuanya. Mendengar kabar baik dari Nino, orang tua Suci pun langsung secepatnya ke rumah sakit. Begitu pun dengan orang tua Nino, tapi hanya ibu Nino saja yang datang. Entah ada apa dengan pak Hermawan, semenjak tahu kabar berita bahwa Suci tidak bisa dapat melihat kembali, sifat Hermawan menjadi berbeda.
***
Semua orang telah berkumpul di kamar perawatan Suci. Dokter yang menangani Suci bersiap membuka perban yang membalut kedua mata Suci. Nino menghampiri Suci seolah-olah ingin memberi kekuatan kepada Suci.
"Alhamdulillah sayang kamu akhirnya sadar dan bisa melewati masa kritis," ucap Nino senang.
"Iya sayang, tapi kenapa mataku diperban gini ya? Kan aku jadinya gak bisa lihat." Ucap Suci yang belum tahu keadaan sesungguhnya seraya tangannya memegangi kedua matanya.
Nino yang mendengar ucapan Suci seketika terdiam membisu, ia bingung harus berkata apa. Sungguh rasanya sakit sekali, jika ia boleh meminta biarlah ia yang berada diposisi Suci. Ia benar-benar tak tega orang yang ia sayang akan mengalami nasib yang menyedihkan seperti ini. Sungguh Nino benar-benar tidak dapat membayangkan bagaimana hancurnya perasaan Suci jika nanti ia tahu kenyataan yang sesungguhnya, kenyataan bahwa ia tidak bisa melihat lagi.
***
"Dok, tolong cepetan buka perban yang ada di mata saya, saya udah gak betah soalnya," pinta Suci.
Semua orang yang mendengar permintaan Suci pun terdiam dan saling menatap satu sama lain. Mereka bingung harus bagaimana nantinya jika Suci telah tahu keadaan yang sebenarnya terjadi yang telah menimpa dirinya.
Dokter menyuruh suci untuk duduk dan perlahan dokter pun membuka perban di mata Suci hingga sampai pada balutan terakhir dan Suci perlahan membuka kedua kelopak matanya. Suci mengerjap, tapi tak sedikitpun cahaya yang masuk ke dalam matanya.
"Dokter, ini kenapa kok gelap banget ya? Nino tolong nyalakan lampunya sayang, aku jadi gak bisa lihat apa-apa?" pinta Suci.
Nino pun menghampiri Suci dan memeluknya. Suci yang kaget akan pelukan Nino pun bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya terjadi.
"Lampunya sudah nyala sayang," jawab Nino dengan suara lirih.
"Tapi kok gelap gini sih?" ucap Suci sambil meraba-raba kasur yang ia duduki. Suci pun mulai panik.
"Nino, ini kenapa sih? Mah, pah ini kenapa kok gelap gini?" tanya Suci.
Dokter pun mulai menjelaskan semuanya.
"Mohon maaf mbak Suci, karena kecelakaan yang mbak suci alami waktu itu cukup parah dan membuat kepala mbak Suci terbentur cukup keras sehingga mengakibatkan saraf mata mbak Suci putus dan mengakibatkan kebutaan," jelas dokter.
Bagai disambar petir di siang bolong, Suci yang mendengar ucapan dokter pun syok.
"Gak dok, gak mungkin! Gak mungkin dok! Dokter pasti bercanda kan? Dokter.. Dokter.. Dok..!" tanya Suci kepada dokter dengan panik.
"Nino, ini semua gak bener kan sayang? Aku masih bisa melihat kan Nino? Mah, pah, ini semua bohong kan, ini semua gak bener?" ucap Suci histeris sambil meraba-raba keberadaan Nino.
"Jawabbb, kenapa semua diam saja?" teriak Suci.
Eva yang tidak tahan akhirnya menghampiri Suci diikuti oleh Rere sahabat Suci. Mereka mencoba menenangkan Suci yang masih belum menerima kenyataan pahit yang diterimanya.
"Nak, kamu yang sabar ya, kamu harus kuat, ada mama, papa, Rere, sm Nino yang selalu disamping kamu," ucap Eva mencoba menenangkan putrinya.
"Iya Suci, ada aku juga disini, kamu harus kuat ya!" ucap Rere seraya mengusap punggung milik Suci.
"Maksud kalian apa ngomong begitu? Jadi, aku memang benar-benar gak bisa melihat, iya?" tanya Suci penasaran.
Nino yang tak kuat melihatnya hanya bisa menangis sambil memeluk ibunya.
"Gak..gak..gak mungkin aku buta, kalian semua bohong! Kalian semua penipu! Aku gak mungkin buta! Aaaarrrrgggghhhhh..." ucap Suci sambil menangis histeris.
"Kalian semua keluar dari sini, keluar!" perintah Suci dengan marah bahkan saat Nino mencoba untuk memeluknya, Suci langsung menepisnya.
"Tolong tinggalin aku sendiri!" perintah Suci dengan terisak.
"Suci sayang, kamu harus kuat ada aku disini," ucap Nino.
"Tolong tinggalkan aku sendiri!" ucap Suci dengan nada lirih.
Orang-orang pun hanya bisa mengikuti keinginan Suci, mereka tahu pasti sangat berat beban yang Suci terima. Mereka pun pergi meninggalkan Suci di kamar sendiri hanya untuk memberi waktu untuk menenangkan diri. Pasti Suci masih sangat syok atas kabar yang menimpa dirinya.
Suci hanya bisa menangis di ranjang rumah sakit meratapi kesedihan dirinya yang sudah tidak bisa melihat lagi.
"Ya Allah, cobaan apa ini? Kenapa ini semua harus terjadi padaku? Apa dosaku ya Allah?" ucap Suci seorang diri.
Suci benar-benar terpukul dengan keadaannya. Sampai-sampai ia mengamuk. Nino yang mengetahuinya langsung memanggil dokter, dokter pun datang dan memberikan suntikan penenang kepada Suci. Suci pun terkulai lemas setelah dokter menyuntikkan cairan penenang di lengannya dan perlahan Suci pun tertidur.
"Saya sudah menyuntikkan obat penenang untuk mbak Suci, saya tahu ini pasti berat sekali untuknya, saya akan mencoba menghubungi kerabat saya untuk melakukan pengobatan lebih lanjut terhadap Suci," ucap dokter kepada Nino.
"Tolong lakukan yang terbaik untuk kekasih saya dok," ucap Nino lirih.
"Kami akan melakukan semaksimal mungkin, kalian banyak-banyak berdoa saja ya," ucap dokter.
"Baik dok, terima kasih!" jawab Nino.
Dokter pun pergi meninggalkan Nino dan yang lainnya. Nino yang melihat keadaan suci benar-benar sangat terpukul. Ia berjanji sampai kapan pun akan menjaga kekasihnya itu dan mencari jalan pengobatan terbaik untuk Suci agar bisa melihat kembali. Apa pun akan Nino lakukan demi Suci, apa pun itu.
Bersambung....