“Selamat pagi, Dokter.” Sapaan yang disusul dengan kecupan itu membuat Sveta membuka matanya secepat kilat. Di hadapannya kini, tampak Dirham sedang tersenyum manis sambil membawa nampan berisi satu gelas s**u dan sepotong sandwich. “Sarapan gih, Dokter. Kita harus segera berangkat..” sambut Dirham hangat. “Huh?!” Sveta mengerjap mata kantuknya sekali lagi. “Kita mau kemana, Jano?” tanya Sveta bingung, sambil menyambar segelas s**u cokelat dari nampan itu. “Ehh,” Sveta langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan karena takut akan hukuman Dirham, yang siap menciumnya jika dia sampai salah memanggil namanya lagi. Seketika napas Dirham terasa sesak akibat menahan tawa geli, karena di pipi Sveta sudah semburat warna merah. “Kita akan pergi ke pulau Cigaro,” jelas Dirham sambil

