kegiatan Indi

1055 Kata
Nindi kini berada bersama rekan-rekannya menikmati kegiatan sore setelah mereka selesai melakukan kegiatan berbagi sejak pagi tadi. Kegiatan mereka memang memiliki jadwal roadshow khusus yang akan menjangkau seluruh Indonesa. Dan kali ini sasaran mereka adalah daerah semarang jadi hari ini Indi dan rekannya menginap. tentu saja Indi juga membawa tangan kanannya yang membantu dalam setiap kegiatan. Rara adalah pelayan dan juga tangan kanan yang ia percayai. wanita itu sudah sepuluh tahun ini mnegikuti segala kegiatan Indie. Indie juga termasuk royal pada Rara. Beberapa waktu lalu Rara harus kembali ke kampung menemui anak dan sang suami. Kini telah kembali dan menemani Indi dalam setiap kegiatan. "Jeng Indi, sesekali diajak lah Pak Juniar. Memang enggak takut kalau direbut sama perempuan lain?" tanya Tari salah satu rekannya. Suami Tari bisa dikatakan adalah salah seorang yang penting. Menjadi anggota DPRD selama kurang lebih sembilan tahun belakangan. "Dia ada urusan Jeng, lagian sama anak saya kok perginya." Indi menjawab tak terlalu cemas memang karena sejujurnya percaya sekali dengan Jun. Indi tak ingin terlalu curiga pada sang suami. Lagipula kali ini Jun pergi bersama Kuki dan tak mungkin kalau anaknya itu membiarkan Jun utuk menghubungi atau bertemu dengan wanita lain. Meski agaknya ia lupa kalau selama ini Juniar lebih banyak bepergian sendiri. Terutama saat ke Bandung. "Owalah, ada yang jagain tho. Kalau begitu ya aman," sahut Yuni. Wanita itu kemudian mendekati Indi, lalu mendekatkan wajahnya ke arah Indi dan berbisik. "Lagian lihat aja Jeng tari suaminya udah setiap kegiatan kita pasti ikut. Justru selingkuh. Suami kita kan pebisnis tho." Indi anggukan kepala, kemudian menatap pada Yuni dengan penasaran. "Masa Jeng?" Yuni mengangguk. "Udah jadi rahasia umum." "Aku malah baru tau." Indi berkata lagu, baru tau karena tak banyak bergosip. Mudah sekali untuk mendistraksi Indi. Kini ia malah semakin yakin kalau Jun itu adalah pria yang setia karena lebih memilih sibuk dengan kegiatan bisnisnya. Sepertinya Indi mengira kalau kegiatan bisnis yang dijalani oleh Jun membuat ia tak sempat memalingkan wajahnya atau menatap kepada gadis yang lebih cantik atau lebih muda darinya. Padahal selalu ada kesempatan untuk melakukan itu. Kemudian yang menjadi patokannya adalah sikap yang suami yang selalu saja manis dan perhatian. Dia merasa kalau dengan sikap yang seperti itu tak mungkin jika menduakannya. Salah satu sisi buruk anak rumahan, bahwa mereka menjadi terlalu naif. Pikir bahwa jika seseorang yang perhatian udah pasti orang baik yang akan selalu memberikan hati dan menempatkan hatinya hanya untuk dirinya saja. Setelah selesai dengan kegiatannya Indi masuk ke dalam kamar hotel. Selesai mandi ia kemudian duduk di tempat tidur. Sementara Rara tengah merapikan pakaian yang akan dibawa besok pagi untuk kembali ke Surabaya "Ra, menurut kamu bapak itu orangnya gimana?" Rara menatap ke arah Indi, agak sedikit bingung mengapa tiba-tiba bertanya seperti itu. "Menurut saya Bapak sih baik, meskipun terlihat dingin dan cuek. Tapi selama ini Bapak perhatian banget sama ibu." "Saya juga ngerasa kayak gitu, meskipun sempat curiga juga sama kelakuan bapak beberapa hari lalu." "Memangnya beberapa hari lalu ada apa Bu?" "Nggak ada apa-apa sih cuman saya waktu itu kepo aja sama hp-nya dia. Dan Emang sepertinya nggak ada apa-apa cuman pikiran saya aja yang terlalu berlebihan." *** Reya cemas sejak pulang dan membersihkan diri ia takut sekali. Reya tau kalau Jun kini ada di rumah Lili. Reya tau Jun bisa melakukan apa saja jika ia mau. Reya duduk bersama Ratna di kamar sang ibu. Sejak tadi mengupas buah jeruk untuk Ratna. Sementara pikirannya berkelana, tau sebentar lagi Jun akan menghubungi, tau akan mendapatkan hukuman karena tingkahnya yang membangkang. "Kamu capek Nak?" tanya Ratna pada Reya yang terlihat sedikit pucat. Gadis itu menatap sang ibu lalu tersenyum. "Enggak Bu." "Kalau capek istirahat sana." Ratna meminta Reya untuk istirahat karena merasa cemas dengan kondisi si sulung. "Lumayan capek karena kayaknya ini hari pertama Bu. jadi, aku harus penyesuaian. Ibu Jangan cemas aku baik-baik aja. Cuma butuh istirahat sedikit aja kayaknya." Reya tak ingin membuat sang ibu cemas. "Ya udah, kamu istirahat sana. Lagian ibu kan udah bisa jalan sedikit-sedikit, meskipun merambat. Jangan selalu cemas, Ibu nggak akan kemana-mana." Ratna mengatakan itu sambil membelai rambut si sulung. Reya anggukan kepala kemudian ia merebahkan tubuhnya di samping sang ibu. Reya memilih untuk beristirahatlah jauh dari Ratna. Jadi jika ibunya bergerak atau melakukan sesuatu ia bisa segera bangun dan menolong. Saat itu ponsel miliknya berdering ia segera mengangkat panggilan. Terlihat jelas bahwa nama pemanggilnya adalah Jun. Reya tak mengucapkan salam ia hanya dia mendengarkan. Takut salah bicara dan sang ibu jadi curiga "Saya tunggu kamu di luar gang. Kalau sampai 20 menit nggak datang juga. Saya yang ke rumah kamu," ancam Jun kemudian dia itu segera mematikan panggilan. Ia tau kalau Reya diam tak menyapa, di sana ada orang lain. Tentu saja saat ini gadis itu bingung bagaimana harus meminta izin kepada sang ibu. Apalagi adik bungsunya belum pulang. Reya: Adik aku belum pulang. Jun: Saya tunggu sampai Arka pulang. Reya: Kita udah putus kan om? Jun: Tidak ada kata putus. Kalau kamu mau putus ngomong langsung ke saya. Saya enggak suka dengan cara kamu itu. Reya: Om tolong jangan kayak gini. Jun: Saya tunggu kamu. Kalau sampai jam tujuh malam kamu nggak datang juga, saya yang ke rumah kamu. Saya bisa lihat Arka datang dari sini. Tentu saja apa yang dikatakan oleh kekasihnya itu membuat Reya jadi semakin pusing. Apalagi saat ini Arka belum kembali dari kampusnya. Siapa yang akan menjaga Ratna jika dirinya pergi bersama Jun? Dan alasan apa yang harus diberikan pada sang ibu? Kalau sudah marah dan kesal Jun memang ada-ada saja tingkahnya. Banyak pertanyaan yang ia pikirkan kini mencari cara untuk ke luar rumah. Takut Jun tiba-tiba saja datang. Buat dirinya semakin pusing saja. "Kamu mikirin apa sih Nak?" Ratna bertanya ketika melihat sang putri terlihat begitu cemas. Reya terdiam sesaat sampai kemudian ia terpikirkan sesuatu. "Ini Bu ada temenku, kebetulan dia dari Depok udah ngajakin aku ketemuan agak jauh dari sini." lagi-lagi gadis itu berbohong. Entah berapa banyak kebohongan yang sudah ia katakan kepada sang ibu karena harus menuruti keinginan Jun. Lalu apakah Ratna mengijinkan buah hatinya itu untuk pergi? ia juga menatap pada Reya yang terlihat kelelahan. Rasanya menjadi iba jika anak gadisnya itu harus keluar lagi untuk melakukan sesuatu. "Kamu enggak capek Nak?" "Enggak kok Bu, lagian temen aku udah nunggu. Kita mau ada ngajuin cerita kolab gitu." Reya berujar sambil tersenyum. Membuat diri sebaik mungkin agar diijinkan pergi keluar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN