Kerokan jalan mulia

1016 Kata
Reya berjalan cepat ke luar seolah takut dibuntuti. Ia takut jika Arka mengikutinya dari belakang karena gadis itu berencana untuk menemu Om Jun. Akan berbahaya jika Arka memergoki dirinya bersama paman dari Lily, sahabatnya. Apalagi halka juga mengenal anak dari Om Jun. Meskipun tak terlalu dekat, tapi beberapa kali keduanya bertemu saat Lily membawa saudaranya itu main ke rumah Reya. Ratih menatap cemas putri sulungnya, apalagi ini sudah cukup malam. "Ka, susul Mbak-mu sana. Udah malam ini." Arka anggukan kepala, ia segera berjalan cepat ke luar dari kamar. Namun, di lorong ia kini tak melihat siapapun. Arka berjalan menuju lorong ke luar, dan ia tak juga menemukan Reya. Tentu saja itu karena sang kakak melaju sampai kilat agar tak dipututi. Anak itu menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil celingukan di tengah-tengah lorong. "Yaelah, mana nih kakak gue yang gemoy?" gumamnya pada diri sendiri. Reya berjalan ke luar ke parkiran belakang tempat Jun tadi mengantar dan mengatakan akan menunggu untuk memastikan keadaannya. Semua Jun lakukan karena tak ingin membiarkan kekasihnya itu sendirian. Dan dia akan tetap berada di sana untuk memastikan tak ada sesuatu yang buruk terjadi. Langkahnya dipercepat sampai ia tiba di depan mobil Jun, Reya segera masuk ke dalam mobil. Melihat si om yang kini tengah tersenyum menatap ke arahnya. Reya segera duduk di samping pria itu. Jun sedikit merasa lega, saat melihat raut wajah kekasihnya yang terlihat baik-baik saja. Hanya ada Jun dan Reya sementara sopir Jun, meminta ijin untuk ke toilet. Jadi keuntungan juga buat keduanya agar bisa bersama, setidaknya untuk sementara saja sampai Jun harus pulang nanti. "Gimana ibu?" tanya Jun rambut seraya merapikan rambut Reya dengan tangannya. "Syukur udah sadar Om dan cuma perlu istirahat karena tulang panggulnya retak," jawab Reya sambil tersenyum lalu mengarahkan bibir mengecup tangan Jun saat melewati bibirnya. Jun senang dan lega, jadi tak terlalu cemas setelah mendengar penjelasan barusan. "Kalau ada apa-apa hubungin saya ya?" "Iya Om." Jun menatap Reya, masih ada rindu dalam hatinya. Pria itu bergerak ke arah pintu depan dan mengunci mobil dari dalam, Ia kembali ke arah kekasihnya dan mengecup dan cium bibir Reya sebelum ia pulang ia menyempatkan membuat tanda kepemilikan di ceruk kekasihnya. Tentu saja karena ini kesempatan terkahir setidaknya untuk saat ini. Bahkan saat ini terpaksa menahan diri, padahal Ia menginginkan sesuatu yang lebih dari ini. Pria itu masih merasa kurang menghabiskan waktu bersama dengan Reya. Biasanya menghabiskan waktu beberapa hari dan ini hanya semalam saja. Rasa rindunya masih menumpuk sangat banyak "Om," desah Reya lirih meminta jun menghentikan kegiatannya. Jun menghentikan, setidaknya ia hanya ingin itu sampai mereka bertemu lagi dua minggu lagi. Atau sesukanya saat ia benar-bener kangen dengan gadis simpananya itu. Jun menghapus bibir Reya yang basah akibat ulahnya. Kemudian tersenyum dan malah mencumbunya lagi. Bibir Reya dikecup, sambil Jun gigit nakal, lalu hisap dan mempermainkan tangannya di tubuh kekasihnya buat Reya mendesah. "Om, stop.* Reya meminta sambil menahan tangan Jun. Jun melepas, tau betul ini bukan situasi yang tepat. Meski ingin sekali rasakan tubuh Reya sekali lagi. "Istirahat ya? Hmm? Jangan capek jangan sakit." Reya anggukan kepala. Sambil mengatur napasnya. Aku aul. "Om juga jangan sakit, jangan capek-capek. Mau langsung balik ke Surabaya?" "Saya mau nginep ke hotel dulu dan balik ke Surabaya pagi nanti." "Oke kalau gitu, Om juga istirahat ya?" Pria tegap itu mengusap pucuk kepala Reya. "Iya, sayangnya Om," jawab Jun. Setelah kecup perpisahan itu Jun menyempatkan diri untuk mengantar Reya membeli makanan. Pria itu tak ingin sang kekasih kelaparan saat menjaga ibunya nanti. Apalagi di hotel tadi mereka belum sempat makan malam. Kemudian Jun mengantarkan gadis itu kembali ke rumah sakit. Setelah Reya turun mobil itu melaju kembali menuju Surabaya. "Pak Ahyat, saya udah transfer ke kamu. Saya harap kamu tetap tutup mulut seperti biasanya." Jun mengancam. Seperti biasa uang tambahan setiap kali sang sopir menemaninya ke Bandung untuk menemui kekasihnya. Itu yang membuat rahasia Jun aman sampai saat ini. "Baik Pak." Reya berjalan kembali menuju ruang rawat sang ibu dengan membawa makanan dan minuman yang sudah ia beli. di ujung lorong ia bisa melihat Arka yang kini berdiri menunggu. Bersandar pada tembok dan melipat kedua tangannya di depan d**a. "Mbak cepet banget jalannya? Aku nyusul udah nggak ada." Arka katakan itu lalu mengikuti langkah Reya. "Ya, kamu aja yang kurang gerak cepat," ledek Reya. Sebenarnya ia tadi berusaha keras berjalan cepat karena khawatir diikuti Arka. Dan dugaannya benar. Arka menatap Reya, melihat sebuah tanda merah di leher kanan sang kaka. "Mbak punya pacar?"' Reya melirik cepat, reaksi itu jelas menunjukkan kalau jawabannya adalah iya. Arka menangkap itu dengan jelas lalu terkekeh. "Hmm, ini apa?" tanya sang adik seraya menunjuk leher Reya. "Merah-merah gini? Kerokan? tapi bulet-bulet." Langkah Reya terhenti kemudian mengambil tempat bedak yang berada di tasnya, membuka dan ia melihat dari kaca. Benar, ada tanda yang dibuat oleh Jun. Sial! bagaimana kalau ibu melihat ini? Itu yang ada dipikirannya. "Nah lho, bingung 'kan?" Lagi Arka meledek. "Ih, diem ah Arka!" kesal Reya. "Dikerok aja sana. Tenang sama aku rahasia aman." Arka mengatakan lalu mengorek kantong celananya. Kemudian mengeluarkan koin dari sana dan memberikan kepada sang kaka. "Ini cara paling mulia." Arka ucapan dengan tatapan menyebalkan. Reya segera menyambar uang koin pemberian Arka. Gadis itu berjalan ke kamar mandi untuk segera mengaburkan sisa kecupan Jun di lehernya. Sebal juga karena si Om malah meninggalkan jejak yang seharusnya tak berada di sana. Setelah selesai gadis itu segera berjalan ke luar. Tak ada lagi Arka. Sang adik pasti sudah ke kamar untuk menjaga sang ibu lagi. Reya melangkahkan kakinya, segera kembali masuk ke dalam kamar. Melihat Arka yang sudah sibuk mengunyah keripik yang ia beli. Reya duduk di samping sang ibu. Ratih tersenyum, memerhatikan. "Loh kamu masuk angin?" "I-iya Bu. Di sana AC-nya agak rusak jadi dingin banget." Reya beralasan. "Istirahat sana kalau gitu," pinta Ratih pada buah hatinya. Wanita itu merasa merepotkan sulungnya akibat penyakit yang ia derita. "Iya, ibu enggak usah khawatir. Ibu tenang aja ini kan cuma masuk angin." Reya genggam tangan sang ibu. Sementara itu Arka malah tertawa terbahak-bahak mendengar apa yang dikatakan sang kakak. Andai sang ibu tau kalau tanda merah itu bukan hasil dari masuk angin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN