"Tahan cah ayu, lukamu cukup dalam eyang akan mengobatimu dengan menyalurkan tenaga dalam eyang padamu, ucap seorang nenek tua berbicara sambil menahan kedua tangannya pada punggung seorang gadis yang sedang terluka.
Entah karena sebab apa yang pasti sinenek tua yang dipanggil eyang itu belum bertanya detail kejadian yang menimpa gadis cantik tersebut.
"Sekujur tubuhnya penuh luka dan terdapat luka cambukan disekujur tubuhnya. Sebut saja Eyang Manik.
Eyang Manik menemukan gadis tersebut hanyut dialiran sungai yang begitu deras.
Disaat dirinya sedang mengambil kayu bakar tanpa diduganya Eyang Manik melihat seonggok tubuh yang tersangkut dipinggir bebatuan. Lekas saja Eyang Manik langsung menghampirinya dan dilihatlah seorang gadis cantik dengan keadaan terluka cukup parah.
Dengan kesaktian yang dimilikinya dengan mudah Eyang Manik dapat membawa gadis tersebut ketempatnya tinggal. Bukan rumah tapi pantasnya disebut gubuk.
Gubuk tersebut letaknya ditengah hutan lebat dekat sungai tersebut. Eyang Manik tinggal seorang diri ditengah hutan tersebut. Dirinya lebih suka menyendiri bertapa dan mengasingkan diri dari hiruk pikuk keramaian.
Eyang Manik sudah berpuluh -puluh tahun lamanya tinggal dihutan lebat tersebut. Setelah kematian suaminya yang difitnah warga karena mengira mempunyai aliran ilmu hitam.
Dulunya Eyang Manik dan suaminya tinggal disebuah Desa yang cukup ramai. Dulunya suaminya Eyang Manik taat beribadah. Dan juga menjadi kepala Desa yang disegani para warga. Tapi karena kemunculan seseorang yang iri dengki dan ingin menjabat sebagai kepala Desa dan menguasai Desa tersebut, Akhirnya seseorang itu menghasut para warga untuk menyingkirkan bahkan membunuhnya., Akhirnya Eyang Manik mengasingkan diri ketengah hutan yang lebat tanpa seorangpun tahu. Setelah suaminya dianiya para warga Desa dan mati terbunuh.
Begitulah asal usul Eyang Manik dulunya.
Setelah mengalirkan tenaga dalamnya dan memberikan hawa murni pada tubuh si gadis cantik itu, Eyang Manik pun menyuruhnya untuk istirahat.
"Istirahatlah cah ayu, sebentar lagi kamu akan pulih seperti sedia kala, Eyang akan merawatmu sampai kamu benar -benar pulih. Minumlah obat ini dulu ucap Eyang Manik mengeluarkan satu butiran bulat hitam berukuran kecil dari saku bajunya dan memasukannya pada mulut sigadis tersebut. Lalu setelahnya membaringkan lagi gadis tersebut.
Setelah sigadis itu kembali berbaring dan tidur, Eyang Manik pun kembali keluar gubuk, entah apa yang akan dilakukannya.
Keesokan harinya, gadis cantik tersebut bangun, ia meregangkan ototnya yang sedikit sudah lebih baik, tubuhnya serasa bugar,tidak merasakan sakit seperti sebelumnya. Bayangannya kembali kemasa dimana dirinya diculik dan disiksa beberapa orang yang tidak dikenal.
Siapa yang sudah melakukan itu padanya, ah dirinya belum sanggup kalau harus memikirkan itu sekarang. Gadis tersebut mencoba mengingat siapa sosok yang sudah menyelamatkan hidupnya dari maut tersebut.
Pandangannya mengedar kesekeliling gubuk, tidak ada barang yang mewah ataupun berharga.Hanya ada obor minyak dan meja kecil samping ranjang dipan tersebut. Gubuk tersebut hanya terbuat dari bambu dan atapnya terbuat dari jerami.
Gadis tersebut turun dari dipan bambu tersebut, ia ingin mencoba melihat bagaimana keadaan diluar gubuk tersebut.
Kriet.... pintu gubuk dibuka. Keluar lah gadis tersebut dari dalam gubuk. Alangkah terkejutnya ia saat melihat sekeliling gubuk tersebut ternyata dirinya berada ditengah hutan lebat.
Banyak pohon tinggi menjulang dan semak belukar disekeliling gubuk tersebut. Udara yang sejuk dan lembab menandakan kalau hutan tersebut masih asri dan tidak pernah dijamah manusia.
Gadis itu berkeliling gubuk tersebut, dilihatnya bangunan gubuk tersebut tampak kokoh walaupun terbuat dari batang bambu.
Halamannya juga tampak sedikit luas dikelilingi pagar bambu. Dibalik pagar bambu tersebut semak belukar merambat sekeliling pagar. Ada juga jalan setapak yang entah dirinya tidak tau mengarah kemana. Karena penasaran gadis tersebut pun menyusuri jalanan tersebut.
Ia melihat sekelilingnya mencari seseorang yang mungkin ada ditempat tersebut bersamanya. Karena kemarin ia sempat melihat ada seorang nenek tua yang menolongnya. Tapi dimana orang tersebut? pikiran buruk mulai menghinggapinya, ia bergidik ngeri sendiri.
Terdengar ada suara gemericik air tidak jauh dari tempatnya berjalan. Segera saja gadis tersebut berjalan kearah suara air tersebut.
Begitu sampai ditempat suara air tersebut nampak olehnya sungai panjang yang mengarah entah kemana. Aliran airnya juga sangat deras dan sedikit keruh.
Gadis tersebut mengedarkan pangangannya melihat sekeliling sungai tersebut,barangkali dirinya melihat ada orang yang semalam telah menolongnya. Karena udara masih pagi membuat tubuh sigadis tampak menggigil kedinginan. Tapi ia berusaha terus berjalan mendekati sungai tersebut. Betul saja tidak jauh darinya dibalik batu besar tersebut tampak seorang nenek tua sedikit bongkok sedang merayap diantara celah batu tersebut.
Entah apa yang dilakukannya, gadis tersebut segera berjalan mendekatinya, ada sedikit senyum terbit dibibirnya, dirinya merasa tidak sendiri dan tidak takut lagi berada dihutan tersebut. Berarti tadi hanya pikiran buruknya saja yang menghantuinya dan menakutinya. Segera ia menepisnya, karena si nenek tersebut tampak menapak ditanah.
hm.... hm.... permisi nek, apa yang sedang nenek lakukan di balik batu itu, ucap si gadis berusaha tidak membuat si nenek kaget dengan kehadirannya.
He..... He..... He.....
Kamu sudah bangun cah ayu? bagaimana keadaanmu ucap si nenek tertawa tapi tidak langsung menjawab pertanyaan sigadis, malah bertanya balik menanyakan keadaannya.
Sudah lebih baik nek, setelah meminum obat yang nenek berikan tubuh saya tidak sakit seperti sebelumnya, tapi lebih sehat dan bugar ucap si gadis tersenyum kearah si nenek.
Bagus lah kalau begitu cah ayu, nanti Eyang akan membantu mengobati mengobati luka luarmu agar kau cepat pulih dan tidak menimbulkan bekas luka diwajahmu yang cantik itu.
Sayang sekali kalau wajah cantikmu itu kalau dipenuhi dengan luka ucapnya lagi.
Te... Terimakasih Eyang ucap sigadis.
He.... He..... He....
panggil saja Eyang, cah ayu. Eyang Manik ucap si Eyang lagi.
Oh .. iya Eyang, terimakasih Eyang sudah menolong dan menyelamatkan saya, kalau tidak ada Eyang entah apa yang akan terjadi pada saya, saya mungkin sudah mati ucap sigadis menunduk sedih.
Sudahlah cah ayu, jangan dipikirkan lagi, mungkin ini sudah takdir allah agar kita bisa dipertemukan disini.
Siapa namamu Nduk ucap Eyang Manik menatap wajah sigadis yang penuh dengan luka tersebut.
wulan Sari Eyang....... panggil saja Wulan ucap sigadis cantik tersebut.
Nama yang cantik secantik orangnya, andaikan wajahmu tidak penuh luka ucap Eyang Manik.
Wulan memegang wajahnya dan merabanya, memang benar ada beberapa luka goresan dan memar, mungkin karena dirinya hanyut di sungai yang begitu deras, banyak ranging, batu tajam atau apapun itu Sepanjang dirinya hanyut.
Tenang lah semua pasti akantersebu kembali seperti sedia kala, Eyang akan mengobatimu, ucap Eyang Manik melihat kerisauan pada diri gadis tersebut.
Eyang sedang mencari ikan untuk kita makan hari ini, ambilah ikan -ikan itu tunjuk si Eyang kearah pinggir sungai tersebut.
Wulan mengerti, segera saja dia mengambil beberapa ikan yang tampak menggelepar diatas pasir dipinggir sungai tersebut.
Apa setiap hari Eyang suka mengambil ikan disini untuk makan ucap Wulan melihat kearah si Eyang.
Ya begitulah kalau Eyang sedang ingin makan ikan, tapi tidak setiap hari, ada juga umbi -umbian yang Eyang tanam sendiri.
Ada jagung, singkong, talas, ubi jalar dan lainnya, sedangkan untuk buah-buahan sendiri Eyang tinggal mencarinya ditengah hutan tunjuknya kearah hutan lebat tersebut.
Apakah Eyang tinggal sendiri di hutan ini ucap Wulan lagi.
Betul, Eyang tinggal sendiri di hutan ini sudah puluhan tahun ucapnya.
Apa.... puluhan tahun Eyang tinggal dihutan ini ?ucap Wulan lagi tak percaya .Ya setelah suami Eyang mati terbunuh dianiaya para warga dan kepala Desa di sebuah Desa dulu Eyang tinggal ucap Eyang Manik sembari duduk dibatu kecil dipinggir sungai. Ingatannya yang dulu sudah ia pendam lama kini kembali muncul.
Tega sekali orang yang tega melakukan itu Eyang. Apa sebabnya ucap Wulan lagi penasaran dengan masa lalu Eyang Manik tersebut.
Ceritanya panjang Nduk, intinya dulu suami Eyang menjabat kepala Desa didesa tersebut, Karena ada yang iri dengki dan ingin mengambil posisi suami Eyang jadi kepala Desa, Akhirnya orang tersebut menghasut para warga Desa dan memfitnah suami Eyang dengan menyebarkan fitnah kalau Eyang dan suami Eyang memiliki ajaran ilmu hitam dan menyebabkan semua warga Desa mengalami kutukan dengan adanya wabah penyakit ucap Eyang Manik.
Begitulah ceritanya makanya Eyang mengasingkan diri kehutan ini, Karena Eyang juga sedang diburu untuk dibunuh.
Sungguh kejam orang tersebut melakukan fitnah keji pada seseorang yang tidak berdosa. Terus apa yang akan Eyang lakukan untuk kedepannya? Apakah Eyang tidak berniat untuk balas dendam ucap Wulan memandang wajah Eyang Manik yang sudah tua keriput.
Tidak Cah Ayu, untuk apa balas dendam, tidak ada gunanya juga, toh suami Eyang juga tidak akan kembali lagi. Dulu memang iya ada niat Eyang untuk membalas sakit hati ini, tapi Percuma Eyang lakukan. Berarti sama saja Eyang seperti mereka kalau Eyang punya pikiran seperti itu. Sekarang Eyang hanya ingin menjalani hidup sebagaimana mestinya dengan kedamaian ini sudah cukup ucap Eyang Manik tersenyum kearah Wulan.
Wulan cukup prihatin dan terenyuh mendengar cerita Eyang Manik. Sungguh baik hati Eyang Manik ini tidak ada niat untuk balas dendam selain kebahagiaan dan kedamaian hidup seorang diri sekarang ini.
Sudah ayo jngn dipikirkan lagi itu cuman masa lalu, sekarang bantu Eyang untuk membersihkan ikan -ikan ini, supaya sampai gubuk nanti kita langsung bisa memasaknya ucapnya lagi.
Baiklah ucap Wulan semangat dan membantu Eyang Manik membersihkan ikan -ikan tersebut.
Karena sepertinya hari mulai siang dilihatnya dari celah pohon yang tinggi sinar matahari mulai masuk.
Setelah selesai mereka berduapun bergegas membersihkan diri, lalu gegas menuju gubuk yang letaknya ditengah hutan tersebut dan tidak jauh dari sungai tersebut.
Sesampainya digubuk Eyang Manik segera menyalakan api. Wulan membantu menyiapkan bumbu seadanya. Ikan tersebut akan dibakar untuk ukuran yang besar, sedangkan untuk ukuran kecil mereka akan membungkusnya dengan daun pisang lalu di pepes.
Eyang Manik juga membakar beberapa jagung muda dan singkong. Tidak ada beras sama sekali. Kalaupun ingin mendapatkan beras Eyang Manik harus keluar dari hutan lebat tersebut. Tapi itu tidak pernah ia lakukan, Karena para warga Desa pasti akan menangkapnya.
Tidak ada yang Eyang Manik takutkan sebenarnya, Karena selama tinggal di hutan tersebutpun dirinya selalu bertapa dan mpunyai beberapa ajian hasil dari tapanya puluhan tahun dihutan tersebut.
Setelah matang merekapun makan dengan lahap. Wulan tidak pernah makan senikmat ini walaupun dengan lauk seadanya.
Setelah selesai makan mereka berduapun duduk dengan santai dipinggir gubuk tersebut.
Ada balai kecil terbuat dari batang bambu yang diikat dengan tali apa Wulan pun tidak tahu.
"Satu bulan lamanya Wulan ikut tinggal bersama Eyang Manik dihutan lebat tersebut. Wulan tidak pernah mengeluh atau apapun itu. Wulan merasa dirinya betah tinggal bersama Eyang Manik dihutan tersebut.
Saat ini Eyang Manik sedang duduk di balai gubuk tersebut, ia melihat Wulan yang sedang mengupas beberapa jagung muda untuk dibakar siang nanti.
Wulan kemarilah Nduk. Eyang ingin mengatakan sesuatu padamu ucap Eyang Manik lagi melambaikan tangannya pada Wulan. Wulan pun segera menghampirinya dan duduk disampingnya.
Wulan memandang Eyang Manik dengan bingung, ada apa gerangan Eyang Manik memanggil dirinya.
Ada apa Eyang sepertinya ada hal penting yang ingin Eyang bicarakan ucap Wulan.
Betul cah ayu,Eyang lihat sepertinya kamu betah tinggal dihutan ini. Benar begitu?
Tentu saja Eyang, Wulan betah tinggal dihutan ini bersama Eyang, jauh dari keramaian dan orang -orang yang jahat pada kita ucap Wulan menunduk.
Ada kerinduan pada seseorang yang begitu dia sayangi dan dia rindukan pelukannya, sang Ayah tercintanya dikota sana.
Memang benar, Eyang pun begitu betah di hutan ini. Tapi tidak untukmu cah ayu, kamu masih muda dan harus melanjutkan hidupmu. Kamu harus kembali ketempatmu berasal. Karena kita tidak mungkin terus bersama. Kamu lihat sendiri Eyang sudah tua dan kapanpun yang maha kuasa bisa mencabut nyawa Eyang kapan saja.
Untuk itu sebelum kamu kembali pada Keluarga mu Eyang ingin mengajarimu beberapa ilmu beladiri dan beberapa ajian untuk bekalmu nanti diperjalanan dan agar kamu bisa menjaga diri nantinya. .ucap Eyang Manik menatap dalam mata Wulan.
Ilmu bela diri Eyang ulang Wulan lagi.
Betul dan mulailah belajar mulai besok. Eyang akan mengajarimu dan mengawasimu,apa kamu mau? ucap Eyang Manik lagi.
Wulan tampak berkaca -kaca, entah bagaimana nanti nasibnya. Ada keinginan kuat dan tekadnya untuk belajar ilmu bela diri dan balas dendam pada orang -orang yang telah berbuat jahat dulu padanya.
Tapi seperti ini sudah cukup bagiku Eyang. Selama Eyang bersamaku aku pasti aman ucap Wulan lagi.
Tidak Wulan, ucap Eyang Manik lagi. Banyak orang jahat diluar sana yang berniat jahat pada kita. Paling tidak dengan kamu belajar kanuragan dan tenaga dalam kamu bisa menjaga diri dan melawan orang -orang yang berniat jahat padamu.
Dikemudian hari kamu pasti akan bersukur karena Eyang mengajarimu kanuragan ucapnya lagi.
Kuatkan hati, mental dan tekadmu, mulai besok Eyang akan mengajarimu ilmu kanuragan ucap Eyang Manik sedikit memaksa Wulan.
Kamu harus jadi wanita, kuat dan tangguh.