Melanie terbangun dari tidurnya karena efek obat penenang yang diberikan dokter padanya. Ia menggeliatkan tubuhnya yang terasa lelah sekali. Diarahkan pandanganya lurus ke depan di mana Riana kini berjalan mendekatinya, memberikan sebotol air putih untuknya. “Makanlah Mel, sejak kemarin kamu belum makan, kalau kamu gak makan nanti kamu pasti sakit Mel,” bujuk Riana, melihat sarapan pagi dan siangnya sejak kemarin tidak kunjung di makan oleh Melanie. Melanie menghela napas, tatapanya kini masih menatap rajang suaminya yang masin tetap sama dengan kemarin. Revano masih belum sadarkan diri. “Aku gak berselera Ri,” jawab Melanie dengan suara yang serak bahkan hampir tak terdengar. “Jika kau sakit, siapa yang akan mengurus suamimu di sana nanti yang jelas ia membutuhkan kamu, Mel. Revano

