Episode 12

1041 Kata
Saga, Lala serta Keira baru saja tiba di rumah, Salsa masih tidur dengan sangat pulas menyiapkan mental untuk nanti malam. Lala buru-buru ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya sebab Lala teringat kalau ada Salsa di rumah, ia takut kalau Salsa mencurigai Lala dengan pakaiannya yang terlihat modis seperti itu. "Daddy ... kata Tante Lala kalau Mommy sudah pulang. Keira ingin sekali bertemu Mommy, " rengek Keira yang kekeh sekali ingin bertemu dengan Salsa. "Mommy pasti lagi di kamar sayang! " Saga menggendong tubuh Keira, ia juga sama ingin sekali dekat dengan Salsa, dan Saga berharap Salsa tidak menolaknya. Sudah 1 bulan ini Saga tidak pernah dapat pelayan dari sang istri. Saga ingin sekali memberikan nafkah batin, tapi selalu di tolak secara halus oleh istrinya. Setibanya di kamar, Saga dan Keira langsung saja duduk di atas tempat tidur mengganggu Salsa agar Salsa terbangun dari tidurnya. "Eh ... kalian sudah pulang! " Salsa melebarkan senyum yang terlihat palsu. Salsa begitu males banget, dirinya semakin kesal sudah di ganggu tidurnya. "Mommy ... Keira ingin main sama Mommy, " rengek Keira dengan sangat manja. Salsa pun bangun, Salsa langsung mengangkat tubuh Keira, kini bocah itu berada dalam lahunan Salsa. "Nanti ya sayang, Mommy nya masih capek! Lebih baik Salsa main dulu sama Tante Lala, pasti seru, " titah Salsa. Tanpa sadar Salsa mendekatkan Keira dengan pembantunya. Peluang Lala untuk bisa masuk ke dalam kehidupan Saga dan keira semakin mudah saja. Keira mencium pipi Mommy nya, "Ok Mommy ... istirahat lagi kalau Mommy capek! Keira juga sama capek. Mommy tidak akan kerja lagi-kan? Keira masih kangen sama Mommy, " ucap Keira dengan manjanya. "Tidak akan sayang! Sekarang Mommy pengen bobo lagi. Kalau Keira capek, Keira istirahat saja dulu. Ok!" Salsa memberikan satu buah kecupan di kening Keira. "Ok Mommy! Keira mau panggilkan Tante Lala dulu, " ucapnya begitu dengan semangat. Keira pun turun dari lahunan Salsa, Keira segera keluar dari kamar. Setelah Keira keluar, Saga langsung meraih tubuh Salsa dan mendekapnya dengan sangat erat. Saga sudah merindukan sentuhan dari sang istri. Saga mencium aroma tengkuk sang istri. Tanpa Saga sadari kalau ada tanda merah di tengkuk Salsa, tentunya ulah Sean. Di bagian si kembar juga banyak tanda merah. "Mas ... aku capek! " protes Salsa. Tapi sedikit ia mulai terhanyut dengan sentuhan suaminya. Apa lagi tangan Saga yang mulai memainkan benda kembar asetnya sang istri. "Salsa please, aku mohon jangan menolak," ucap Saga memelas. "Bagaimana kalau Mas Saga mengetahui dan melihat banyaknya warna merah di bagian dadaku," batin Salsa. Salsa kebingungan saat ini, Salsa takut kalau di curigai Saga soal banyaknya warna merah. "Baik Mas! Tapi jangan main di sini ya Mas! Entah kenapa punyaku ini rasanya ngilu Mas, mungkin mau datang tamu bulanan kali Mas," ucap Salsa mulai berakting. "Duh ... maaf sayang. Aku tidak tahu. Apakah sakit? Barusan aku memainkannya." Saga jadi merasa bersalah. Padahal istrinya sedang berbohong agar Saga tidak membuka bagian itunya. "Tidak apa-apa Mas," sahut Salsa. "Salsa, apakah kau mau melayaniku? Aku sangat merindukan kamu sayang." Sebelum memulai kembali, Saga akan memastikan terlebih dahulu. "Iya Mas! Tapi jangan menyentuh ini, lagi sensitif Mas," kata Salsa mengingatkan suaminya. "Baik sayang," jawab Saga. Dengan semangatnya Saga langsung star, Salsa terpaksa menerima ajakan suaminya agar Saga tidak curiga, karena setiap Saga memintanya, Salsa selalu menolak. Lala sudah berhasil menidurkan Keira, kini Keira sudah tidur siang di kamarnya. Lala mencium keningnya Keira, "Semoga akan indah pada waktunya. " Lala begitu berharap kalau dirinya bisa menggantikan posisinya Salsa di hidup Keira. *** Lala sudah selesai membersihkan rumah, tinggal masak. Tapi Lala merasa ada yang aneh sudah jam 3 sore Salsa maupun Saga tidak keluar dari dalam kamar. Lala mencium aroma yang mencurigakan. "Sepertinya ada sesuatu," desis Lala yang langsung bergegas menuju ke lantai atas kembali menuju ke kamar majikannya. Entah kenapa jiwa kepo nya mulai meronta. Lala sudah berdiri di depan pintu kamar majikannya yang tertutup rapat. Betapa terbelalak nya Lala saat ini ketika dirinya mendengar suara-suara aneh di dalam kamar majikannya. "Pantas saja Tuan Saga dan Non Salsa tidak keluar-keluar dalam kamar, rupanya sedang membuat gempa di atas ranjang. Ish ... kenapa Non Salsa mau sih," desis Lala dalam hatinya. Lala begitu kesal mendengar suara indah itu, "Alamat bakalan gagal jadi ibu tiri Keira," desisnya lagi. Lala kembali menuruni anak tangga menuju ke dapur, Lala akan mulai memasak. "Sebal!" Lala terus saja menggerutu, dirinya takut jika rencananya gagal. Padahal saat ini Lala sedang membutuhkan biaya untuk pengobatan bapaknya di kampung. Lala belum kirim uang karena Saga belum membayarnya. "Uang satu juta mana cukup jika di kirim ke kampung. Tuan Saga pasti lupa, dia kan lagi enak-enak dengan istrinya." Lala terus saja menggerutu. Ponsel Lala berdering ada telepon dari kampung. Lala sudah paham jika ibunya mau meminta uang. Tapi Lala tetap menjawab telepon dari ibunya. "Assalammualaikum Bu." Lala mengucapkan salam ketika sudah menjawab telepon dari ibunya. "Lala, bagaimana apakah kamu sudah mendapatkan uang pinjaman dari majikan mu?" tanya Ibunya Lala tanpa menjawab salam terlebih dahulu. "Aduh Bu, belum soalnya majikan Lala sedang di luar kota. Ibu pinjam dulu saja, nanti besok atau lusa sama Lala di kirim uangnya," kata Lala memberikan saran kepada ibunya. "Tapi benarkan kamu mau kirim, La?" tanyanya untuk memastikan. "Iya Bu," jawab Lala. "Ya sudah sama ibu tutup teleponnya, Ibu mau pinjam uang sama Bu Lurah." "Iya Bu!" Lala memutuskan sambungan teleponnya bersama ibunya. Tak lama kemudian Lala mendapat SMS dari adiknya. "Bagaimana kak? Sebentar lagi pendaftaran masuk SMP Kak Lala kan sudah janji mau membiayai sekolah aku." Itulah isi SMS yang di kirim adiknya dari kampung. Lala mengusap wajahnya secara kasar, Lala mulai stres. Lala takut jika Tuan Saga menolak tawaran yang sudah disetujui semalam. "Jika Tuan Saga meralat kembali apa yang sudah ia katakan semalam bisa mati aku." Lala tepuk jidat. Lala mulai memikirkan strategi baru jika suatu saat nanti Saga berubah pikiran. Di dalam kamar, Salsa dan Saga sudah mencapai puncaknya. Saga masih tidak menyangka akan mendapatkan kembali surganya meskipun tubuh sang istri tidak polos, hanya sebagian saja yang polos. Salsa merasa lega sebab suaminya tidak melihat tanda-tanda ulah Sean. "Terima kasih istriku," ucap Saga dengan napas yang masih memburu. "Sama-sama suamiku," sahut Salsa dengan melebarkan senyum. Salsa juga harus menyiapkan stamina untuk nanti malam. Pokoknya Salsa akan membuat kekasih gelapnya itu candu hingga tidak mau lepas dari cengkraman Salsa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN