Sore itu, Reski enggan pulang ke rumah, dia seolah tak ada gairah meninggalkan kantor. Rumahnya terasa sepi karena tak ada sang istri. Sedangkan dirumah orang tuanya, hanya akan ada rengekan mamanya untuk segera menikahi Rosmala. Menyebalkan, tentu saja. Reski sudah penat dengan segala masalah kantor, namun dia juga masih harus memikirkan masalah rumah tangganya yang berada di ujung tanduk. "Kenapa nomornya masih tidak aktif?" tanya Reski menatap kesal ke arah layar ponselnya. Lelaki itu meletakkan ponselnya di atas meja, dia bangkit dari kursi kebesarannya. Berjalan ke arah jendela kaca yang memperlihatkan suasana luar. Satu tangannya masuk ke dalam kantong celana, tatapan jauh nanar ke arah depan. Satu detik, dua detik hingga berubah menit, terasa capek berdiri, Reski kembali ke meja

