Prillia mengetuk-ngetukkan jarinya pada dahinya berharap mendapatkan sebuah pencerahan. Namun sepertinya usahanya gagal, sudah sejam lebih ia duduk di kursi disalah satu ruang santai miliknya namun pencerahan itu tidak juga ia dapatkan. Bahkan rasanya waktu begitu cepat berlalu seolah-olah mendesak Prillia untuk secepatnya mendapatkan ide yang tak kunjung datang. Berkali-kali Prillia harus mendesah frustrasi. “Dari tadi bengong aja di situ Non, kesambet ya?” Prillia memutar bola matanya malas saat mendengar pertanyaan mbok Iyem. “Kalau Prillia kesurupan mungkin dari tadi Prillia udah teriak-teriak Bik,” balas Prillia membuat mbok Iyem terkekeh dan yakin bahwa majikan mudanya itu masih dalam keadaan sadar. Mbok Iyem yang tadi hendak ke dapur mengurungkan niatnya dan menghampiri Prillia.

