SEMBILAN

3158 Kata
Malvin memacu kaki nya di sepanjang koridor rumah sakit, sementara Rendra dan Risky berlari menyusul Malvin. Perasaan Malvin sudah tidak karuan lagi sejak mendapat kabar bahwa Zeta jatuh pingsan di taman, dan di larikan ke rumah sakit. Dokter Azka lah yang tadi menghubungi Vinny, memberitahu bahwa Zeta masuk rumah sakit. Malvin sejak tadi tidak berhenti nya mengumpat, pasal nya ponsel nya yang rusak sehingga membuat komunkasi nya dengan gadisnya itu terputus. "Gimana kondisi Zeta?" Malvin tiba tepat di depan ruangan UGD. Di sana sudah ada Vinny, Alya dan Lisa yang memang telah lebih dulu pergi ke rumah sakit. "Tenang Vin! Zeta masih di tanganin sama dokter." Jawab Alya mewakilkan. Wajah ketiga teman kekasih Malvin itu tidak kalah khawatir nya. Mavin mengusap gusar wajah nya seraya mengatur nafas nya yang terengah akibat berlari, belum lagi rasa khawatir dan takut yang begitu mendomanasi diri nya. "Kenapa jadi kayak gini sih Vin?" Rendra bertanya pada Vinny, yang tengah bersender di pilar rumah sakit dengan pandangan tertuju ke UGD. Sorotan dingin gadis itu beralih ke Rendra. "Gue gak tau. Tadi gue dapet telfon dari dokter Azka, soal nya dia udah berulang kali nelfon Malvin tapi gak aktif. Trus dia bilang kalau Zeta lagi sama dia, dan Zeta pingsan." jelas Vinny. Malvin yang tengah menunduk gusar, mengangkat kepala nya. Menatap tajam ke arah Vinny. "Kenapa dia bisa sama dokter itu?!! Gevan sama Sabrina mana?!" "Vin tahan emosi lo!" Rendra menyentuh pundak Malvin namun langsung di tepis oleh nya. "Gue gak tau Vin. Gue cuman dapat info itu." Vinny masih mempertahankan suara tenang nya. Jika dia ikut emosi, maka kondisi akan kacau. Malvin menggeram, perasaan nya kini tidak karuan. Khawatir, panik, takut, marah dan emosi bercampur menjadi satu. Tak berapa lama kemudian, langkah tergesa-gesa tampak terdengar mendekat. "Zeta gimana?" Rahang Malvin seketika mengeras, tangan nya terkepal dan emosi nya meledak hingga ubun-ubun. Tanpa aba-aba cowok itu bangkit dan memberikan bogeman mentah di rahang Gevan. BUGH... "MALVIN!!" semua orang terpekik saat Malvin tiba-tiba saja memukul Gevan yang membuat cowok itu terpental. "BRENGSEKKK!! GUE NITIPIN ZETA KE ELO!! TAPI LO MALAH LALAI IN TUGAS LO!! ANJING!!" "Vin udah." Rendra dan Risky berusaha menahan tubuh Malvin yang hendak menyerang Gevan lagi. Sementara Gevan di bantu berdiri oleh Lisa. "Malvin udah!" suara Rendra meninggi. "Vin udah Vin!" Risky berada di depan Malvin, menahan d**a cowok itu agar berhenti menghajar Gevan. "Ini rumah sakit!" Gevan hanya diam tidak membalas Malvin dengan suara atau pun membalas pukulan cowok itu. Karna dia tau, disini memang salah nya. Dia mengusap darah segar yang mengalir di sudut bibir nya. "Brengesek lo berdua tau gak?!" Suara tajam Malvin kembali terdengar. Tatapan kemarahan nya kini juga tertuju pada Sabrina yang sejak tadi diam mematung. "Gue nitipin Zeta ke kalian berdua! Karna kondisi kesehatan dia sedang terganggu! Dan bisa-bisa nya kalian ninggalin dia sendirian di taman!" suara nya meninggi, namun tidak berteriak seperti tadi. "Gue gak tau Zeta kenapa bisa sampai ke taman! Awal nya dia di rumah gue!" Sabrina bersuara dingin sedingin tatapan nya pada Malvin. Tapi, jangan tanya bagaimana kondisi hati nya kini yang benar-bensr gelisah akan kondisi Zeta. Malvin menyeringai. "Nyesel gue biarin Zeta sama kalian! Gak bisa dipercaya!" Desis nya sengit. Bugh.... Pukulan Sabrina di tembok rumah sakit membuat semua orang terhenyak kaget. Kondisi semakin menegangkan saja saat tatapan Sabrina menajam, dan rahang cewek itu mengeras. "Apa lo bilang?! Nyesel?! Zeta itu temen gue! Gue kenal sama dia lebih lama daripada lo kenal sama dia?! Trus lo pikir gue mau ngelihat dia kayak gini?!" Suara Sabrins menajam dan meninggi. "MIKIR LO PAKE OTAK!! GUE TAU LO KHAWATIR!! TRUS LO PIKIR YANG GUE RASAIN SEKARANG APAAN? SENENG?!" Vinny menahan pundak Sabrina, menenangkan emosi gadis itu yang membuncah. Bahkan nafas Sabrina terengah karna berteriak, mata nya terus menyorot penuh kemarahan pada Malvin. Begitupun sebalik nya. "Sa udah!!" Vinny mendorong tubuh Sabrina ke dinding. "Lo ngomong! Seakan-akan gue seneng lihat temen gue kayak gini?!" "Sa udah ini rumah sakit!" Lisa bersuara gemetar, dia selalu seperti ini jika sudah melihat emosi Sabrina. "Kalau lo khawatir! Harus nya lo gak lalai! Gue udah bilang jangan sampai lo jauh dari Zeta!" ujar Malvin tajam dengan geraman tertahan. Sabrina menggeram dia baru saja akan melangkah menerjang Malvin, saat Vinny mendorong kuat tubuh nya. "GUE BILANG STOPP ANJING!!" Vinny berteriak murka, kesabaran nya sudah habis. "BISA DIAM GAK LO BERDUA!!" mata nya berkilat marah. Menyorot Malvin dan Sabrina bergantian. "temen gue lagi gak sadarkan diri di dalam! Bukan nya memberikan suasana tenang! Lo berdua malah berantem kayak gini! LO BERDUA TU SALAH!" Hanya suara Vinny lah yang terdengar kali ini. Vinny kembali bersuara menormalkan emosi nya dan nafas nya. "Lo tau Zeta lagi gak sehat, tapi lo malah biarin dia sendirian." Dia menatap Sabrina, gadis itu kini hanya diam saat menyadari kesalahan nya tadi yang tidak sadar jika Zeta telah meninggalkan rumah nya, bertepatan saat dia terlibat cekcok dengan Gevan. "Dan elo!" Vinny menoleh pada Malvin. "Dia tadi udah berusaha nelfon lo! Dia mau minta jemput sama lo! Trus lo kemana?! Kenapa hp lo gak aktif?!" Malvin termangu, tubuh nya perlahan melemah dan jatuh di bangku tunggu. Dia mengusap gusar wajah nya. Suasana baru saja tenang, saat pintu ruangan UGD terbuka. Membuat semua mata tertuju pada Dokter Azka. "Dok gimana keadaan Zi?" Alya langsung bertanya seraya menghapus air mata nya. Azka diam sejenak, mata nya menyorot satu persatu wajah di sana. "Saya mau bicara empat mata sama kamu Malvin." mata nya berhenti pada Malvin yang berdiri dengan kondisi kacau. "Gue mau lihat Zeta!" Desis Malvin, mengabaikan ucapan Azka. "Tapi saya mau ngomong sama kamu!" Azka berbicara dingin. "Ini juga masalah kesehatan Zeta!" Mendengar nama kekasih nya membuat d**a nya berdesir. Malvin menatap Azka. Tepukan Risky di pundak nya menyadarkan nya. "Lo pergi aja! Zeta pasti baik-baik aja, ada kita di sini." Risky meyakinkan. Malvin lalu berjalan menyusul Azka, menuju ruangan dokter itu. ✉️✉️✉️✉️✉️✉️✉️ Zeta telah di pindahkan ke ruangan perawatan beberapa menit yang lalu. Kini, di ruangan itu berdiri ketiga teman Malvin dan Pop Girl. Zeta masih belum sadarkan diri sejak tadi. Alya menghela nafas nya, menatap Zeta yang terbaring lemah dengan wajah pucat dsn punggung tangan yang terdapat selang infus di sana. "Kok Zeta gak bangun-bangun ya." Gumam Alya pelan, melirik beberapa pasang mata di sana. Lisa ikut menghela nafas nya, namun tidak menjawab dalam bentuk apa pun. Tak lama pandangan dan perhatian  mereka teralihkan saat pintu ruangan tiba-tiba di buka dengan pelan. Tampak lah di sana Malvin yang berjalan perlahan menuju ke arah ranjang Zeta. Vinny mundur selangkah memberikan ruang utnuk Malvin agar bisa berdiri tepat di samping Zeta. Semua pasang mata di sana saling pandang saat melihat wajah Malvin yang terlihat begitu kacau, namun masih ada sorot dingin di sana. Sabrina menatap Zeta yang masih belum sadarkan diri, lalu melangkah keluar ruangan tersebut, hal tersebut tak luput dari pandangan Gevan. Cowok itu melirik sebentar ke arah Malvin, lalu ikut berlalu keluar ruangan. Sementara itu... Malvin menatap sendu ke arah kekasih nya yang masih belum sadarkan diri. Wajah pucat Zeta terlihat begitu damai di penglihatan nya, tangan nya perlahan meraih tangan Zeta yang bebas dari selang infus. Di genggam nya perlahan, semakin kuat di mengenggam tangan Zeta semakin hati nya merasa tidak karuan. Mamvin menarik nafas berat nya. "Rend---" Rendra yang merasa di panggil menyahut. "Iya Vin." seraya melirik ke arah Risky. "Tolong lo atur ulang jadwal kemping, undur sampai satu minggu ke depan." Ujar Malvin dingin, tanpa menatap Rendra. Mata nya masih terfokus pada Zeta. Rendra baru saja akan protes, saat Risky menahan tangan nya. Memberikan isyarat lewat mata seakan mengatakan untuk tidak banyak tanya atau protes. "Ok vin. Nanti gue atur ulang, sama ntar gue infoin ke yang lain." Balas Rendra, seraya memegang pundak Malvin. Detik berikut nya, Vinny memberikan isyarat kepada yang lain agar keluar ruangan dan membiarkan Malvin sendiri lah yang berada di dalam menemani Zeta. Malvin masih diam terpaku menatap wajah pucat gadisnya, bahkan saat dia sudah sendirian di dalam sini. Kata-kata yang ingin dia keluarkan seakan tercekat di tenggorokan, dia seakan tidak bisa berbicara apa-apa. Malvin kacau, hati nya kacau. Dia tidak tau harus berbuat apa lagi, melihat kondisi Zeta yang seperti ini membuat dia terpukul hebat. Terlebih saat percakapan nya dengan Azka tadi terngiang-ngiang di pendengaran dan berputar di ingatan nya. "Untuk saat ini kondisi Zeta bisa di bilang cukup kritis. Tapi kamu tenang saja, mungkin sebentar lagi dia akan melewati masa kritis nya. Dan saya harap ketika dia bangun nanti, tolong lebih mengontrol aktivitas nya. Jangan biarkan dia melakukan hal-hal yang berat karna itu akan sangat berbahaya untuk kesehatan nya." "Satu lagi, tolong rahasiakan apa yang saya bicarakan tadi tentang kondisi Zeta yang sebenarnya. Jangan biarkan Zeta tahu, dan memikirkan itu. Saya akan cari cara bagaimana dia bisa pulih dengan cepat. Untuk saat ini, kamu berikan saja obat-obat yang saya berikan. Jika Zeta bertanya, bilang itu hanya vitamin biasa." Mata Malvin perlahan berubah berkaca-kaca, dia berusaha mati-matian agar air mata itu tidak mengalir. Untuk saat ini Malvin tidak ingin diri nya lemah. Zeta membutuhkan nya. Namun semua seakan sia-sia saat air mata itu tidak terbendung lagi. Cairan bening itu mengalir, bahkan sangat deras sehingga menimbulkan isakan ringan dari bibir Malvin. Malvin menundukkan kepala nya, berusaha meredam tangis nya. Apa yang baru saja dia dengar tadi, apa yang baru saja dia ketahui tadi. Benar-benar memukul batin nya. Perasaan yang tadi nya kacau, semakin kacau. "Apa pun yang terjadi sayang. Cobalah untuk tetap bertahan di samping aku. Kamu harus percaya bahwa aku akan selalu ada di samping kamu." Malvin bersuara serak, lalu mengecup tangan Zeta yang ada di genggaman nya. Malvin tersentak saat merasakan pergeraksn kecil dari tangan Zeta. Dia dengan sigap menghapus air mata nya, dia tidak ingin jika Zeta melihat nya menangis seperti ini. "Sayang. Kamu udah sadar? Apa yang kamu rasain sayang? Kamu mau apa hm?" Malvin mengusap kepala Zeta menatap mata sayu gadis itu penuh cinta. Mata sayu nya menatap ke arah Malvin yang tersenyum ke arah nya. Tangan Zeta yang di lapisi selang infus terangkat perlahan menyentuh lembut pipi Malvin. "Kamu nangis?" Gadis itu bersuara, suara yang terdengar pelan dan begitu lemah. Malvin tersenyum dan menggeleng, dia mengecup tangan Zeta berulang kali. "Enggak kok aku gak nangis. Aku---aku---" "Bohong." Gumam Zeta pelan. Malvin tertegun menatap mata sayu Zeta, tangan nya lalu beralih ke pipi pucat Zeta. "Aku cuman sedih lihat kamu kayak gini. Cepet pulih ya sayang?" Malvin mendekatkan wajah nya, dan mengecup singkat bibir pucat Zeta. Zeta tersenyum lemah, dia benar-benar tidak merasakan tenaga pada tubuh nya sekarang. Seakan tubuh nya itu tidak mempunyai tulang sama sekali. "Vin!" "Ya sayang?" Malvin menatap lembut ke mata Zeta. "Aku mau pulang." Malvin tersenyum hangat. "Jangan dulu ya. Dokter masih belum ngebolehin kamu pulang. Kamu harus dirawat dulu beberapa hari di sini." Jawab nya penuh kelembutan. "Tapi aku gak betah. Aku mau pulang, aku baik-baik aja." Rengek Zeta dengan suara lemah nya. "Zi! Hey! Zi sayang! Dengerin Malvin ya. Zeta harus di rawat dulu di sini, tiga hari aja kok ya? Gak lama, Malvin yang nemenin Zeta di sini 24 jam. Ya, tiga hari aja kok." Malvin berusaha memberikan pengertin kepada tunangan nya itu. Zeta mengangguk pelan. "Ya udah sekarang Zeta istirahat, biar cepet sembuh trus boleh pulang. Malvin temenin di sini." Tangan Malvin masih setia mengelus kepala Zeta. Mata gadis itu perlahan mulai tertutup lagi, dengan tangan yang masih menggenggam tangan Malvin. Bahkan Zeta membawa tangan Malvin ke d**a kiri nya, yang seketika membuat Malvin tertegun. Malvin dapat merasakan detak jantung Zeta di sana. Detak jantung yang mampu membuat tubuh nya tersengat saat merasakan nya. Bagaimana nanti jika detak itu tak lagi ada? Cairan bening itu kembali mengalir di wajah Malvin saat menatap wajah tertidur Zeta, namun dengan cepat di hapus nya. Tidak, ini bukan waktu nya untuk dia lemah. Dia harus lebih kuat dari Zeta. "Tidur ya sayang." Bisik Malvin dan meninggalkan kecupan lembut di kening Zeta. ✉️✉️✉️✉️✉️✉️✉️ Langkah Sabrina berhenti di ambang pintu rooftop rumah sakit. Semilir angin di atas sana langsung saja menyambut kedatangan nya. Kedua tangan nya di masukkan ke dalam saku jaket, lalu dengan pandangan lurus ke depan, dia berjalan ke tepi rooftop itu. Hanya tatapan nya lah yang dingin ke depan, namun hati nya bahkan lebih gelisah. Zeta tak kunjung bangun, wajah yang tadi nya pucat semakin terlihat pucat pasi. Dia merutuki kebodohan nya tadi yang tidak menyadari kepergian Zeta dari rumah nya, harusnya tadi dia tau kalau Zeta pergi. Sabrina memutar tubuh nya, bersandar di tembok rooftop itu dengan kondisi tangan masih di masukkan ke saku jaket. Membiarkan semilir angin menerpa rambut nya. "Gue pikir lo udah pulang." Detik berikut nya sebuah suara hadir di keheningan rooftop itu. Sabrina tidak melirik sedikit pun ke pemilik suara, karna dia tau dan amat hafal siapa pemilik suara itu. Tatapan nya terus lurus ke depan. "Kata Rendra tadi Zeta udah sadar." Gevan menatap lekat ke arah Sabrina. "Jadi lo gak usah khawatir lagi." sambung nya. Sabrina menghela nafas nya secara perlahan, dia masih tidak bersuara bahkan tidak menoleh sedikit pun pada Gevan. Gevan yang tidak mendapatkan reaksi apa pun menghela nafas nya. Dia tau, bagaimana kondisi batin Sabrina setelah bertengkar hebat dengan Malvin tadi, gadis itu pasti merasa sangat bersalah. Gevan baru saja akan membalikkan tubuh nya, meninggalkan Sabrina. Bertepatan suara gadis itu terdengar. "Gue cuman takut, kehilangan lagi." Gevan tertegun, dia lalu kembali membalikkan tubuh nya menatap Sabrina yang masih pada posisi awal nya. Di balik sorotan dingin itu, Gevan tau ada ketakutan dan kekhawatiran yang begitu besar. Dia bisa melihat nya. "Lo gak usah merasa bersalah gitu. Karna, ini bukan hanya salah lo, tapi juga salah gue. Karna gue yang berantem sama lo tadi, sampai-sampai kita gak tau kalau Zeta keluar dari rumah. Padahal, kita tau dia lagi kurang enak badan." Gevan menjawab, berusaha menenangkan Sabrina. Sabrina untuk pertama kali nya menoleh pada Gevan. Tatapan dingin nya dan tatapan tenang Gevan bertemu. "Kalau Zeta kenapa-kenapa. Gue rela di bunuh Malvin, daripada harus hidup dalam rasa bersalah dan penyesalan." Ucapan dingin gadis itu lagi-lagi membuat Gevan tertegun. Mata nya tak beralih sedikit pun dari Sabrina. "Sa---" "Gue udah cukup hidup dalam penyesalan selama lima tahun ini. Hidup dalam bayangan kematian Dinda. Gue gak mungkin bisa kuat lagi, kalau harus hidup dalam bayangan kematian Zeta." Suara gadis itu terdengar bergetar untuk pertama kali nya. "Kenapa lo bisa ngomong kayak gitu?" Gevan bertanya heran, pasal nya selama ini yang dia lihat hanya lah Zeta yang tertekan dengan kematian Dinda. Sabrina menghel nafas nya perlahan, lalu menjatuhkan diri nya di lantai rooftop, duduk dengan kaki terjuntai ke bawah. "Zeta gak pernah jadi penyabab kematian Dinda." Sabrina mulai bersuara, mata nya menerawang jauh pada kejadian lima tahun yang lalu. "Gue lah yang harus nya di salahkan akan kematian Dinda." lanjut nya dengan suara tercekat. Hal tersebut membuat Gevan tersentak kaget sekaligus tidak percaya, dia mengambil duduk dengan jarak yang cukup jauh dari Sabrina. Menatap gadis itu dari samping. "Gue! Orang yang gagal waktu itu menghentikan dia naik ke formasi itu. Harus nya gue lebih bisa meyakinkan dia saat itu." Sabrina kembali bersuara bergetar. Gevan terdiam sejenak. "Itu cuman kecelakaan Sa. Ajal Dinda lah yang berada di sana. Bukan salah lo ataupun Zeta. Itu takdir." Sabrina menghela nafas nya untuk kesekian kali. "Gue tau itu takdir, kata itu juga yang sering gue bilang ke Zeta. Tapi bayangan saat Dinda jatoh, masih terekam sangat jelas di benak gue. Kalau gue masih di kasih kesempatan untuk berandai, gue ingin---" dia menoleh pada Gevan. "---Gue ingin gue lah yang berada di posisi itu saat itu." lanjut nya. Gevan termangu. Selama dia mengenal Sabrina, dia tidak pernah melihat gadis itu menunjukkan perhatian atau pun rasa peduli kepada teman-teman nya. Dia selalu bersikap cuek dan dingin di setiap kondisi. Tapi dia baru tau, bahwa sebenarnya di antara kelima gadis yang tergabung dalam satu genk itu, Sabrina lah yang mempunyai rasa sayang begitu besar kepada teman-teman nya. "Lo sayang banget sama Dinda?" Entah dorongan darimana Gevan bertanya hal tersebut. Sabrina tersenyum tipis. "Dinda? Gue bahkan gak kenal sama Dinda." Gevan mengerutkan dahi nya mendengar jawaban Sabrina. "Gue kenal Dinda itu karna Zeta, karna Zeta sayang sama dia." "Maksud lo?" Gevan tidak mengetti. "Pop Girl itu cuman berenam. Gue, Vinny, Alya, Lisa, Zeta dan Zoya. Gak pernah ada Dinda. Dinda hanya lah penyambung cerita Pop Girl, dia muncul di tengah-tengah kita saat kelas satu SMP. Zeta yang pertama kali kenal sama Dinda, dia yang waktu itu nolongin Dinda saat di bully di sekolah." Sabrina menatap lurus ke depan, kembali membuka kenangan lama di otak nya. "Saat itu, gue lah satu-satu nya orang yang gak pernah suka sama Dinda. Karna gue benci orang asing, dari kecil, gue cuman punya lima temen, yaitu mereka, sampai sekarang. Gue gak pernah mau bergaul dengan siapa-siapa lagi, yang gue tau, gue cuman punya mereka sebagi teman gue. "Dan saat kehadiran Dinda, gue benci, gue takut. Gue takut akan kehilangan mereka."Sabrina menarik nafas nya sejenak. "Tapi di situ gue mulai belajar, gue gak bisa egois, gue gak bisa merusak senyum Zeta saat itu. Karna, sejak kehadiran Dinda Zeta terlihat lebih banyak senyum, lebih banyak ketawa. Di situ gue sadar, mungkin Zeta butuh temen baru." Dia menoleh sebentar pada Gevan. "Awal nya gue gak pernah sayang sama Dinda, karna emang dari awal gue gak ingin dia ada." Mata gadis iru mulai berkaca-kaca. "Gue peduli sama dia, karna Zeta sayang dama dia." "Jadi maksud lo, lo yang mati-matian ngelarang Dinda ada di posisi itu karna---" Ucapan Gevan terhenti sejnak. "---karna lo sayang sama Zeta? Lo takut senyum Zeta hilang. Bukan karna Dinda?" Sabrina mengusap air mata nya, lalu mengangguk samar. "Seiring berjalan nya waktu, gue sadar bahwa gue harus menerima Dinda, perlahan gue mulai mencoba untuk berteman dengan Dinda. Sampai akhir nya kejadian itu datang, di sana gue sadar apa yang di lakukan Dinda, semata karna dia membalas kebaikan Zeta. Pembalasan yang bahkan lebih besar. Dinda juga yang ngajarin gue apa itu arti ketulusan. Dan saat dia udah gak ada, penyesalan itu datang. Kenapa dulu gue bodoh menganggap dia jahat padahal hati dia sebaik malaikat." Sabrina menatap jauh ke depan. Dia perlahan menghela nafas nya. "Zeta adalah orang pertama yang menerima sikap tempramen gue. Kalau pun suatu saat dia meminta sesuatu yang paling berharga dalam hdiup gue, tanpa ragu gue akan memberikan itu. Karna bagi gue, kebahagiaan Zeta adalah hidup gue." Gevan tertegun dalam diam. Apa yang baru saja keluar dari mulut Sabrina, bisa di rasakan nya ketulusan dari sana. Gevan jadi teringat akan cerita Malvin tiga tahun yang lalu, mengenai pengkhianatan Zoya kepada Zeta. Saat itu, Malvin mengatakan bahwa Sabrina lah orang pertama yang menghajar Zoya, bahkan nyaris membunuh gadis itu. "Tapi Zeta keliahtan lebih dekat ke Zoya. Sementara lo, kelihatan dingin banget sama Zeta. Gue pikir, lo orang nya gak peduli." Gebam bersuara. "Setiap orang punya cara sendiri." Balas Sabrina tanpa menatap Gevan. ✉️✉️✉️✉️✉️✉️
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN