Pagi ini terasa berat untuk bangun, kepala ku pening sekali akibat semalam dugem dengan Bella.
Setelah menghadiri pernikahan Arka dan Dinda aku memutuskan untuk pergi ke Club. Tempat dimana aku tidak pernah menginjakkan kaki ku selama ini.
Tadi malam aku melanggar janji ku pada mama dan papa agar tidak memasuki tempat terlarang itu, bukan hanya pada orang tua ku saja tetapi kepada Arka juga. Ah Arka saja tidak menempati janji nya jadi terserah aku saja jika mau kemana pun juga. Toh aku sudah bebas sekarang, aku sudah tidak ada hubungan dengan Arka lagi.
Efek minum semalam membuat dampak buruk pada diri ku, sudah hampir satu jam tapi mual nya tidak kunjung reda mungkin baru pertama kali aku meminum-minuman seperti itu. Padahal beberapa jam lagi aku ada jadwal terbang ke Surabaya. Ah aku sangat berharap tidak satu Kookpit dengan Arka, jika aku satu penerbangan maka aku rasa aku tidak akan fokus dan ujung nya malah membahayakan para penumpang.
Tapi ku rasa Arka tidak akan bekerja untuk beberapa hari ini karena mungkin mereka sedang bulan madu dan mengambil cuti. Huft membayangkan itu semua membuat ku tambah pening saja. Ingin menghubungi Bella pun dia sudah berangkat karena ada jadwal terbang pagi-pagi sekali.
**
Aku menyeret Koper kecil ku di loby dengan santai, kacamata berwarna hitam menutupi mata ku agar tidak terlihat sembab, sebenarnya aku sudah memakai bedak cukup tebal di area itu. Tapi hasil nya nihil, tidak menutupi sama sekali.
"Siang Ta" sapa Captain Bayu setelah aku sampai di ruangan breefing. Dalam hati aku mengucap syukur kepada YME karena terbang dengan capt Bayu yang notabene adalah sahabat dekat ku, setelah Bella.
Capt Bayu adalah captain yang sangat baik dan ramah, ia akan menyapa siapa pun orang yang ia kenal termasuk aku, sifat nya berbanding balik dengan Arka. Dia hanya akan menyapa orang-orang terdekat nya saja.
"siang capt" balas ku dengan senyum ramah yang aku paksakan.
"Bagaimana keadaan mu?" tanya nya, aku yakin semua orang di maskapai ini sudah tahu tentang hubungan keretakkan ku dengan Arka. Ah kenapa capt bayu harus menanyakan kabar seperti ini. Tentu saja semua orang pun tahu bahwa aku tidak baik-baik saja.
"Tentu saja aku baik" Jawab ku sedikit ketus, sementara captain Bayu hanya terkekeh pelan.
"Baiklah, semoga kau bekerja dengan baik" jawab nya sambil tersenyum lembut. Senyuman yang dapat melelehkan semua kaum wanita tapi tidak dengan ku, aku hanya akan luluh oleh senyuman Arka. Tapi itu dulu gak tahu kalau sekarang.
"Tenang saja capt, aku tidak akan bunuh diri dengan cara menukikkan pesawat ke dasar laut" jawab ku enteng lalu duduk di sebelah nya. Ah aku melupakan disini sudah ada beberapa pramugari dan pramugara.
"Terdengar ngeri yah ta, aku jadi takut nih" Capt Bayu berucap dengan nada yang di buat seperti ketakutan. Aku hanya membalas nya dengan senyum miris. Kesibukan bekerja ku semoga menjadi alasan agar aku cepat melupakan Arka. Meski sampai kapan pun aku yakin aku tidak akan dapat melupakannya.
Captain bayu memulai briefing, ia menjelaskan rute perjalan dan apa saja yang harus di lakukan ketika ada kendala seperti turbulensi. Dia sangat Profesional. Wajah nya nampak serius, melihat itu aku jadi teringat dengan sosok orang yang sudah mengkhianati ku, siapa lagi kalau bukan Arka, huft kenapa harus arka lagi sih. Susah sekali untuk menghilangkan nama nya di dalam pikiran ku meskipun itu hanya sedetik.
"Udah beres capt," ucap seorang pria sekitar usia 35 tahunan yang aku katahui adalah FOO (yang bertanggung jawab atas penerbangan) aku sekarang. Mas Adit nama nya.
"Sip, lengkap ya berarti. 117 ya pesawatnya, ayo kita lanjutkan briefing (pengarahan) nya" Lanjut capt bayu, lalu ia mulai kembali menjelaskan tentang rute mana saja yang akan kita lalui.
Briefing selesai setelah tiga puluh menit, aku tidak terlalu fokus pada apa yang capt bayu bicarakan. Untung saja yang memegang kendali adalah capt bayu aku hanya akan membantu nya saja. Bukan aku tidak profesional tapi aku punya alasan kenapa aku tidak bisa fokus, tentu saja alasan nya adalah Arka.
Aku dan crew beserta capt keluar dari flofs dan naik ke mobil yang akan mengantarkan kami ke pesawat. Karena pesawat berada di parkiran ujung, jadi harus menggunakan mobil untuk pergi ke sana.
Aku bener bener tidak menikmati semuanya, hawa kesedihan selalu menyelimuti hati dan pikiran ini. Aku berdoa semoga saja aku dapat membawa para penumpang yang berjumlah 250 orang dengan selamat sampai tujuan.
"Yang mau fligt, semangat ya capt" ucap mbak Sinta senior sekaligus ketua dari pramugari di penerbangan ku, dia juga orang yang cukup dekat dengan aku. Berhubung pilot wanita disini hanya beberapa orang saja, aku jadi lebih akrab dengan pramugari di banding kan dengan para pilot.
"Ya ampun mbak, aku belum jadi capt loh. Iya pasti semangat kok mbak" jawab ku sambil menampilkan senyum ramah yang di paksakan.
Mobil berhenti tepat di depan pesawat yang akan kami bawa hari ini. Yaitu pesawat B117.800NG. Tidak besar namun juga tidak kecil
Dari dulu aku selalu takjub kalau ngeliat pesawat dari dekat. Seakan akan aku mau meluk ini pesawat, tapi gak mungkin kali. pesawat ini tidak akan terpeluk. Di ibaratkan terlihat tapi tak bisa tergapai begitupun dengan Arka, sekarang dirinya sama seperti pesawat.
Satu persatu kami menaiki tangga,mbak sinta langsung menggandeng sebelah lenganku.
"Lo hebat bisa sampai sini, gue harap lo bertahan, apapun yang terjadi nanti." Mbak Sinta tersenyum sambil terus berjalan menggandeng sebelah lengan ku. Aku tahu maksud dari perkataan mbak Sinta. sebenarnya sekarang aku mulai ragu untuk tetap bertahan, semalam sempat terpikir aku ingin resign dan pergi jauh dari kota ini, namun pekerjaan yang sudah aku tekuni selama tiga tahun belakangan ini membuat ku jatuh cinta pada pekerjaan ini.
Aku selalu dijamu saat ketika aku masih sekolah di penerbangan oleh para Pengajar, mereka selalu bilang bahwa, "Masuknya lebih gampang dari pada mempertahankannya"
Sekarang aku mengerti apa yang mereka maksud, aku harus melakukan yang terbaik, setidak nya aku sukses untuk membuat orang tua ku bangga di atas sana.
Aku langsung melangkahkan diri ke bagian kokpit dan ternyata sudah ada capt bayu yang sudah stand by di kursi bagian kiri, sedangkan aku yang masih menyandang co-pilot akan terus di sebelah kanan sampai naik jabatan menjadi kapten. Ah sungguh membayangkannya saja sudah tidak sabar, aku ingin segera menyelesaikan persyaratan agar aku segera menjadi seorang captain.
biasanya capt disebelah kiri memegang dua kendali. Agar sewaktu waktu pesawat dalam masalah dan Co-pilot nya masih junior bisa dia handle. Keren kan namun sungguh sulit bukan pekerjaan pilot. Membawa puluhan bahkan ratusan nyawa. Mereka mempertaruh kan nyawa nya pada dua pilot saat sedang melakukan penerbangan.
"Suatu saat lo akan ngerti, sebagai sahabat lo, lo gak boleh asal ngambil keputusan" Capt Bayu berbicara sambil menatap lurus ke depan. Menatap awan yang tersusun rapi di atas pemukiman warga.
"Kenapa semua orang berbicara seakan-akan gue yang menyakiti. Padahal disini gue yang tersakiti. gue korban disini" jawab ku menumpahkan air mata kepada bayu. Kalau pun Arka mempunyai alasan kenapa ia tidak memberi tahu ku dari awal. Aku jadi tambah bingung sekarang
Bayu mengelus tangan ku lembut, "Gue tahu apa yang lo rasain. Kali ini lo sabar aja dulu,Suatu saat lo akan bahagia bersama nya. Gue yakin sama takdir yang indah ta"
"Gue bahkan udah gak berharap sama takdir" Jawabku cepat sambil menepis air mata dengan kasar yang sudah berada di pipi ku.
"Lo harus sabar ya, masih ada gue sama Bella"
Aku mengangguk samar, lalu fokus kembali ke dalam penerbangan. Aku harus membawa mereka ke Surabaya dengan selamat. Kali ini aku harus mengesampingkan ego ku demi nyawa mereka. Aku tidak ingin menjadi Rekor kedua dalam daftar PILOT BUNUH DIRI di maskapai penerbangan ku.
...
30 Mei 2020
cty,Java 07:35
Saran nya dong?Ngefeel gak sih?
kalian ada yang nangis gak?
udah ada yang nebak alurnya gimana gak nih?