Delapan

1156 Kata

Kami mampir di toko jualan helm yang masih buka. Ardra membelikanku helm bogo polos berwarna hitam, padahal kalo menurutku gak perlu. Aku punya helm di rumah, dan ini bakalan jadi sekali pake. Mubazir. "Demi keselamatan." Katanya berkali-kali. Ya kalo bawa motornya hati-hati mah gak apa-apa kali ya? Selamat-selamat aja. Lebay ni cowok. Kaya Papa! "Dah yuk! Udah jam sembilan lewat ini, entar kamu dimarahin lagi." Katanya mengajak keluar dari toko ini. Aku mengangguk, membuntutinya sambil menggengam helm baruku. Di luar, Ardra suda menyalakan mesin motornya, menungguku naik ke boncengannya. Kupakai helm berwarna hitam ini, lalu naik ke motornya. Ardra langsung menjalankan motornya, gak kebut, gak pelan banget juga. Standar. Sesekali, aku melihat Ardra melirik ke arahku dari kaca spion

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN