BAB 5 - Sang Mantan

2239 Kata
Happy Reading . . . Flashback on "Huaa.." Kesya kecil menangis tersedu, tersandung mainannya sendiri ketika berlarian. "Mana yg sakit?" Rangga meraih kaki kesya. Lututnya tergesek aspal, kulitnya tak hanya memar tapi juga mengeluarkan darah yang meski tak banyak tapi Rangga panik tak kepalang. Bagaimana tidak, ia mendapat mandat dari orang tuanya agar menjaga Kesya, maka tidak seharusnya gadis kecil itu kekurangan sesuatu apapun. "D-darah?!" lenguh gadis kecil itu, "Kesya nggak mau mati dulu, Kak. Kalau Kesya mati nanti Kakak nikahnya sama siapa.." "Huh?" Rangga mengernyit bingung. Alih-alih mengkhawatirkan yang lebih berbobot, Kesya membicarakan hal yang bahkan ia sendiri belum memahaminya, apalagi gadis yang berumur 5 tahun di bawahnya. "Ini cuma luka kecil, nggak akan buat Kesya mati kok." "Bener?" Mata kecil Kesya yang masih berair menaruh banyak harapan, "tapi kenapa masih sakit.." tangis Kesya semakin menjadi, lebih berisik dari sebelumnya "Fhuhh .." Rangga meniup luka pada lutut Kesya, "masih sakit nggakk? Kaka niupinnya sampai mulut Kakak kembung nih demi Kesya." Tingkah Rangga kali ini berhasil membuat Kesya kecil menampilkan gummy smilenya, dan akhirnya kenyataan Rangga sedang panik akibat tangis Kesya segera tersudahi, berganti dengan gemas yang teramat sangat. "Udah nggak sakit?" Kesya menggelengkan kepalanya. "Masih sakit. Tapi gapapa, kan ada Kakak." Flashback off Ceklek! Rangga membuka pintu kamar. "Key?" panggilnya. Kesya menoleh tanpa menjawab. "Kok kamu liatinnya kayak gitu, sih?" Rangga menghampiri kesya yang terduduk di ujung ranjang. Kesya tak menarik kerah bajunya, memperlihatkan area leher sampai sekitaran d**a putih nan mulusnya yang kini telah dipenuhi tanda merah aneh. "Maksud lo apa?" Tanpa rasa bersalah, Rangga hanya mengangkat bahunya singkat kemudian malah ikut duduk di samping sang istri. "Kamu sengaja mau bikin aku malu?" tuduh Kesya, masih belum puas dengan hardikannya. "Kenapa harus malu?" sahut Rangga, "tinggal pakek baju yang tertutup. Lagian kamu udah nikah ini. Nggak akan ada yang protes." Rangga meraih lengan Kesya, lalu bangkit dari posisinya. "Kita ke bawah. Mama sama papa nanyain." "Duluan aja!" ketus Kesya, menarik lengannya dari genggaman Sang Suami. Bukannya menurut, kini tubuh Keaya malah berada di awang-awang, pria itu mengangkatnya. "Apa sesakit itu?" Rangga berucap dengan setengah berbisik, masalahnya adalah ia terlihat mengulum senyum. Seolah kesakitan yang Kesya rasakan merupakan hal yang menyenangkan baginya. Jelas saja Kesya hendak melakukan protes, namun persis seperti yang Rangga bilang, ia memang terlalu sakit untuk melakukan pemberontakan. Untuk melangkah saja susah, apalagi harus menendang. "Aduh! sosweet banget sih, Pengantin Baru," seru Rindu bersangga dagu. "Kita juga dulu gitu, Mih." Reno menyiku istrinya. Rindu mendelik, "kapan Papi gendong Mami kayak gitu? huh. Mami nggak inget tuh, Mami nggak punya ingetan itu." "Mami tau sendiri dulu badan Mami kayak apa," sahut Reno. "Terus sekarang badan Mami udah setipis ini, kenapa Papi nggak gendong Mami?" "Yah Mami tau sendiri sekarang badan Papi kayak apa," balas Reno lagi. "Alesan!" "Udah, udah," Rangga menengahi, "masa baru hari pertama Kesya di sini malah diasupi beranteman kalian sih?!" "Yup!" Reno membenarkan, "maafin kami ya, Sayang. Mami jangan dicontoh." Baru saja Rindu hendak mereda, suaminya itu malah kembali mengibarkan bendera peperangan. "Apa Pih? kayaknya malem ini papi mau tidur di luar." Melihat kedua manusia yang tak ada akurnya itu malah membuat Kesya tertawa, melupakan kekesalannya pada Rangga. "Loh Key? kamu seneng liat Mami sama Papi berantem," lenguh Reno. Kesya segera menggeleng, "nggak!" butuh waktu untuk tawanya bisa mereda. "Maaf! Ibu sama Ayah juga sering berantem, selama ini Kesya pikir cuma orang tua Kesya aja yang begitu." "Tapi lucunya di mana?" bahas Reno lagi. "Unik aja. Sering berantem tapi tetap memilih untuk hidup bersama." "Yah mau gimana lagi, namanya juga cinta. Ya kan, Mih?" Rindu mengangguk, "mana bisa Papi hidup tanpa Mami." "Kamu nggak menunda kan, Rangga?" bahas Reno, mengalihkan pembicaraan dengan sesuatu yang memang penting. "Rumah ini butuh bayi, biar Mami kamu nggak marah-marah terus." "Papi ini, kok Mami lagi, sih?!" delik Rindu. "Tapi Papi benar juga. Kalian nggak menunda kan?" "Semalem langsung tempur kok, kalian tenang aja. Rangga junior bentar lagi lahir, ya Sayang?" alihnya pada Sang Istri. Bukannya menjawab, Kesya malah menenggak habis segelas air putih yang ada di hadapannya. Ia tak menyangka kalau hal seperti ini bisa menjadi bahasan di luar pasangan suami-istri. "Tadi aja Kesya nggak bisa jalan gara-gara sakit, emm mungkin karena baru pertama kali, jadi wajar aja kan," lanjut Rangga masih belum puas menggoda Sang Istri yang bahkan sekarang wajahnya benar-benar memerah seperti kepiting rebus. "Jadi tadi?" Rindu menutup mulutnya, "Key, suami Kamu nggak kasar, kan?" Kesya hanya bisa menampilkan senyum memaksanya, terlebih lagi Rangga malah menampilkan ekspresi wajahnya yang begitu mengesalkan. Seolah apa yang pria itu katakan hanyalah untuk menggodanya saja. "Apa perlu Mami bikinin kamu jamu?" kekhawatiran Rindu bukan dibuat-buat, ia bahkan berpikir keras untuk mendapatkan solusi dari masalah ini. "Kesya haus," alih Kesya, gelas miliknya sudah tak berisi dan lagi tak ada persediaan di meja. "Ah sebentar, biar Mami .." "Biar Kesya sendiri aja," tahan Kesya, segera bangkit dari tempat duduknya dan pergi ke arah dapur. "b******k!" geram Kesya, meremas pegangan teko. "Emang dia pikir dia siapa?! sampe.." "Suami kamu lah," sambung sosok lain, "siapa lagi emangnya?" Melihat keberadaan Rangga jelas membuat Kesya hendak kembali menghindar, atau Kesya akan melupakan keberadaannya di sini sebab emosinya tak bisa lagi tertahan. "Aku bercanda, maaf." Rangga menghalangi jalan Kesya. Tak menyahut, Kesya hanya bergerak ke arah lain untuk apat melanjutkan langkahnya, taoi lagi-lagi pria itu tak memberinya akses. Krrwk! kkrwk! Terdengar suara yang tak begitu asing. Rangga baru menyadarinya sesaat setelah Kesya memegangi perutnya. "Maaf!" Rangga kembali mengangkat tubuh Kesya lalu membawanya kembali ke meja makan. Entah berapa lama Kesya akan bertahan dengan sosok yang jauh dari kata peka seperti Rangga, sangat berbanding terbalik dengan tipe idealnya. Kesya hanya fokus makan, sembari hatinya yang belum juga berhenti untuk merutuki suaminya sendiri. Acara makan pun sudah selesai, namun ketika Kesya hendak bangkit dari tempatnya, seseorang menariknya agar tak beralih. Rangga menyodorkan 2 lembar tiket ke hadapan Kesya. "Hadiah dari orang tuaku." "Pa-ris?" gumam Kesya, melihat gambar menara eifel tertera di tiket yang ia lihat. Ya, untuk yang satu ini memang impiannya. Tapi ketika sadar kalau yang akan pergi dengannya adalah Rangga, maka sudah pasti mimpinya tak akan berakhir indah. "Gue harus kuliah," ketus Kesya, bangkit dari tempatnya tanpa berniat untuk sekadar menyentuh hadiah yang disebutkan dari mertuanya itu. "Setiap instansi pasti ngasih cuti nikah, lagian.." ucapan Rangga terhenti, sosok yang seang ia ajak bicara sudah hilang dari pandangannya. "Waktu memang bisa merubah segalanya." Rangga bergumam, lalu segera beranjak menyusul istrinya. "Cuma seminggu," kaki Rangga menyumpal batas pintu, membuat Kesya gagal untuk mengunci diri di dalam kamarnya. "Dosen kamu nggak akan marah, karena ini termasuk hak kamu." Kesya mendengus, lalu menatap manik mata pria itu. "Tapi masalahnya, gue nggak mau!!" pungkasnya penuh penekanan. Bukan lagi masalah instansi, tapi memang Kesya yang tak menginginkannya, maka seharusnya tak ada alasan lagi untuk pria itu kukuh. Mendengar hal itu sontak membuat rahang Rangga mengetat. "Harus berapa kali gue nidurin lo biar lo sadar? hah?" timpal Rangga, mencengkram kuat lengan atas istrinya yang penuh percaya diri tanpa penyesalan itu. Kesya tersentak, bahkan tak butuh waktu lama untuk matanya berkaca-kaca. Apa yang baru saja Rangga katakan bukan sekadar kasar, tapi sudah sangat berlebihan. Pria itu sudah membuatnya merasa rendah. Kesya menepis lengan pria itu, lalu berlari ke dalam toilet dan mengunci diri di sana. "Key?" panggil Rangga, mengetuk pintu toilet. "Buka pintunya, aku belum selesai ngomong." Rangga mengusap wajahnya kasar. Ia sadar kalau perkataannya sudah begitu keterlaluan, tapi sungguh rangga paling tidak tahan dengan yang namanya penolakan. Lagi pula ini liburan, seharusnya Kesya tak perlu susah untuk hanya mengiyakan saja. "Key?" panggil Rangga lagi, kali ini dengan suaranya yang lembut. "Sabar itu ada batasnya. Lo harus terima kalo sekarang gue itu suami lo. Besok lusa kita berangkat, gue nggak mau bikin kecewa orang tua kita." *** "Kesya?" Diana mengucek matanya, berharap agar halusinasinya tersudahi. Bagaimana mungkin orang yang baru saja menikah kemarin sudah rela masuk kuliah. Hal yang tidak mungkin. Tapi ketika sosok itu benar-benar duduk di sampingnya, terlebih lagi mengambil alih salah satu benda yang menyumpal telinganya, membuat Diana sadar kalu itu memang benar-benar Kesya. "Gue nggak mimpi, kan?" gumam Diana. Hening. Kesya malah terbuai dengan lagu yang Diana setel. "Tempat lo itu harusnya di pantai, atau di hotel bintang lima, ngapain lo malah duduk di kursi kayu ini lagi?!" cerca Diana, namun Kesya masih tak berniat untuk menyahutinya seolah memang tak ada suara yang ia dengar. "Kesya!" panggil seseorang, tanpa perlu mengulang bahkan Kesya segera menoleh, melihat ke arah sosok yang sudah menyuarakan namanya. Reza, pria itu sekarang tepat berada di hadapannya. Sebenarnya Diana ingin sekali memprotesi kelakuan sahabatnya itu. Tapi ketika menyadari apa yang telah terjadi, membuatnya ikut merasakan apa yang sedang Kesya rasakan. Bingung, bagaimana harus menghadapi mantan pacarnya itu, bagi Kesya, sebab bagi Reza mereka berdua masih dalam sebuah ikatan yang bahkan sudah terputus sejak cincin pada jari manisnya itu tersemat. Kesya benar-benar melupakan hal yang satu ini. Kalau ia ingat bahwa di tempat ini ia bisa bertemu dengan sosok yang perlu ia hindari, maka Kesya tidak akan ke sini. Kesya memberi tanda kepada sahabatnya agar menahan pria itu untuk tidak mengikutinya, lalu setelahnya Kesya segera beranjak pergi dari sana. "Eh Zaa, apa kab-ar.." jangankan menoleh, Reza bahkan tak meliriknya sedikitpun. Diana tertawa hambar, sangat bodoh! Diana bahkan tak pernah berpikir untuk mengajak pria itu bicara, dan demi sahabatnya itu, Diana melakukan hal yang sudah ketahuan hasilnya. Diabaikan. "Kesya tunggu!" Rangga berhasil meraih lengan Kesya. "Maaf, aku khilaf." "Nggak ada yang perlu dimaafin, Za." Reza menarik senyumnya. "Aku tau kamu pasti ngerti," ucapnya, memeluk Kesya yang masih dalam posisi membelakanginya. Tanpa tahu kalau sosok yang sedang ia peluk sedang berusaha mati-matian untuk tidak menangis. "Aku kangen sama kamu!" ucap Reza lagi. Kesya semakin tak punya tenaga untuk melepaskan diri. Untuk saat ini saja Kesya mau merasakan pelukan ini, yang setalah ini tak akan bisa ia rasakan lagi. Bugh! Kesya terperanjat. Tubuh Reza telah tersungkur di aspal. Entah sejak kapan Rangga berada di sini, kehadirannya sama sekali tak memberi tanda-tanda. "Jangan ganggu istri gue!" Rangga mengambil alih Kesya yang masih terkejut dengan keadaan sosok di hadapannya yang tengah terluka. "Istri?" Reza bangkit dari keterjatuhannya. "Maksud lo apa?" meraih kerah Rangga, lalu menariknya kasar. Rangga menampilkan tangannya, memperlihatkan cincin pernikahannya. Seolah tak puas ia pun meraih lengan Kesya untuk menambah bukti kalau keduanya sudah dalam ikatan yang sah. "Masih kurang jelas?" "Key?" fokus Reza beralih, ia menaruh banyak tanya pada Kesya. Berharap kalau apa yang pria itu katakan hanyalah omong kosong. "Itu cuma akal-akalan dia aja kan?" "A-aku.." suara Kesya tercekat, air matanya tak lagi bisa terbendung. "Minggir!" desaknya pada Rangga yang sama sekali tak memberi akses untuknya menghampiri Kesya. "Gue mau ngomong sama pacar.." Bugh! Sebuah pukulan kembali mendarat pada pipi Reza, membuat pria itu kembali terjatuh, terlebih lagi tenaganya telah hilang. "Jangan sekali-kali lo nemuin istri gue lagi!" Rangga meraih lengan Kesya, lalu membawanya pergi dari sana. Kesya sudah berada di dalam mobil, tapi gadis itu masih belum juga menyudahi tangisnya. Itu benar-benar membuat Rangga merasa frustasi, terlebih lagi istrinya itu sedang menangisi pria lain. Sangat mengotori harga dirinya. "Berhenti!" tekan Rangga, "aku bilang berhenti, Kesya!" Dengan susah payah Kesya menahan isaknya, membalas tatapan tajam Rangga padanya tanpa sedikitpun rasa takut. "Selama bisa ngomong baik-baik kenapa harus pakai kekerasan?" lirihnya. Rangga mengernyit, "lo nangis karena.." "Karena orang yang gue cintai terluka!" sambung Kesya amat puas. Bukannya marah, Rangga hanya tersenyum kecut. "b******n itu?" "Namanya Reza!" "Jangan berani menyebut nama b******n tadi lagi!" mencengkram kedua pipi Kesya, membuat tatapan mereka bertemu yang kini wajah keduanya hampir tak berjarak. "Gue nggak mau bibir ini menyebut nama laki-laki lain." "Argh!" raung Rangga, kakinya diinjak oleh highheels tajam andalan Kesya. Sedangkan Kesya, wanita itu bukan hanya berhasil lepas dari cengkraman Rangga, tapi juga telah turun dari mobilnya dan beralih ke dalam taksi. "Kesyaaaa.. ke mana kamu?" *** "Kesya pulang!" seru Kesya, dengan santai melewati dua manusia yang merasa terkejut dengan keberadaannya. "Kamu di sini?" heran Erina. "S-suamimu mana??" memghampiri Kesya sembari celingak-celinguk ke belakangnya, mencari keberadaan sosok yang seharusnya ada. "Kesya sendirian!" jelas Kesya. "Malam ini Kesya mau nginep di sini!" ujarnya kemudian kembali melanjutkan langkahnya tanpa beban. Kali ini bukan ibunya yang menghalangi, tapi sang Ayah. "Mama suamimu?" "Udah dibilangin .." "Kesya kangen sama Ayah dan Ibu katanya, jadi hari ini kami memutuskan buat nginep di sini." Rangga muncul di balik pintu, membuat Erina dan Erwin akhirnya dapat bernapas lega. "Syukurlah," Erina menghampiri Rangga lalu menggiringnya masuk. "Kesya nggak menyulitkan kamu, kan?" Rangga tak langsung menjawab, aksi pria itu pun kembali membuat Erina dan Erwin saling melempar tatap, khawatir akan kelakuan anaknya. Begitupun dengan Kesya yang kini tengah menunduk, sadar diri atas apa yang telah terjadi. "Kesya istri yang baik." Rangga meraih pinggang istrinya untuk lebih rapat dengannya, lalu mengecup pelipisnya lembut. "Terima kasih sudah merawat istri Rangga dengan baik." Lagi dan lagi pria itu hanya menggodanya saja. Kesya tak bisa lagi menerima asupan perlakuan Rangga yang sok manis di depan semua orang, tapi bak iblis ketika di hadapannya seorang. "Kesya capek," ujar Kesya kemudian, "Kesya ke atas dulu." "Kalau begitu Rangga juga mau ke atas," pamit Rangga mengekori istrinya. Brak! Kesya menutup pintu sebelum suaminya sempat masuk. "Aahww!" ringis Rangga, keningnya berhasil mengecup pintu berbahan jati di hadapannya. "Kamu nggak sengaja, kan?" lenguh Rangga, mencoba mengobati dirinya sendiri walau begitu tahu kalau wanita itu memang sengaja melakukannya. "Baik," putus Rangga, "apa harus kuadukan perlakuanmu pada ayah dan ibu atas menantu kesayangannya ini?" Bersambung . . .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN