Bebek Pincang?

1115 Kata

Setelah mandi dan berganti pakaian santai, Aleeya dan Kaivandra turun ke area restoran outdoor villa. Sarapan disajikan dalam konsep buffet semi-privat dengan pemandangan hamparan sawah yang memukau. Aleeya berjalan pelan, masih meringis setiap kali melangkah. “Aku kayak bebek pincang,” keluhnya sambil menahan tawa malu. Kaivandra menatapnya sambil memegang tangan sang istri erat. “Kalau bebek secantik ini mah, mau aku pelihara seumur hidup.” Aleeya mencubit pinggang suaminya pelan. “Nggak usah gombal terus.” Mereka duduk di salah satu meja yang agak tersembunyi di bawah pepohonan. Udara pagi ini segar sekali, dengan suara alam yang menenangkan. Pelayan datang membawakan kopi hangat dan jus mangga. Saat mereka sedang menikmati roti dan buah, seorang pemuda asing mendekat ke meja mereka

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN