Kaivandra menoleh pelan, matanya menatap halaman album yang masih terbuka. Dalam cahaya lembut ruang keluarga itu, wajahnya terlihat lebih hidup, seperti ada bayangan masa lalu yang mulai menggeliat dari dalam ingatannya. “Boleh, lanjutkan saja,” jawabnya, suaranya tenang, hampir seperti bisikan. Aleeya mengangguk, tersenyum kecil. Jari-jarinya yang ramping membalik halaman demi halaman, setiap helai membawa potongan waktu yang pernah mereka lewati. Mereka berhenti di satu foto yang sedikit buram, tapi tetap menyimpan warna nostalgia: Aleeya kecil dan Kaivandra remaja duduk di trotoar depan minimarket komplek, masing-masing memegang es krim. Wajah Aleeya belepotan cokelat, sementara Kaivandra terlihat setengah geli, setengah jengah karena lengannya ditarik gadis kecil itu agar tidak sege

