Chapter 08
(Takdirku)
Sakura Pov.
Aku hanya bisa membalut tubuhku dengan selimut. Dan terisak.
"Hikks... Hue.. Hikkss..."
Bagaimana jika aku nanti hamil? Pasti si biadap itu hanya bicara.
"Gugurkan.."
Aku tutup diriku dengan selimut dan terisak sepuasku kenapa kehidupanku berubah seperti ini?
Aku merasa pusing dengan semua ini dan mataku terasa panas, tubuhku terasa lemas dan mulai menghangat hingga terasa sedikit panas.
" Ayah.... Ibu," gumamku lirih menyebut nama kedua orangtuaku. Pasti kedua orang tua ku kecewa di surga sana... Semua ini karena dia Sasuke Uchiha!
Suhu badanku terasa panas, dingin yang aku lihat serasa berputar mungkin aku demam? Yang terlintas di pikiran ku.
Aku merasa mengantuk dan ingin sekali memejamkan mataku lagi. Padahal aku selalu menjaga kesehatanku agar tidak sakit, karena aku benci sakit karena setiap aku sakit pasti aku merasa sendirian seperti sekarang.
"Kau demam?"
Suara ini. Aku sangat kenali, laluku mulai membuka kelopak mataku melihat sosok Sasuke menyentuh keningku dengan telapak tangannya.
"Hikksss... Aku tidakk mau.. Cukupp!!" protesku. Tapi, Sasuke hanya diam menatapku intens.
Aku hanya menatapnya penuh takut saat melihat kedua onyx hitamnya yang sangat mengerikan bagiku.
"Tidurlah Haruno," ucapnya. Sasuke menunjukkan senyum iblisnya yang terlihat manis bagi yang tidak tahu sifat asli si biadab ini!
"Aku mohon berhentilah menyiksaku," ucapku parau. Pipiku terasa basah mungkin aku menangis lagi.
Aku mulai tidak bisa berpikir jernih meminta pada iblis yang tidak memiliki hati seperti dia!
"Baiklah selama kau sakit aku akan libur menikmati milikku," ucapnya. Sasuke terus membelai rambutku, dia kenapa berbeda?
"Aku bukan milikmu!" jawabku dengan nada suara lesu. Dia menunjukkan ekspresi kurang suka. Dia beranjak ke atasku yang sedang terbaring di tempat tidur. Kedua tangannya, di sisi kiri dan kanan kepalaku.
"Jangan mulai lagi," ucapku. Tanpa terasa bulir air mata membasahi kedua pipiku tanpa henti. Aku bisa merasakannya saat ini air mata ku terus mengalir melewati pipiku.
Dia mendekatkan wajahnya, ia sangat gila! Aku sakit tapi dia tetap ingin melakukan hal itu dan sama saja seperti membunuhku perlahan...
"Haruno, berhentilah menangis," ucapnya sambil menghapus
airmataku.
Trik apalagi ini? Pasti si biadab ini merencanakan sesuatu!
"Jangan sok baik!" ucapku tegas. Dia hanya tersenyum dan mencium bibirku.
"Hnn, berhentilah menangis!" ucapnya tegas dan juga menatap intens.
Dia turun dari ranjang ku dan pergi keluar kamarku. Aku ingin bangun dari baring ku semua terasa berputar rasa pusing amat terasa menyiksaku.
"Uhuukk... Uhuk.."
Aku menyentuh keningku sendiri demamku tinggi sekali dan aku merasa sangat haus.
Aku duduk ditepi ranjang mulai berpikir banyak hal dari ingin bunuh diri atau kabur dari tempat ini. Menghindari iblis itu yang merusak kehidupanku, saat diriku melihat seisi kamar.
Aku berjalan meraih piyamaku yang berada di lantai juga pakai dalamku.
'Iblis itu menganggapku apa? Dan sekarang entah kemasukan setan apa hingga dia jadi sok baik,' gumamku dalam hati.
Aku memakai semua pakaianku dan ambruk ke tempat tidur.
"Pusing dan badanku terasa remuk," gumamku.
.
.
Cekhlek.
.
.
Aku melihat pintu kamarku yang mulai terbuka. Sosok iblis yang sedang bermain drama kini membawa semangkuk bubur.
Dia kenapa jadi aneh? Dia meletakkan segelas s**u di meja rak kecil dekat tempat tidur.
Dia duduk di tepi ranjang dan aku hanya berbaring melihat ke arah lain.
"Cepat bangun. Kau harus makan," ucapnya.
Dia menatap intens ke arah ku ketika aku meliriknya. Ku mulai bangun dan duduk di ranjang.
"Pergilah," ucapku.
Dia meniup sesendok bubur dan menyodorkan sendok seakan menyuapi?
"Hnn, buka mulutmu!" ucapnya.
Aku hanya diam dan menutup mulutku rapat.
"Cih! Apa aku harus menyiramkan bubur ini ke wajahmu, Haruno?!" ancamnya.
Aku mendelik membulatkan mata terkejut. Dia sangat marah apa yang harus aku lakukan?
"Aa.."
Aku membuka mulut seakan menjadi polos. Saat ini entah kenapa aku semakin hari menjadi bodoh dan takut jika dia nanti marah.
Dia terus menyuapiku, walaupun rasa bubur itu entah kenapa terasa pahit, tapi ku berusaha menghabiskannya dan yang dia bawa porsinya, sedang tidak banyak juga tidak sedikit.
"Hnn, minum!" perintahnya tegas. Dia memberiku segelas s**u diikuti tatapan dingin dari kedua mata onyx hitamnya yang mengerikan.
Aku mencoba meraih gelasnya yang dia bawa. Tapi, dia menolak? Malah menyuruhku diam.
Dan membantuku meminum segelas s**u. Aku melirik wajahnya dan senyuman iblisnya dia perlihatkan padaku. Aku menghentikannya agar berhenti, membantuku meminum segelas s**u.
"Cukup keluarlah," gumamku.
Sasuke menatapku intens tapi lebih ke ekspresi tidak suka.
"Apa kau ingin, aku hukum, haruno?"
Aku hanya meringis mendengar ucapannya yang mulai seperti biasa terdengar selalu ingin menyiksaku. Aku menggeleng lalu tertunduk lesu, ia membelai rambutku.
"Hnn, milikku" gumamnya. Aku membulatkan mata saat menunduk dan terdiam.
'Dasar iblis yang suka berbohong,' ucapku dalam hati.
Dia memaksaku mendongak agar melihat wajahnya yang selalu berekspresi serius. Menatap intens dingin dan sedikit tersenyum. Matanya terus bergerak ke kiri, kanan dan bawah lalu menatapku tegas.
"Mmmhphh!"
Aku mendelik tiba-tiba karena dia melumat bibirku laluku meraih wajahnya mendorong agar berhenti melakukan hal bodoh ini.
"Cih!"
Decihnya terdengar kasar.
"Keluar dari kamarku!" bentakku. Dia bersiap menamparku dan akupun menutup mataku rapat-rapat.
Dia malah meraba pipi kiriku dan berpesan, "kau milikku."
Aku hanya menutup mata tak mempedulikan ucapannya.
'Omong kosong.'
Ku gerakan bibirku membentuk kata tanpa suara.
"Omong kosong?" gumamnya.
Dia melumat bibirku walau, aku menutup mata, tapi aku yakin itu yang dia lakukan karena aku terbiasa dengan caranya menciumku.
"Mmm.."
Ciuman nya semakin dia perdalam dan menggigit bibir bawah memaksaku membuka selah dan akupun membuka selah.
Seakan menurut dengan perintah permainannya yang membuatku tenang dan hanyut entah kemana pikiran dan harga diriku juga benciku saat ini debug jantungku terus berpacu cepat, tanpa sadar ku ikut masuk dalam permainan ciuman iblis ini.
.
.
Degh.
.
.
"Lembut," ucapku dalam hati sambil diikuti saling membalas ciuman bibir.
"Milikku," gumamnya diselah ciuman.
Aku membalas ucapannya dengan cara membalas ciumannya lebih agresif.
Sakura Pov End.
BERSAMBUNG
Chapter 09
(Perubahan)