“Bicara, Saka!” Elang mendesak adiknya. Tatapan Saka begitu datar. Ia meneliti penampilan Elang yang terlihat berantakan. Mata kakaknya bahkan terlihat lelah. Wajahnya pucat. Pria tersebut lantas memberikan kotak makanan pada Elang. “Buat Bang Elang.” Elang menatapnya beberapa detik, sebelum akhirnya mengambil kotak tersebut. “Bia lagi sakit, tapi rela masak spesial buat Bang Elang. Sekali lagi, demi Bang Elang.” Kalimat terakhir itu terdengar penuh penekanan. Saka menyaku kedua tangannya ke celana. Melihat sikap kakaknya yang hanya diam, ia menghela napas. Tatapannya beralih ke sekitar koridor yang sepi. “Jangan buat Bia tambah sakit karena Kak Elang mengabaikan Nabila.” Elang meremas kotak makanan tersebut. Ia ingin membalas, tapi Saka lebih dulu berbalik dan pergi begitu sa

