Lorong di lantai atas itu diisi derap langkah berat seorang pria berpakaian formal. Penampilannya begitu sempurna. Rambut disisir rapi, jas hitam melekat pas, dan sepatu mengkilap licin.
Tubuh tingginya sekitar 193 cm. Tegap. Bahu lebarnya kokoh. Rahangnya tegas, dengan raut wajah dingin, seolah tidak sembarang orang menyentuhnya.
Elang Hanggara. Cucu sulung Hanggara dikenal dengan wibawanya. Ia disegani berbagai kalangan. Pemimpin perusahaan multinasional itu hampir tidak pernah memperlihatkan senyumnya.
Ia dikenal sosok tegas dan suka mengubah aturan sesuka hati. Meski wajar, banyak karyawan yang kelabakan ketika harus berhubungan dengannya langsung.
Di belakangnya, seorang pria mengikuti langkah lebar Elang. Ia tetap menjaga jarak, bersiap jika saja atasannya itu bertanya tiba-tiba.
“Jadwal selanjutnya?”
Kafka berhenti begitu Elang memberi pertanyaan. “Meeting dengan dewan direksi terkait ekspansi Asia Tenggara, presentasi final akuisisi perusahaan logistik.”
Elang mendengarkan singkat, sebelum akhirnya kembali melanjutkan langkah. Namun, begitu sampai di depan pintu ruang kerja, sekretaris pribadinya menghampiri.
“Permisi, Pak.” Gia, sekretaris itu membungkuk segan.
Tatapan datar Elang berikan pada perempuan tersebut. “Ada apa?”
Gia mengangkat sedikit pandangannya supaya berbalas tatap dengan pria tersebut. Ia menoleh ke arah ruangan yang ada di sampingnya—ruang kerja Elang. .
Tanpa sadar, Elang juga mengikuti arah pandang sekretarisnya. Pria tersebut maju selangkah. Menggenggam handle pintu, hendak membukanya.
“Di dalam ada orang yang sudah menunggu, Pak.”
Tangan Elang menyingkir dari benda itu. Ia memasukkannya ke dalam saku celana masing-masing sisi. Pria tersebut menatap nyalang sang sekretaris.
“Lupa aturan, kamu?”
Nada bicaranya datar. Namun, Gia tahu itu lebih berbahaya daripada bentakan. Apalagi ia sempat melihat tatapan Elang yang seakan-akan siap membunuhnya kapan saja.
Siapa pun tahu, Elang tidak pernah mengizinkan orang lain masuk ke ruang pribadinya, termasuk orang tua maupun keluarganya.
Bagi pria tersebut, ruangan itu adalah privasi. Dan Elang tidak suka privasinya diganggu.
Gia cepat menggeleng. “Saya nggak lupa, Pak. Justru karena saya tau jika orang itu termasuk orang yang Pak Elang percaya. Makanya saya meminta untuk tunggu di dalam.”
Wajah masam Elang perlahan menghangat. Hanya ada satu nama yang selalu ia izinkan untuk tahu apa pun tentangnya.
Senja--mantan istrinya.
Mengingat nama itu, Elang langsung mendorong pintunya cepat dan masuk. Ia mengabaikan asisten dan sekretaris pribadinya yang kini meninggalkan pintu ruang kerjanya.
Di samping meja kerja. Tangannya menggenggam map. Pandangannya mengarah ke depan, memperhatikan pemandangan luar yang terlihat dari kaca lebar di ruangan.
Elang menatap punggung perempuan itu. Rupanya Senja tidak menyadari kehadirannya di sana.
Rambut Senja tergerai rapi. Rok span yang dikenakan menampilkan kulit putih kaki jenjangnya.
“Long time no see, Senja ....”
Deg!
Deg!
Suara itu ... suara yang sudah lama tidak Senja dengar. Suara berat yang selalu membuatnya frustrasi dan hampir kehilangan percaya diri.
Dalam beberapa detik, tubuh Senja menegang. Getaran di hatinya terasa lebih cepat. Wajahnya menampakkan kecemasan yang tidak bisa ditepis dalam waktu singkat.
Derap langkah terdengar. Bola mata Senja bergerak gelisah. Dalam sekejap, tangan besar itu melingkar di pinggang.
Elang memeluknya dari belakang. Erat. Makin erat, seolah tidak memberi celah untuk perempuan tersebut bergerak.
Senja menahan napas. Matanya memejam sesaat. Apalagi saat kepala pria tersebut tenggelam di ceruk lehernya, menghirup wanginya dalam-dalam.
Tindakan Elang membuat Senja makin meremang. Ada sesuatu yang bergumul di hatinya dan sulit dijelaskan.
Perlahan, Senja menarik napas dalam-dalam. Ia berusaha mengambil ketenangan yang sempat terenggut oleh pria tersebut.
Embusan pelan terdengar, bersama dengan tangan Senja yang berusaha melepas pelukan Elang dari pinggangnya.
Tapi, pelukan itu terlalu kokoh. Senja tidak bisa melepasnya. Dan Elang masih tetap berada di posisi belakang perempuan itu, memeluknya.
“Kak!”
“Jangan minta saya melepaskan, Senja. Karena sampai kapan pun saya nggak akan biarin kamu bebas.”
Mata bulat Senja melebar. Perempuan itu akhirnya menginjak kaki Elang sebagai bentuk perlawanan terakhirnya.
Benar saja, pelukan Elang lepas. Pria tersebut mengerang pelan. Tatapannya tertuju pada perempuan yang kini sudah berbalik dan menghadapnya.
“Berhenti bersikap lancang, Kak!”
Elang tersenyum. Ia melirik ke arah map yang dipegang Senja. Pria tersebut melangkah mundur, menjatuhkan tubuhnya ke sofa.
“Saya paling suka lihat kamu marah begitu.”
Sialan.
Ingin rasanya Senja mengumpat. Jika tidak atas perintah atasannya, ia tidak akan sudi menginjakkan kakinya ke ruang kerja sang mantan suami.
Senja mengambil map yang sempat terjatuh. Ia letakkan dengan kasar ke meja hadapan Elang hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras.
“Aku diminta atasan buat minta tanda tangan ke Kakak.”
Ekor mata Elang melirik singkat ke map hitam tersebut, sebelum kembali beralih menatap Senja yang mati-matian menahan kesal terhadapnya.
“Tanda tangan saya mahal, Senja. Semua harus ada bayarannya.”
Demi apa pun, Senja ingin sekali menampar wajah Elang. Sudah ia duga, pria tersebut akan mempermainkannya, meski dalam urusan pekerjaan sekalipun.
“Kak Elang nggak bisa nyampurin urusan pribadi dan kerjaan. Kakak harus bisa bersikap profesional.”
Senja masih berusaha menekan emosinya. Ia tidak ingin gegabah. Kepala perempuan tersebut berpikir keras untuk menyeimbangi cara Elang yang licik.
“Dan kamu punya hak apa untuk mengatur saya? Hm?”
Napas berat menguar. Senja bersedekap d.a.da. Tatapan nyalangnya tertuju pada pria yang bersandar di sofa begitu santai.
“Tanda tangan sekarang juga, Kak. Aku udah ditunggu sama atasan.”
“Kalau saya nggak mau?” Elang menaikkan satu alisnya. Wajahnya dingin.
Hening.
Suasana di ruang kerja pria tersebut mendadak panas. Tegang. Senja menggigit bibir bawahnya, mulai gelisah.
Sikap Senja yang demikian justru memancing sesuatu yang seharusnya tidak hadir dalam diri Elang. Pria itu mengangkat satu tangannya, jarinya bergerak, meminta mantan istrinya mendekat.
Dengan keras kepalanya Senja menggeleng. Ia tetap berdiri di tempat. Bertahan dengan keinginannya untuk menolak permintaan Elang.
Pria itu terkekeh. Tangannya kembali turun. “Silakan ambil map kamu dan pulang.”
Elang langsung berdiri. Ia berpindah ke kurai kerja dan membuka layar laptopnya. Kehadiran Senja di ruang itu kini dianggap seperti angin lalu.
“Kak Elang harus tanda tangan. Ini semua demi—“
“Saya nggak mau kasih secara cuma-cuma, Senja.” Elang menjawab tanpa meninggalkan fokusnya dari laptop.
Perempuan tersebut bimbang. Ia membisu. Senja mempertimbangkan semuanya secara matang.
Jika harus kembali ke kantor tanpa tanda tangan itu, Senja pastikan akan kehilangan pekerjaan. Namun, jika bertahan ....
Senja tidak bisa membayangkan apa yang akan Elang lakukan. Posisinya serba sulit. Ia terimpit. Tertekan. Sampai akhirnya, perempuan tersebut kembali mengambil mapnya dan membawanya ke Elang.
“Oke. Bayaran apa yang Kak Elang minta untuk sekadar tanda tangan?”
***