Baskara masih berdiri di dapur. Pria tersebut memeluk erat Senja yang menangis di dadanya. Sejak kejadian yang ia lihat tadi, istrinya itu belum membuka suara, selain menangis karena perasaannya yang berkecamuk. Yogas sudah berlalu lebih dulu kembali ke kamar, tanpa meninggalkan sepatah kata pun pada sang papa. Gerakan tangan pria tersebut perlahan mengusap surai hitam Senja. Napasnya ikut memberat. Dadanya naik turun menahan emosi. Sebelum sempat ia menguraikan pelukan, suara langkah kaki yang mendekat menarik atensinya. Yogas kembali ke dapur. Lelaki itu menyunggingkan senyum, seakan tidak ada rasa bersalah di wajahnya dengan apa yang sudah dilakukan pada ibu sambungnya beberapa menit lalu. “Belum selesai, Pa?” Yogas bertanya santai. Ia mengambil sebotol air mineral di kulkas, m

