Senja menghela napas panjang begitu menginjak halaman dari sebuah rumah—rumah yang tidak lagi pernah ia kunjungi beberapa waktu terakhir, dan mungkin ini akan menjadi kunjungan yang terakhir. Bukan. Bukan karena Senja memiliki masalah dengan penghuni rumah, tetapi memang masanya saja yang telah habis. Rumah luas bernuansa putih tulang itu menyimpan cukup banyak memori yang tidak dapat Senja lupakan hingga saat ini. Ia mengedarkan pandang ke setiap sudut halaman. Merekamnya ke dalam isi kepala sebelum masuk ke dalam. Atensi Senja beralih pada seorang pria paruh baya yang datang tergopoh-gopoh dari dalam begitu menyadari kehadiran Senja. Pria itu membungkuk sebentar kepadanya. “Silakan masuk, Non. Bu Yasmin sudah menunggu di dalam,” ujarnya sembari mengelap peluh keringat yang membasa

