chapter 1

1080 Kata
Malam yang dingin dan sunyi,,di antara rintik hujan yang turun membasahi bumi,,di pinggiran kota yang jauh...terduduk aku dengan semua asa ku,,inikah penghujung dari sebuah pilihan,,ataukah aku salah dalam melangkah...bulir bening itu jatuh tak tertahankan,,sebuah teriakan yang ingin keluar tercekat di tenggorokan... ini begitu menyiksa.. Kembali dalam kenangan... Aku pikir,, pernikahan adalah sebuah akhir yang bahagia dalam hidup ini,, ternyata ini adalah awal dari sebuah arti pemahaman tentang hidup yang sesungguhnya... Lama menjalin asmara ternyata bukan sebuah pedoman langgengnya sebuah biduk rumah tangga.. Aku Setia Larasati seorang pegawai di sebuah perusahaan industri tekstil di kota B,,dengan karir yang baik dan memiliki seorang kekasih yang menurutku cukup baik dan ideal.. Ikhsan Kurniawan adalah laki-laki dalam hidupku yang telah ku kenal cukup lama,, hubungan dari perguruan tinggi hingga sama-sama berkarir lebih dari cukup untukku mengenalinya... Lusa kemarin Ikhsan melamar ku secara pribadi,,dua hari lagi keluarganya akan datang melamar secara formal... Kebahagiaan apa yang tak ku miliki saat ini,,aku sudah cukup lama menunggu saat seperti ini,,suatu kejelasan dalam sebuah hubungan,,dan ibadah terindah dalam kehidupan ini,,tak dapat aku pungkiri senyumku terukir di sudut bibirku setiap aku ingat moment dia melamar ku... "Setia!! " suara ini membuatku tersadar dari senyuman ku yang sedari tadi melamunkan dia... "hai!!" aku melambaikan tanganku padanya di seberang jalan,, suasana riuh jam pulang kantor seketika hening,,duniaku hanya tertuju padanya saat ini,,dia yang di seberang sana adalah laki-laki yang aku cintai Ikhsan... Aku menyebrang sedikit berlari ke arahnya,,tak mau dia menunggu lama... "sudah lama nunggu?" "belum,,aku baru keluar dari kantor" "ooooh maaf aku sedikit telat,,tadi lumayan macet" "ya,,aku tahu.. jam pulang kantor memang selalu ramai" "ayo naik,,keburu gelap" "hemmmm" aku naik ke skuter matiknya,,duduk manis di boncengannya,, seiring melaju membelah jalan tak ada obrolan apapun,,hening..... Sesampainya di halaman rumah,,aku turun dia hanya tersenyum dan berpamitan pulang... Aku melihatnya pergi hingga punggungnya menghilang di pengkolan.. Ikhsan ku sungguh menawan,,wajah manis dengan lesung pipi,,hidung mancung,,kulit sawo matang dan tinggi yang ideal... Sungguh dia sangat rupawan... Sikapnya yang selalu tenang terkadang membuatku merasa aman.. Tanpa aku sadari,, ketenangannya menghanyutkan ku... Di antara perjalanan asmara ini,, sedikit sekali kami bertengkar,, hampir tak pernah terjadi,, terkadang aku merasa beruntung tapi,, terkadang akupun merasa lelah... seperti aku mencari kepastian dalam perasaannya padaku,,aku tak pernah tahu,, bagaimana dia marah,, cemburu,,atau tak suka... Dia selalu diam di saat aku butuh penjelasan dan pergi di saat aku sedang bingung.. Tetapi tak lama dia akan baik dan kembali,, seperti tak terjadi apa-apa... Aku merasa nyaman saja dan tak ada yang perlu di khawatirkan,,hingga hubungan ini berlanjut begitu lama dan kami sepakat untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius... Dua hari setelahnya.... Malam ini di rumah ku begitu riuh,, keluarga dan para tetua berkumpul,, Aku sudah berdandan sangat cantik dengan setelan kebaya tunik dan kamen batik yang senada dengan kemeja lengan panjang milik Ikhsan... malam ini adalah malam lamaran dan sekaligus pertunanganku dengannya... Dia datang dengan keluarganya dan beberapa seserahan... Aku sungguh merasa bahagia dan bersyukur... Dalam bayangan ku sungguh aku telah mencapai sebuah akhir yang bahagia dalam sebuah hubungan... Setelah berunding cukup lama menyesuaikan tanggal dan primbon,,di tetapkan lah tiga bulan lagi tanggal pernikahan kami,,aku sungguh lega dan bahagia,,kami bertukar cincin dan mengabadikan moment-moment ini dalam sebuah jepretan kamera,,tentu dengan pose bahagia memperlihatkan cicin di jari manisku... Pagi ini semua terasa lebih indah,, setelah acara tadi malam aku masih menampilkan senyum bahagia,, bagiku waktu bersama yang tidak sebentar dan juga banyak hal di lalui bersama hingga di pertemukan dengan takdir dan menikah adalah sebuah anugerah... Aku melangkah dengan pasti ke tempat kerjaku,,membawa seburat bahagia di wajah dan hatiku... Begitu banyak ucapan selamat untukku hari ini dan kata iringan "di tunggu undangannya ya". begitulah lingkungan kerja... kembali saat ini... Kebahagiaan saat itu sungguh membuatku tak percaya aku sampai pada titik lelah ini,,dimana aku duduk di sini sendiri,,di bangku taman pinggiran kota... setelah sesak menghantam dadaku aku menangis sejadi jadinya... isak pilu keluar dari sela tangisku hingga kau tak kuasa membendung teriakan lepas ku.... meneriakkan sakit dan pedihnya kehidupan rumah tangga ku setelah sepuluh tahun menikah,,aku merasa terjebak di terowongan gelap... semua ini terasa seperti tipuan... sakit yang tak berdarah sungguh nyata adanya.... Dua jam sebelumnya... Aku tak tahu,, mengapa dia mendiamkan ku dari pagi tadi,,hingga dia pulang kerja tetap diam tanpa kata... Ku coba bicara dan menanyakan,,bukan jawaban tapi menghindar begitu cepat hingga aku tak dapat mengajaknya bicara.... Akupun diam,,tetapi sesuatu sungguh terasa tak nyaman,, seolah aku tak dapat penyelesaian dari semua masalah ini,,aku tak tahu apa salah ku yang membuat dia tak suka... sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar untuk sebuah kata kepastian... ternyata menikah dengannya sepuluh tahun aku masih tak faham diamnya tentang apa... Perasaan yang tertumpuk selama ini dan rasa bingung,,di tambah aku mulai merasa tak di hargai dengan sikap diamnya membuatku tak tahan... Aku berdiri memakai jaket dan jilbab seadanya,,berlari kencang meninggalkan dua anak ku di rumah... Hingga di sinilah aku sekarang,,duduk dalam tangisan bingungku... "drrrrt drrrrt" handphone ku dari tadi bergetar tak ku hiraukan,, berapa banyak pesan masuk tak k*****a,,aku larut dalam pikiran ku,, menjejaki setiap inci kenanganku... Begitu hebatnya sang diam membunuh ku dari dalam... Hanya dengan diam sebuah mahligai pernikahan bisa larut dalam gelap tak berarti... Tak perlu melakukan semua kesalahan,,cukup diam dan tak menjawab sudah menyakiti begitu dalam,, menghancurkan mental dan harga diriku sehancur-hancurnya... Aku mengusap sedikit air mata yang tersisa.. ku pikirkan kembali apa yang harus ku lakukan,,dan jawabannya tetap sama,,aku sungguh tak sanggup lagi menghadapi diam mu... Aku sudah kehilangan arah ku untuk menuju mu,,dan kamulah yang membuat tembok antara kita semakin nyata adanya... sekali lagi aku menangis sesenggukan dan meraung sejadi-jadinya menumpahkan kekesalan sepuluh tahun yang ku rasakan... Ternyata,,diam dan menghindari masalah bukanlah sebuah penyelesaian,, namun jaringan yang mematikan cukup untuk membuatku mati rasa... tumpukan masalah yang tak terselesaikan mencuat di benakku,, di selingi itu lintasan wajah dua buah hati ku yang tak bersalah membuatku kembali bimbang dalam melangkah,,bertahan atau lepaskan... Mereka lah yang paling tersakiti saat ini... sungguh aku di simpang jalan dan tak tahu harus kemana... Aku memutuskan mengangkat telponnya "hallo,,kamu dimana Setiap?" "di taman,,aku akan pulang sebentar lagi" "sebaiknya begitu,,kamu meninggalkan anak-anak sendirian di rumah" "tiiiiittttt" telpon mati begitu saja,, ternyata dia bukan mencari ku,, tetapi aku bersalah meninggalkan anak-anak di rumah,,lalu dia?? dia?? meninggalkan ku dan anak-anak tanpa penjelasan dan kata-kata adalah benar??? lalu dia yang diam dan berlalu adalah benar?? membiarkan aku menyelesaikan luka hatiku sendiri tanpa penjelasan dimana salahku adalah benar?? benarkah itu?? aku sungguh tak habis pikir... "hah" aku hanya mendesah dan mulai melangkahkan kakiku,,mungkin aku akan kembali,, setidaknya ada anak-anakku yang menungguku... Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN