1.4 Capek dan "Dia Baik"

1969 Kata
Adzan Dhuhur berkumandang saat Ryan, Radit, Harris, dan Devan memutuskan untuk berpisah. Mereka pulang dengan baju yang basah kuyup. Bahkan mereka tidak peduli dengan itu. Yang mengherankan adalah Ryan. Celana dan kaos rangkapannya basah. Namun, dia masih bisa tersenyum ceria sambil merentangkan lengannya lebar-lebar ke arah sahabatnya. "Ryan, jangan cari gara-gara!" Percuma saja Ella meninggikan suaranya dan berlari ke sana kemari untuk menghindar. Ryan lebih gesit. Dia pun berakhir tidak berdaya dalam dekapan lelaki itu yang tentu saja membuat seragamnya ikutan basah. Dia hampir menangis. "Kamu ngeselin banget! Nanti kalau dimarahin Mbak Dewi gimana?" Kekhawatirannya itu tidak raib begitu saja. Siapa pun, tolong keringkan seragam Ella sekarang juga. Dia terlampau parno dengan kakak perempuannya itu. "Jalan, yuk! Beli es. Sekalian ngeringin baju." Ryan sudah gila. Setelah hujan lebat yang mengguyur dirinya, sekarang dia mau minum es? "Dingin, Ry." Ella masih menyampirkan seragam Ryan di tangannya. Dia mengibas-ngibaskan seragamnya sendiri yang ikutan basah itu. "Es krim?" Ryan tahu kelemahan Ella dengan baik. "Mau! Hehehehe." Ryan memutar bola matanya. Dia menjepit hidung Ella dan menariknya pelan. "Kebiasaan!" Ella manyun. Dia memajukan bibir bawahnya. "Aku bawa uang, kok. Aku bayar sendiri." "Astaga, kamu kira aku sepelit itu?" "Mungkin saja, kan?" Dia mengedikkan bahu. "Ih, dasar!" Kali ini, Ryan menggetok kepala lawan bicaranya. "Ryan! Gak pakai nyakitin aku kenapa, sih?" "Kurang afdol." Ryan menjulurkan lidah dan mulai melangkah. Mau tidak mau Ella harus membuntut di belakangnya. "Kuat jalan muter sampai sekolah, kan?" Ella mengangguk. *** Ella salah. Seharusnya dia menggeleng saja saat ditanya kuat jalan muter ke sekolah atau tidak. Nyatanya, dia salah tangkap. Rasanya, dia ingin menangis sekarang. Ryan cukup membuatnya dongkol kali ini. Yang dimaksud Ryan adalah mengambil rute jalan yang lebih jauh. Agar apa? Agar baju dan celana yang dia kenakan bisa sekalian kering. Meskipun tidak akan kering seperti setelah dicuci dan dijemur, tapi setidaknya itu membantu untuk menjaga penampilannya saat di sekolah nanti. "Aku capek." Ella mengeluh untuk kesekian kalinya. Dia berhenti berjalan dan agak membungkuk untuk memijat lututnya. Ryan ngawur. Dia sudah tidak waras. Di saat becek begini, dia malah mengajak Ella berjalan memutari desa tempat sekolahnya berada. Es krim dan es yang mereka minum memang dibayar oleh Ryan. Tapi, membawa Ella berjalan lebih dari satu kilometer itu keterlaluan. "Biar kamu sehat, Ella sayang." Ryan mengulum senyumannya. Mengerjai Ella memang sangat membahagiakan. Penatnya langsung hilang walaupun nanti-nanti dia harus mengganti dengan traktiran es krim atau mi ayam lagi. Dia bersedia membayar dengan traktiran apa pun asalkan bisa melihat Ella manyun dan kesal seperti ini. "Sehat apanya, hah? Kamu yang kebiasaan olahraga, sih, enak-enak aja ngomong kayak gitu. Lah, aku?" Cemberut di wajah gadis itu tidak mungkin luntur begitu saja. Dia memerlukan berkeluh-kesah yang banyak, mumpung yang bersamanya adalah Ryan. "Yang ada nanti malam aku demam gimana? Kalau aku kecapekan terus sakit gimana? Belum lagi habis ini kalau kita ketahuan sama wali kelasku gimana? Ryan nyebelin, ih." Air matanya tak bisa dibendung lagi. Ella menangis. Ryan tertawa lebar. Ini yang dia suka. Mengerjai Ella hingga mengeluarkan air mata dan memeluknya di detik setelahnya. "Cup ... cup ... cup .., sayang." Lelaki itu mendekatkan dirinya ke Ella. Bajunya hampir kering. Makanya dia berani memeluk pundak gadis itu lagi. "Cup, sayang. Papa di sini." Dia menepuk-nepuk pundak Ella dengan lembut. "Papa gundulmu! Jangan ngaku-ngaku jadi papaku kalau nyiksa gini kerjaannya." Ella benar-benar terisak. Dia tak bisa menyembunyikan kekesalannya. Dari awal, saat Ryan merencanakan hal ini, dia sudah berusaha berpikir dengan sangat hati-hati dan memperhitungkan resiko. Ternyata perkiraannya benar, Ella menangis karena capek. Huft, dasar anak pingitan. Gadis itu akan keluar rumah hanya jika diajak oleh dirinya. Di rumahnya juga tidak ada alat gym. Tidak mungkin gadis itu biasa berjalan sejauh ini. "Naik becak, yuk!" bisik Ryan yang langsung mendapatkan cubitan di lengannya yang terangkat untuk menunjuk tukang becak di pertigaan sebelah utara. "Kok dicubit?" Dia mengusap-usap bekas cubitan yang memerah itu. "Gak mungkin, lah. Masa kamu mau balik ke sekolah naik begituan? Terlalu kelihatan. Belum lagi nanti disorakin anak-anak." "Ya, apa kita naik delman aja, noh." Kali ini Ryan menunjuk ke delman yang akan lewat di seberang jalan. Ella terkekeh. "Mau naik helikopter. Biar keren. Biar mantanku nyesel." "Emang situ punya mantan, Mbak?" Ella mulai tersenyum lebar. "Enggak. Jomblo asli, Mas." Mereka berdua tertawa lepas. Mudah sekali bukan meredakan kekesalan Ella? Hanya Ryan yang mampu dan ampuh untuk itu. Yang lain, pasti akan berpikir 127 kali terlebih dahulu untuk melakukan hal yang sama. Pun, Ella juga tak akan bisa selepas itu jika bersama orang lain. "Duduk di situ dulu, yuk. Daripada kaki kamu patah. Aku dituntut Om nanti," ajak Ryan yang langsung menggiring Ella untuk menuju pagar tembok selutut pinggir jalan. "Kotor, Ry." Ella melihat dengan teliti permukaan tembok yang masih sedikit basah dengan air hujan itu. Dia menggunakan tangannya untuk mengusapnya. "Eh ... eh .... Tangan cantiknya anak Papa jangan dipake buat yang kasar-kasar." Ryan segera membersihkan telapak tangan Ella dengan telapak tangannya sendiri. Entah, apa gunanya. Tentu saja itu tidak mencukupi. Ella memukul pundak Ryan. "Keras banget, sih. Heran. Malu sama tukang becak, astaga." Gadis itu menundukkan kepalanya, agak berbisik. "Nanti dikira apaan." Ryan melihat sekeliling. Benar yang dikatakan Ella. Lima tukang becak di sana sedang menoleh ke arah mereka. Tiga di antara mereka menggelengkan kepala. Dari gestur bibirnya, Ryan bisa menebak apa yang dituturkan oleh salah satu dari mereka, "Dasar anak muda." Ya, memang mereka berdua masih muda. "Gak papa. Mungkin bapak-bapak itu bakalan terbantu dengan keberadaan kita." "Terbantu apa?" "Mengenang masa muda yang indah. Ya ... kalau indah, sih. Kalau susah, aku gak tahu lagi bakalan kayak gimana." "Apa, sih, Ry. Random banget. Gak sopan banget ngatain orang yang lebih tua." Senyuman Ella lebih cerah, secerah matahari yang mulai menampakkan dirinya bulat-bulat sekarang. Sinarnya terasa hangat meski siang sedang berlangsung. Hujan menyelamatkan mereka dari kepanasan. Atau malah matahari menyelamatkan mereka dari kebasahan dan kedinginan? Entahlah, sekarang mereka harus sangat bersyukur. "Tadi, ngomong apa aja sama Nian?" Pertanyaan itu membuat Ella memincingkan matanya. Tentu saja itu membuat Ryan mengerutkan dahinya. "Kenapa?" "Kok, kamu iyain aja ajakan Kak Nian?" Pertanyaan itu sukses membuat Ryan membeku. Dia hampir tidak bisa menelan air es yang telah disedotnya. "Apa?" Serak. "Kak Nian kelihatan kalau lagi sakit banget. Mana tadi pas salaman kerasa banget dia demam. Kamu sama temen-temen kamu, kok, gak ngelarang dia buat ke sini? Batalin acaranya gitu, kek." Omelan Ella bisa saja lebih panjang. Gadis itu terpaksa menghela napas sebentar. Terasa aneh sekali kalau dia membela orang yang baru dikenalnya begini. "Oh, mulai khawatir sama cowok, nih." Ryan memulai jurusnya. "Ih, bukan gitu. Kasihan aja gitu, loh, Ry. Masa demam-demam harus kehujanan. Mana dingin banget." Ryan tersenyum. "Orang dia yang maksa." "Ya, meskipun. Masa Kak Radit, Kak Harris, sama Kak Devan gak tahu kalau Kak Nian lagi sakit?" "Bukannya gak tahu. Niannya aja yang kekeh mau ketemu." Ryan memberikan jeda dalam konfersasinya. "Pengin kenalan sama kamu." Wajah Ella memanas. "Jangan mulai canda kek gitu. Gak lucu." "Tapi sukses bikin kamu malu. Iya, kan?" "Dih," decih Ella yang diberi tawa oleh Ryan. "Udah gak capek? Ayo lanjut lagi. Tinggal beberapa belokan terus sampai ke sekolah." Ella memandang sahabatnya itu dengan tatapan yang dipincingkan. "Yang bener aja beberapa belokan. Gak tahunya muter satu kampung lagi." Dia menggerutu. Mungkin kepercayaannya kepada Ryan saat ini sedang menurun. "Enggak. Beneran, kok, tinggal empat atau tiga belokan lagi. Gak jauh. Palingan empat ratus meter." Lalu lelaki itu tertawa sambil berlari menghindari pelototan mata Ella. Jangan lupa, Ella juga tidak bisa menahan tangannya jika bersama Ryan. "Kamu rese." Hampir Ella berteriak kalau saja otaknya tidak langsung teringat dengan lirikan bapak-bapak becak di sana. Mereka pun berjalan lagi untuk kembali ke sekolah. Kalau kalian bertanya tentang seragam Ryan, ya, dari tadi seragam putih tak berdosa itu harus dibawa ke sana kemari di lengan Ella. Gadis itu tidak protes untuk itu. Toh, selama ini mereka sudah saling merawat satu sama lain. "El," panggil Ryan setelah menyeruput esnya yang tinggal sedikit itu. Ella menoleh. "Apa?" "Kamu belum jawab pertanyaanku tadi." "Pertanyaan yang mana?" "Kamu ngomong apa aja sama Nian?" "Oh, itu. Aku diajak kenalan lagi sama Kak Nian tadi. Udah gitu aja." Ryan mengangguk melihat reaksi yang diberikan Ella. "Nian ganteng, ya?" "Apaan, sih?" Ella mendorong sisi lengan Ryan yang ada di sampingnya. Pertanyaannya terlalu tiba-tiba. "Maksud aku, dari Radit, Harris, Devan, dan Nian ... Nian yang paling ganteng. Iya, kan?" Ella tersenyum di kulum. Lalu, dia mengangguk. Persis seperti anak muda yang lain saat ditanya tentang Nian. Ryan juga sering melihat gadis-gadis yang bereaksi sama saat mengetahui Nian. Ketampanan temannya itu tidak bisa dipungkiri. Dia saja yang sama-sama lelaki mengakuinya. "Udah cuma itu?" "Enggak, sih. Tadi Kak Nian juga minta nomer telepon aku." Ella merapatkan bibirnya dan agak mengedarkan pandangannya. "Hmmm, Kak Nian emang frontal banget, ya, orangnya?" Dia berhati-hati dalam berbicara. "Dia orang baik, kok. Baik banget malah. Cuma dia ... ngomong gak, ya?" "Apaan? Jangan bikin penasaran." Ryan tertawa. "Bukan apa-apa, kok. Dia tuh agak ambisius aja. Udah cuma itu. Tapi, beneran. Dia baik, El. Kamu terima aja tawaran dari dia. It's okay." "Tapi, aku, kan, baru kenal." "Ya, kalau gak dibiasain mana bisa kenal banget? Inget waktu pertama kali aku ngajak kamu kenalan dulu?" "Gimana aku bisa lupa." "Nah, seperti itu juga kali ini. Kalau kamu gak membuka diri, ya, gimana bisa semakin kenal sama orang." "Harus, ya?" "Mau cuma sekedar tahu doang kayak yang udah-udah? Atau kamu mau menambah jumlah kenalan yang emang orangnya bakalan kamu kenal kayak aku gini? Ya, mungkin gak sejauh aku, tapi paling enggak kamu tahu gak sekedar nama gitu, lah." Ella terdiam sejenak. Itu adalah langkah besar dalam hidupnya jika dia mengikuti anjuran Ryan tersebut. Hal itu hanya pernah dia lakukan kepada Ryan. Hanya sekali dalam hidupnya dia membuka diri kepada orang lain. Apakah dia harus melakukannya lagi? "Kamu bosen sama aku, ya?" Pertanyaan itu membuat Ryan mengerutkan dahinya. Kemudian dia sadar dengan apa yang sedang berlangsung saat melihat wajah Ella. "Aku gak bosen. Kalau aku harus mengurus kamu seumur hidup, akan aku sanggupi, El. Itu yang pernah aku katakan kepada Om. Kamu inget, kan? Hanya saja, aku ingin kamu mulai bisa menerima kehadiran orang lain di hidupmu. Kita gak tahu kedepannya bakalan bagaimana. Iya, kan?" Ella tetap menunduk di setiap langkahnya. "Kamu mau ninggalin aku?" "Kalau itu yang ingin aku lakukan, bakalan udah aku lakukan di awal tahun pelajaran, El." Ryan menarik pundak Ella agar semakin dekat dengan dirinya, menghindari kendaraan bermotor yang lumayan kebut-kebutan di jalan. Kemudian, dia memosisikan dirinya di sebelah jalan pas, agar Ella aman. "Kamu juga lihat waktu Mamaku nentang aku sekolah satu tempat sama kamu sampai mau marah-marah. Kamu yakin aku bakalan ninggalin kamu gitu aja?" Ryan tidak melepaskan pandangannya dari Ella. Reaksi gadis itu sangat penting baginya sekarang. Ella menggeleng. "Maaf, aku udah buruk sangka lagi ke kamu." Kepala gadis itu diusak. "Udah biasa, sih, disangka buruk sama kamu. Kayaknya aku gak bakalan sakit hati lagi kali ini." Ryan meluruskan kepalanya. Kedua tangannya dimasukkan ke saku. Ella mengangkat wajahnya dan langsung menoleh ke arah Ryan. Lelaki itu melirik dan tersenyum dengan gummy smile-nya. "Makanya, jangan suka overthiking." Gadis itu tidak menjawabi lagi. Memang dia overthiking. Dia tidak akan memprotes itu. Banyak kali dia mendengarkan itu dari Ryan. Namun, sangat sulit baginya untuk berhenti. "Jadi, kamu boleh aja, kok, lebih kenal sama Nian. Dia anak baik." "Kamu ngulang itu berkali-kali, Ry. Iya. Iya, dia anak baik." "Hahahahaha. Aku gak mau kamu ragu aja kalau mau melangkah karena pikiran kamu yang enggak-enggak. Mekanya aku bilang terus kalau Nian orangnya baik." "Iya. Iya. Kak Nian baik." Ryan meraih kepala Ella dan mengempitnya sejenak dengan elusan di rambut gadis itu. Dia menghela napas dalam nan lega. Entah seakan satu beban bisa terlepas darinya. Tidak. Kalau kalian mengira Ella adalah beban bagi Ryan, kalian salah besar. Ini tak seperti yang kalian pikirkan. Hanya Ryan yang tahu betul beban apa yang dimaksudkan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN